P Mas Yudi ..!!!
Assalamu'alaikum ..... Selamat Datang di Blog Anak Desa ...

Beranda

Sabtu, 11 September 2021

KONFLIK SOSIAL

HAKIKAT DAN TEORI KONFLIK SOSIAL

Tujuan Pembelajaran

Setelah kegiatan pembelajaran 1 ini diharapkan kalian dapat menjelaskan dengan baik mengenai definisi konflik sosial, faktor-faktor penyebab terjadinya konflik sosial di dalam masyarakat, dan teori-teori yang membahas tentang terjadinya konflik sosial.

Keadaan masyarakat yang beraneka ragam dapat memicu terjadinya konflik. Konflik dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan yang dibawa oleh individu pada saat berinteraksi seperti perbedaan ciri fisik, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan dan lain sebagainya. Tahukah kalian, apa yang dimaksud dengan konflik sosial? Berikut penjelasan lebih jelas mengenai konflik sosial.



1. Definisi Konflik Sosial

Konflik sosial yang terjadi di masyarakat sangat beragam, baik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok. Konflik berasal dari Bahasa Latin, yaitu configure yang artinya saling memukul.

Beberapa pendapat ahli tentang definisi konflik sosial antara lain:

a. Soerjono Soekanto

Konflik adalah suatu proses sosial individu atau kelompok manusia berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai ancaman dan/atau kekerasan.

b. Robert M.Z. Lawang

Konflik adalah perjuangan untuk memperoleh nilai, status, dan kekuasaan di mana tujuan mereka tidak hanya memperoleh keuntungan, tetapi juga untuk menundukkan saingannya.

c. Berstein

Konflik adalah suatu pertentangan atau perbedaan yang tidak dapat dicegah. Konflik ini dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif saat melakukan interaksi dengan orang lain.

d. Ensiklopedia Nasional Indonesia

Menguraikan bahwa konflik muncul karena adamya benturan antara dua unsur dalam masyarakat yang mengharuskan salah satunya berakhir.

Dalam konflik sosial terdapat beberapa pandangan yang dikemukakan oleh para tokoh. Pandangan tersebut berusaha mengidentifikasi konflik sosial. Beberapa pandangan mengenai konflik sosial yang dikutip dari Haryanto (2011) dapat kalian baca pada penjelasan selanjutnya.

a. Robbin

Robbin memandang konflik menjadi tiga bagian. Ketiga bagian tersebut antara lain:

1) Pandangan Tradisional

Pandangan ini menjelaskan bahwa konflik merupakan hal yang buruk, bersifat negatif, merugikan, dan harus dihindari. Konflik ini merupakan hasil disfungsional akibat komunikasi yang kurang baik dan kurang keterbukaan antara individu dalam masyarakat.

2) Pandangan Hubungan Manusia

Pandangan ini menyatakan bahwa konflik dianggap sebagai suatu peristiwa yang wajar terjadi dalam kelompok atau organisasi di masyarakat. Dalam kelompok atau organisasi pasti terjadi perbedaan yang dapat memicu terjadinya konflik. Oleh karena itu konflik harus dijadikan motivasi untuk melakukan perubahan dalam suatu kelompok atau organisasi.

3) Pandangan Interaksionis

Pandangan ini cenderung mendorong munculnya konflik dalam kelompok atau organisasi. Menurut pandangan ini, konflik perlu dipertahankan untuk menumbuhkan sikap kritis, kreatif, dan semangat dalam sebuah kelompok atau organisasi.

b. Stoner dan Freeman

Stoner dan Freeman memberikan dua pandangan mengenai konflik sosial yaitu:

1) Pandangan Tradisional

Pandangan ini menganggap bahwa konflik dapat dihindari dengan cara meminimalisasikan munculnya konflik dalam sebuah kelompok atau organisasi.

2) Pandangan Modern

Pandangan ini menjelaskan bahwa konflik tidak dapat dihindari. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti strustur organisasi, perbedaan tujuan, perbedaan persepsi, nilai-nilai, dan sebagainya.

c. Myers

Menurut Myers pandangan terhadap konflik sosial dibagi menjadi dua, yaitu:

1) Pandangan Tradisional

Pandangan ini menganggap konflik sebagai sesuatu yang buruk dan harus dihindari. Dalam pandangan ini menghindari adanya konflik karena dinilai sebagai faktor penyebab pecahnya suatu kelompok atau organisasi.

2) Pandangan Kontemporer

Pandangan ini menganggap konflik merupakan suatu yang tidak dapat dihindari sebagai konsekuensi adanya interaksi manusia.


2. Faktor Penyebab Terjadinya Konflik Sosial

Penyebab terjadinya konflik sosial dalam masyarakat dilatarbelakangi beberapa faktor, diantaranya:

a. Adanya perbedaan antarindividu

b. Adanya perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi yang berbeda-beda.

c. Adanya perbedaan kepentingan antara individu dengan kelompok.


C. Teori-teori Konflik Sosial

1. Teori Konflik Menurut Lewis A. Coser

Menurut Coser, konflik yang terjadi di masyarakat dikarenakan adanya kelompok lapisan bawah yang semakin mempertanyakan legitimasi dari keberadaan distribusi sumber-sumber langka (Ranjabar, 2013). Coser menilai bahwa konflik tidak selalu bersifat negatif, namun konflik dapat mempererat dan menjalin kerukunan dalam suatu kelompok.

Suatu kelompok dapat berlangsung lama atau cepat dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dikutip dari Ranjabar (2013), ada tiga faktor yang mempengaruhi lama tidaknya suatu konflik di masyarakat, yaitu:

a. Luas sempitnya tujuan konflik
b. Adanya pengetahuan maupun kekalahan dalam konflik
c. Adanya peranan pemimpin dalam memahami biaya konflik dan persuasi pengikutnya.

Konflik dapat menjaga hubungan antarkelompok dan memperkuat kembaliidentitas kelompok. Adapun manfaat konflik menurut Coser adalah:

a. Konflik dapat menjadi media untuk berkomunikasi.
b. Konflik dapat memperkuat solidaritas kelompok.
c. Konflik dengan kelompok lain dapat menghasilkan solidaritas di dalam kelompok tersebut dan               solidaritas tersebut dapat mengantarkan kepada aliansi dengan kelompok lain.
d. Konflik menyebabkan anggota masyarakat yang terisolasi menjadi berperan aktif.

Coser mengelompokkan konflik sosial menjadi dua macam, yaitu konflik realistis dan konflik non-realistis.

a. Konflik Realistis

Dalam Kamus Sosiologi (Haryanta, 2012), konflik realistis ialah konflik yang berasal dari kekecewaan individua atau kelompok atas tuntutan maupun perkiraan- perkiraan keuntungan yang terjadi dalam hubungan sosial. Contoh konflik realistis, misalnya para karyawan yang melakukan pemogokan kerja melawan manajemenperusahaan sebagai aksi menuntut kenaikan gaji.

b. Konflik Non-Realistik

Konflik non-realistis merupakan konflik yang bukan berasal dari tujuan-tujuan saingan yang bertentangan, melainkan dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan (Haryanta, 2012). Sebagai contoh konflik non-realistis ialah pada masyarakat buta huruf ada ilmu gaib yang digunakan untuk melakukan pembalasan.

2. Teori Konflik Menurut Karl Marx

Karl Marx memiliki pandangan tentang konflik sosial sebagai pertentangan kelas. Masyarakat yang berada dalam konflik dikuasai oleh kelompok dominan. Adanya pihak yang lebih dominan muncul pihak yang berkuasa dengan pihak yang dikuasai. Kedua pihak tersebut memiliki kepentingan yang berbeda atau bertentangan sehingga dapat menimbulkan konflik.

Fakta-fakta menurut pandangan teori Karl Marx (Ranjabar, 2013) antara lain:

a. Adanya struktur kelas dalam masyarakat
b. Adanya kepentingan ekonomi yang saling bertentangan di antara orang-orang yang berada dalam kelas yang berbeda.
c. Adanya pengaruh yang besar dilihat dari kelas ekonomi terhadap gaya hidup seseorang.
d. Adanya berbagai pengaruh dari konflik kelas dalam menimbulkan perubahan struktur sosial.

Karl Marx dikutip dari Haryanto (2011), menguraikan tentang adanya kelas objektif. Kelas ini dapat dibagi atas kepentingan manifes dan kepentingan laten. Oleh karena itu, setiap sistem sosial harus dikoordinasi dan mengandung kepentingan laten yang sama. Kelompok tersebut biasa dikenal dengan istilah kelompok semu. Dalam Kamus Sosiologi (Haryanta, 2012), kelompok semu adalah kelompok yang terdiri atas orang-orang yang sifatnya sementara, tanpa struktur, ikatan, kesadaran, dan aturan. Kelompok semu ini terdiri atas kelompok yang menguasai dan kelompok yang dikuasai.

3. Teori Konflik Menurut Ralf Dahrendorf

Bagaimana pendapat Dahrendorf mengenai konflik sosial? Pada awalnya, Dahrendorf melihat teori konflik sebagai teori parsial yang digunakan untuk menganalisis fenomena sosial. Dahrendorf melihat masyarakat memiliki dua sisi yang berbeda, yaitu konflik dan kerja sama. Berdasarkan pemikiran tersebut, Dahrendorf menyempurnakan dan menganalisis dengan fungsionalisme struktural, agar mendapat teori konflik yang lebih baik.

Dehrendorf menggunakan teori perjuangan kelas Marxian untuk membangun teori kelas dan pertentangan kelas dalam masyarakat industri kontemporer. Perjuangan kelas dalam masyarakat moderen berada pada pengendalian kekuasaan. Dehrendorf mengkomunikasikan pemikiran fungsional mengenai struktur dan fungsi masyarakat dengan teori konflik antarkelas sosial. Dehrendorf tidak memandang masyarakat sebagai sebuah hal yang statis, namun dapat berubah oleh adanya konflik dimasyarakat.


Rangkuman

Konflik dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan yang dibawa oleh individu pada saat berinteraksi seperti perbedaan ciri fisik, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan dan lain sebagainya.

Konflik berasal dari Bahasa Latin, yaitu configure yang artinya saling memukul.

Berikut beberapa ahli yang mendefinisikan tentang konflik.

a. Soerjono Soekanto
b. Robert M.Z. Lawang
c. Berstein

Dalam konflik sosial terdapat beberapa pandangan yang dikemukakan oleh para tokoh. Pandangan tersebut berusaha mengidentifikasi konflik sosial. Adapun pandangan tentang konflik sosial yang dikutip dari Haryanto (2011) adalah sebagai berikut:

a. Robbin

Robbin memandang konflik menjadi tiga bagian, yaitu:

1) Pandangan Tradisional : Pandangan ini menjelaskan bahwa konflik merupakan hal yang buruk, bersifat negatif, merugikan, dan harus dihindari.

2) Pandangan Hubungan Manusia : Pandangan ini menyatakan bahwa konflik dianggap sebagai suatu peristiwa yang wajar terjadi dalam kelompok atau organisasi di masyarakat.

3) Pandangan Interaksionis : Pandangan ini cenderung mendorong munculnya konflik dalam kelompok atauorganisasi.

b. Stoner dan Freeman

Stoner dan Freeman membagi pandangan konflik menjadi sebagai berikut:

1) Pandangan Tradisional : Pandangan ini menganggap bahwa konflik dapat dihindari dengan carameminimalisasikan munculnya konflik dalam sebuah kelompok atau organisasi.

2) Pandangan Modern

Pandangan ini menjelaskan bahwa konflik tidak dapat dihindari.

c. Myers

Menurut Myers, pandangan terhadap konflik dapat dibagi menjadi dua. Kedua pandangan tersebut adalah sebagai berikut:

1) Pandangan Tradisional : Pandangan ini menganggap konflik sebagai sesuatu yang buruk dan harus dihindari.

2) Pandangan Kontemporer : Pandangan ini menganggap konflik merupakan suatu yang tidak dapat dihindari sebagai konsekuensi adanya interaksi manusia.

Secara umum, konflik sosial dapat disebabkan oleh beberapa hal berikut:

a. Adanya perbedaan antarindividu
b. Adanya perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi yang berbeda-beda.
c. Adanya perbedaan kepentingan antara individu dengan kelompok.

Menurut Coser, konflik yang terjadi di masyarakat dikarenakan adanya kelompok lapisan bawah yang semakin mempertanyakan legitimasi dari keberadaan distribusi sumber-sumber langka (Ranjabar,2013). Tiga faktor yang mempengaruhi lama tidaknya suatu konflik di masyarakat, yaitu sebagai berikut

a. Luas sempitnya tujuan konflik sosial
b. Adanya pengetahuan maupun kekalahan dalam konflik
c. Adanya peranan pemimpin dalam memahami biaya terjadinya konflik dan persuasi pengikutnya.

Konflik dapat menjaga hubungan antarkelompok dan memperkuat Kembali identitas kelompok. Adapun manfaat konflik menurut Coser, adalah sebagai berikut:

a. Konflik dapat menjadi media untuk berkomunikasi.
b. Konflik dapat memperkuat solidaritas kelompok.
c. Konflik dengan kelompok lain dapat menghasilkan solidaritas di dalam kelompok tersebut dan solidaritas tersebut dapat mengantarkan kepada aliansi dengan kelompok lain.
d. Konflik dapat menyebabkan anggota masyarakat yang terisolasi menjadi berperan aktif.

Coser mengelompokkan konflik sosial menjadi dua macam, yaitu konflik realistis dan konflik non-realistis.

a. Konflik Realistis
b. Konflik Non-Realistik

Karl Marx memiliki pandangan tentang konflik sosial sebagai pertentangan kelas. Masyarakat yang berada dalam konflik dikuasai oleh kelompok dominan. Dalam teori Karl Marx dikutip dari Ranjabar (2013) terdapat beberapa fakta sebagai berikut:

a. Adanya struktur kelas dalam masyarakat
b. Adanya kepentingan ekonomi yang saling bertentangan di antara orang-orang yang berada dalam kelas yang berbeda.
c. Adanya pengaruh yang besar dilihat dari kelas ekonomi terhadap gaya hidup seseorang.
d. Adanya berbagai pengaruh dari konflik kelas dalam menimbulkan perubahan struktur sosial.

Dahrendorf melihat teori konflik sebagai teori parsial yang digunakan untuk menganalisis fenomena sosial. Dahrendorf melihat masyarakat memiliki dua sisi yang berbeda, yaitu konflik dan kerja sama. Dehrendorf menggunakan teori perjuangan kelas Marxian untuk membangun teori kelas dan pertentangan kelas dalam masyarakat industri kontemporer. Perjuangan kelas dalam masyarakat moderen berada pada pengendalian kekuasaan.

STRATIFIKASI SOSIAL



STRATIFIKASI SOSIAL DAN DINAMIKA MASYARAKAT DALAM KEBERAGAMAN

Tujuan Pembelajaran

Setelah kegiatan pembelajaran 3 ini diharapkan ananda mampu menjelaskan stratifikasi sosial dan dinamika masyarakat dalam keberagaman.


1. Pengertian Stratifikasi sosial

Stratifikasi sosial adalah pembedaan masyarakat/penduduk kedalam kelas-kelas secara bertingkat-tingkat (hierarkis). Pelapisan sosial merupakan terjemahan dari Sosial Stratification. Kata stratification berasal dari kata stratum yang artinya tingkatan. Para ahli yang memberikan pengertian tentang stratifikasi sosial antara lain :

a. Paul B. Horton dan Chester L. Hunt

Stratifikasi sosial berarti sistem perbedaan status yang berlaku dalam suatu masyarakat.

b. Pitirim A. Sorokin

Stratifikasi sosial merupakan ciri yang tetap pada setiap kelompok sosial yang teratur. Lebih lanjut beliau mengatakan stratifikasi sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat.

c. Robert MZ. Lawang

Stratifikasi sosial adalah penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hierarkis menurut dimensi kekuasaan, previlese dan prestise.

d. Bruce J. Cohen

Stratifikasi sosial adalah sistem yang menempatkan seseorang sesuai dengan kualitas yang dimiliki dan menempatkan mereka pada kelas sosial yang sesuai.

2. Dasar-dasar stratifikasi dalam masyarakat

Dasar stratifikasi dalam masyarakat disebabkan oleh adanya sesuatu yang dihargai lebih. Dasar atau ukuran yang umumnya dipakai untuk menggolongkan anggota masyarakat kedalam suatu pelapisan sosial adalah sebagai berikut :

a. Ukuran Kekayaan

Barang siapa yang memiliki kekayaan paling banyak, termasuk dalam lapisan teratas. Kekayaan tersebut, misalnya, dapat dilihat pada bentuk rumah yang bersangkutan, mobil pribadinya, cara menggunakan pakaian, kebiasaan berbelanja dan lain-lain.

b. Ukuran Kekuasaan

Barang siapa yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar, menempati lapisan atas. Dalam hal ini dapat dicontohkan dengan kehidupan para raja, dimana mereka memiliki kekuasaan yang absolut, sehingga raja dan keluarga atau keturunannya selalu berada pada lapisan atas, dalam kehidupannya. Di samping raja dapat juga diambil contoh para kepala negara, yang meskipun mereka dipilih oleh rakyatnya secara demokratais, tetapi kekuasaan itu akan melekat secara otomatis pada diri para pemimpin negara.

c. Ukuran Kehormatan

Orang yang paling disegani atau dihormati , mendapat tempat yang teratas. Ukuran semacam ini banyak dijumpai pada masyarakat-masyarakat tradisional. Biasanya yang mendapat tempat diatas adalah golongan tua atau mereka yang pernah berjasa. Demikian juga para pemimpin agama, mereka sangat dihormati oleh umatnya, bahkan perilakunya dijadikan sebagai suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian para rohaniawan secara umum berada pada lapisan atas karena kehormatan.

d. Ukuran Ilmu Pengetahuan/Pendidikan

Ilmu pengetahuan sebagai ukuran dipakai oleh masyarakat yang meng-hargai ilmu pengetahuan. Tetapi kadang kadang-kadang ukuran tersebut menyebabkan terjadinya hal-hal yang negatif. Karena ternyata yang dijadikan ukuran bukan ilmu pengetahuannya melainkan gelar kesarja-nannya.

Dampaknya ada-lah segala macam cara akan ditempuh untuk mengejar gelar tersebut walau dengan cara-cara yang tidak benar. Ukuran-ukuran di atas tidaklah bersifat Terbatas (limitatif), karena masih banyak ukuran-ukuran lain yang dapat digunakan, Tetapi ukuran-ukuran di atas sangat menentukan sebagai dasar timbulnya sistem lapisan dalam masyarakat.

3. Sifat – sifat stratifikasi sosial

Secara umum sifat yang ada dalam stratifikasi sosial adalah sebagai berikut :

a. Bersifat tertutup

Startifikasi dengan sifat yang tertutup membatasi seseorang untuk berpindah dari satu lapisan ke lapisan yang lain, baik pindah ke atas maupun ke bawah. Satu-satunya jalan untuk menduduki lapisan tersebut hanya melalui kelahiran. Contohnya pada masyarakat yang menganut sistem kasta, masyarakat feodal dan masyarakat yang menggunakan ciri-ciri fisik sebagai ukuran lapisan seorang individu.

b. Bersifat terbuka

Dalam sistem pelapisan yang bersifat terbuka, setiap anggota masyarakat memiliki kesempatan untuk menduduki lapisan yang paling atas. Dalam lapisan yang demikian setiap individu termotivasi untuk mencapai keinginannya sesuai dengan kemampuan dirinya. Dengan demikian kompetisi akan terjadi dan pembangunan lebih cepat berjalan.

c. Bersifat campuran

Dalam sistem yang bersifat campuran akan kita jumpai dalam masyarakat bahwa untuk hal-hal tertentu menggunakan sistem tertutup sementara pada hal yang lain menggunakan sistem terbuka. Contoh sederhana adalah masyarakat Bali yang masih menganut sistem kasta dalam kehidupan sosial budayanya, namun dalam bidang ekonomi siapa saja boleh berkompetisi. Artinya di sini terjadi keterbukaan dalam bidang ekonomi tanpa memandang seseorang berasal dari kasta apa.


4. Bentuk – bentuk startifikasi sosial

Ada dua bentuk stratifikasi sosial dalam masyarakat yang dapat kita lihat yaitu :

a. Sistem Kasta

Menurut Lumberg kasta adalah suatu kategori di mana para anggotanya ditunjuk dan ditetapkan pada status yang permanen dalam hierarki sosial yang diberkan, serta hubungan-hubungannya dibatatsi sesuai dengan statusnya.

Sistem kasta adalah bentuk stratifikasi sosial yang memberikan garis secara jelas antara satu lapisan dengan lapisan yang lain dan sifatnya sangat kaku. Dalam pelapisan dengan menggunakan sistem kasta mutu pribadi sama sekali tidak diperhitungkan. Seseorang menduduku lapisan tertentu semata- mata hanya karena ia memiliki orang tua yang telah berada pada lapisan yang tertentu tersebut. Salah satu masyarakat yang masih menganut sistem kasta adalah India.

Dalam bentuk aslinya, kasta di India terdiri atas empat kategori yaitu seperti berikut :

1. Brahmana, yaitu kastanya para pendeta dan pemimpin agama
2. Ksatria, yaitu kastanya para militer/ tentara serta para pejuang
3. Waisya, yaitu kastanya para pedagang, petani dan pekerja cantor.
4. Sudra, yaitu kastanya para pembantu rumah tangga dan buruh tani


Selain empat kelompok kasta di atas masih ada lagi yang disebut dengan “harijans”. Mereka yang termasuk dalam kelompok ini adalah individu yang berada di luar kasta atau kaum orang miskin. Dalam setiap kasta ada lagi subkasta yang jumlahnya sangat banyak.

b. Sistem kelas

Dalam startifikasi dengan sistem kelas lebih berifat dinamis dan fleksibel. Kelas sosial bukanlah warisan dari keluarga, karena setiap individu dapat memperolehnya dengan suatu usaha yang benar-benar. Dalam sistem kelas perubahan lapisan antara satu orang dengan orang lain sangat bervariasi dan bersifat terbuka. Seseorang yang pada waktu tertentu dalam posisi di atas mungkin suatu saat dia akan menempati urutan yang paling bawah akibat kepandaian dan kecerdasan orang lain yang mampu menyaingi dirinya. Pembagian kelas pada umumnya di dasarkan pada kriteria ekonomi, sosial maupun politik.

5. Makna Keragaman

Bagaimana keragaman manusia yang merupakan kenyataan yang tidak perlu dipermasalahkan, sehingga kesetaraan antar manusia akan mengantarkan hidup manusia menjadi enak (tentram, senang hati). Persatuan dan kesatuan bangsa yang terwujud dari sejumlah suku bangsa yang semula merupakan masyarakat yang berdiri sendiri dan mendukung kebudayaan yang beraneka ragam itu perlu diperkokoh dengan kerangka acuan yang bersifat nasional, yaitu kebudayaan nasional.

Suatu kebudayaan yang memberikan makna bagi kehidupan berbangsa dan berkepribadian, akan dapat dibanggakan sebagai identitas nasional. Akan tetapi dalam masyarakat majemuk dengan keragaman latar belakang kebudayaan seperti yang terjadi di Indonesia tidaklah mudah untuk mengembangkan suatu kebudayaan nasional hanya dengan mengandalkan pada kemampuan dan kemapanan masyarakat semata.

Meskipun menurut sejarah, masyarakat Indonesia relatif berasal dari nenek moyang yang sama, tetapi karena keadaan geografiknya, akhirnya masyarakat Indonesia bersifat majemuk. Kondisi geografis yang menjadi penyebab kemajemukan masyarakat, adalah:

1. Bentuk wilayah yang berupa kepulauan. Kondisi ini mengakibatkan, meskipun berasal dari nenek moyang yang sama, tetapi akhirnya mereka terpisah-pisah di berbagai pulau yang saling berbeda, sehingga masing-masing terisolasi dan mengembangkan kebudayaan sendiri. Jadilah masyarakat Indonesia mengalami kemajemukan ethnik atau suku bangsa.

2. Letak wilayah yang strategis, di antara dua benua dan dua samudera, kondisi ini mengakibatkan Indonesia banyak didatangi oleh orang-orang asing yang membawa pengaruh unsur kebudayaan, antara lain yang paling menonjol adalah agama. Kondisi ini mengakibatkan masyarakat Indonesia majemuk dalam hal agama. Lima agama besar dunia ada di Indonesia ditambah dengan agama lainnya.

3. Variasi iklim, jenis serta kesuburan tanah yang berbeda di antara beberapa tempat, misalnya daerah Indonesia bagian Timur yang lebih kering, tumbuh menjadi suku bangsa peternak, daerah Jawa dan Sumatra yang dipengaruhi vulkanisme tumbuh menjadi daerah dengan masyarakat yang hidup dari bercocok tanam. Variasi iklim dan jenis serta kesuburan tanah ini mengakibatkan masyarakat Indonesia majemuk dalam hal kultur, antara lain cara hidup.

Seperti yang kita tahu ananda, di Indonesia terdapat berbagai macam kebudayaan yang berasal dari hampir seluruh suku bangsa. Coba ananda renungkan, Hal ini apakah memungkinkan terwujud sebagai masyarakat multikultural? Syarat terwujudnya masyarakat multikultural adalah apabila warganya dapat hidup berdampingan, toleransi dan saling menghargai. Nilai- nilai tersebut harus dijadikan pedoman untuk bertindak, baik dalam bidang sosial, ekonomi, politik maupun tindakan individual. Seluruh kebudayaan lokal yang berasal dari kebudayaan beraneka ragam suku-suku di Indonesia adalah merupakan bagian integral daripada kebudayaan Indonesia.


Rangkuman

Stratifikasi sosial adalah penggolongan atau pembedaan masyarakat secara vertikal, yaitu penggolongan masyarakat kedalam kelas-kelas secara bertingkat- tingkat (hierarkis) dari status yang di sandangnya.

Dasar stratifikasi dalam masyarakat disebabkan oleh adanya sesuatu yang dihargai lebih. Dasar atau ukuran yang umumnya dipakai untuk menggolongkan anggota masyarakat kedalam suatu pelapisan sosial adalah ukuran kekayaan, ukuran kekuasaan, ukuran kehormatan, dan ukuran ilmu pengatahuan/pendidikan.

Secara umum sifat yang ada dalam stratifikasi sosial adalah sebagai berikut :

  1. Bersifat tertutup, Startifikasi dengan sifat yang tertutup membatasi seseorang untuk berpindah dari satu lapisan ke lapisan yang lain, baik pindah ke atas maupun ke bawah.
  2. Bersifat terbuka, Dalam sistem pelapisan yang bersifat terbuka, setiap anggota masyarakat memiliki kesempatan untuk menduduki lapisan yang paling atas.
  3. Bersifat campuran, Dalam sistem yang bersifat campuran akan kita jumpai dalam masyarakat bahwa untuk hal-hal tertentu menggunakan sistem tertutup sementara pada hal yang lain menggunakan sistem terbuka.

Ada dua bentuk stratifikasi sosial dalam masyarakat yang dapat kita lihat yaitu :

1. Sistem Kasta

Sistem kasta adalah bentuk stratifikasi sosial yang memberikan garis secara jelas antara satu lapisan dengan lapisan yang lain dan sifatnya sangat kaku.

Salah satu masyarakat yang masih menganut sistem kasta adalah India. Dalam bentuk aslinya, kasta di India terdiri atas empat kategori yaitu seperti berikut :

a. Brahmana, yaitu kastanya para pendeta dan pemimpin agama
b. Ksatria, yaitu kastanya para militer/ tentara serta para pejuang
c. Waisya, yaitu kastanya para pedagang, petani dan pekerja cantor.
d. Sudra, yaitu kastanya para pembantu rumah tangga dan buruh tani

2. Sistem kelas

Dalam stratifikasi dengan sistem kelas lebih berifat dinamis dan fleksibel. Kelas sosial bukanlah warisan dari keluarga, karena setiap individu dapat memperolehnya dengan suatu usaha yang benar-benar. Dalam sistem kelas perubahan lapisan antara satu orang dengan orang lain sangat bervariasi danberisfat terbuka.


Makna Keragaman

Persatuan dan kesatuan bangsa yang terwujud dari sejumlah suku bangsa yang semula merupakan masyarakat yang berdiri sendiri dan mendukung kebudayaan yang beraneka ragam itu perlu diperkokoh dengan kerangka acuan yang bersifat nasional, yaitu kebudayaan nasional.

Kondisi geografik yang menjadi penyebab kemajemukan masyarakat, adalah:

a. Bentuk wilayah yang berupa kepulauan.
b. Letak wilayah yang strategis,
c. Variasi iklim, jenis serta kesuburan tanah yang berbeda di antara beberapa tempat.



Kamis, 09 September 2021

DIFERENSIASI SOSIAL



DIFERENSIASI SOSIAL

Tujuan Pembelajaran

Setelah kegiatan pembelajaran 2 ini, diharapkan Ananda mampu mendeskripsikan deferensiasi sosial di masyarakat.


1. Pengertian Diferensiasi Sosial

Diferensiasi adalah pembedaan masyarakat dalam kelompok-kelompok sosial secara horizontal (dimensi Horizontal). Wujud dari diferensiasi sosial adalah penggolongan masyarakat kedalam kelompok-kelompok tertentu namun tidak secara hierarkis (Bertingkat). Diferensiasi sosial menunjukkan kemajemukan dan heterogenitas sosial masyarakat. Hal tersebut mencakup ras, etnis, klen, agama, pekerjaan, jenis kelamin dll.

2. Jenis-jenis Diferensiasi Sosial

Dilihat dari jenisnya diferensiasi sosial terdiri dari :

a. Diferensiasi tingkatan (rank diferentiation)

Diferensiasi ini muncul karena adanya ketimpangan distribusi barang atau sesuatu yang dibutuhkan namun jumlahnya sangat terbatas. Minyak tanah menjadi barang yang tidak semua orang dapat memilikinya. Hal ini menyebabkan perbedaan-perbedaan yang diakibatkan oleh kemampuan individu untuk memilikinya. Demikian juga dengan kepemilikan logam mulia seperti emas, hanya orang – orang yang secara ekonomi berada pada posisi di ataslah yang dapat memperolehnya dengan cara membeli.

b. Diferensiasi fungsional (functional diferentiation)

Diferensiasi yang muncul karena setiap orang melakukan pekerjaan yang berbeda. Hal ini menjadi suatu kenyataan dalam kehidupan kita. Dengan pekerjaan yang saling berbeda maka manusia lebih mudah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak ada profesi yang paling penting dan tidak ada profesi yang tidak penting. Semua memberi sumbangan masing-masing sesuai kemampuan dan keilmuanya.

Dintara profesi yang berbeda dapat saling melengkapi dan menciptakan keharmonisan, sebab setiap individu pasti memerlukan keterampilan dariorang lain dalam rangka memenuhi kebutuhannya.

c. Diferensiasi adat (custom diferentiation)

Diferensiasi ini muncul karena adanya aturan berperilaku yang berbeda menurut situasi tertentu.

Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi yang berbeda-beda. Dalam halmenyajikan makanan misalnya, ada yang dengan cara dihidangkan di atasmeja lengkap dengan peralatannya, tetapi ada juga yang dihidangkan di atas tikar dengan duduk bersila.

Bagaimana tradisi yang ada di daerah kalian?

Mungkin saja ada perbedaan satu dengan tempat yang lain tetapi itu merupakan keberagaman yang memperkaya budaya luhur bangsa Indonesia.

3. Bentuk-Bentuk Diferensiasi Sosial

a. Jenis Kelamin (Gender)

Manusia diciptakan oleh Tuhan menjadi dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan dan dimata Tuhan keduanya memiliki derajat yang sama, walalupun secara fisik antara laki-laki dengan wanita itu berbeda, namun perbedaan itu bukan suatu pertanda bahwa yang satu lebih mulia atau lebih baik daripada yang lain.

b. Usia

Manusia sebagai makhluk yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan pastilah satu dengan yang lain mempunyai perbedaan umur, tetapi umur tidak melambangkan jenis pekerjaan atau aktifitas yang harus dilakukan oleh setiap individu.

Usia merupakan ukuran lamanya setiap individu menjalani kehidupannya. Perlu diingat juga bahwa usia juga dapat menjadi pengingat bahwa kita harus juga memegang teguh ajaran bahwa yang lebih muda harus menghormati yang lebih tua.

c. Ras 

Merupakan penggolongan manusia berdasarkan ciri-ciri fisiknya. Cirifisik yang dimaksud dapat berupa warna kulit, bentuk rambut, warna mata, tinggi badan serta warna rambut.

Ciri Fisik: rambut kriting, kulit hitam, bibir tebal, dan kelopak mata lurus.

Ciri Fisik: Kulit warna kuning sampai sawo matang, rambut lurus, bulu badanvsedikit, mata sipit.

Ciri Fisik: Hidung mancung, kulit putih, rambut pirang sampai coklat kehitaman, dan kelopak mata lurus.

Perbedaan ciri fisik tidak berarti membedakan antara hak dan kewajiban mereka, karena pada dasarnya semua ras sama kedudukannya. Tidak ada satu raspun yang lebih tinggi atau lebih baik dari ras yang lain.

d. Suku Bangsa

Suku bangsa merupakan golongan sosial yang dibedakan dari golongan- golongan sosial lainnya karena mempunyai ciri-ciri yang paling mendasar dan umum berkaitan dengan asal usul serta kebudayaannya.


Menurut Koentjoroningrat Suku bangsa adalah suatu golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas atas kesatuan kebudayaan.

Setiap suku bangsa mempunyai keunikan dan kebudayaan masing-masing, semuanya mempunyai makna dalam kehidupan masyarakatnya. Jadi tidak ada suku yang paling baik atau suku yang paling buruk. Semuanya sama satu bangsa yaitu Indonesia Raya.

Coba cermati di lingkungan kalian, mungkin terdapat tidak hanya satu suku dalam suatu wilayah dan tentunya hal itu menjadikan keragaman tersebut menjadi penguat dalam menjalin keharmonisan masyarakat.

e. Diferensiasi Agama

Adanya berbagai macam agama yang berkembang dan saling menghormati antara yang satu dengan yang lain dapat memberi bukti adanya diferensiasi dalam hal agama.

Menurut Emile Durkheim, Agama adalah suatu sistem kepercayaan beserta praktiknya, berkenaan dengan hal-hal yang sakral yang menyatukan pengikutnya dalam suatu komunitas moral.

Agama dapat mengikat secara rohani kepada setiap warga tanpa memandang suku atau asal-usul seseorang, sebab nilai-nilai setiap agama pasti mengajarkan tentang kebaikan disamping mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan dan juga hubungan antara manusia dengan manusia.

Agama mengajarkan kepada kita semua untuk hidup secara teratur tanpamemandang pangkat, jabatan ras dan lain-lain perbedaan yang melekat pada manusia.

f. Diferensiasi Pekerjaan

Setiap orang memiliki profesi sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan kemauannya. Perbedaan pekerjaan atau profesi merupakan hal yang wajar bahkan sangat diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat, sebab dengan perbedaan itu kebutuhan manusia justru dapat dipenuhi. Kita tidak akan dapat memenuhi kebutuhan hidup bila kita secara keseluruhan memiliki pekerjaan yang sama.


Rangkuman

Pengertian Deferensiasi sosial.

Deferensiasi sosial adalah pembedaan masyarakat dalam kelompok -kelompok sosial secara horizontal (dimensi Horizontal). Wujud dari diferensiasi sosial adalah penggolongan masyarakat kedalam kelompok- kelompok tertentu namun tidak secara hierarkis (Bertingkat) Diferensiasi sosial menunjukkan kemajemukan dan heterogenitas sosial masyarakat.

Jenis-jenis Deferensiasi sosial

Jenis-jenis deferensisasi sosial dibagi atas :

1. Diferensiasi tingkatan ( rank diferentiation)
2. Diferensiasi fungsional (funsctional diferentiation)
3. Diferensiasi adat (custom diferentiation)

Bentuk-bentuk deferensiasi sosial :

1. Jenis kelamin
2. Usia
3. Ras
4. Suku Bangsa
5. Deferensiasi agama
6. Deferensiasi pekerjaan

Minggu, 05 September 2021

STATUS, PERAN DAN MOBILITAS SOSIAL MASYARAKAT

 


STATUS, PERAN DAN MOBILITAS SOSIAL MASYARAKAT

Tujuan Pembelajaran

Setelah kegiatan pembelajaran 1 ini diharapkan ananda mampu menjelaskan status, peran dan mobilitas sosial masyarakat.


1. KEDUDUKAN (STATUS)

Menurut Roucek dan Warren kedudukan adalah tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Apabila dikaitkan dengan stratifikasi sosial, maka kedudukan (status) dapat dimaknai sebagai tempat seseorang secara umum dalam (lapisan) masyarakat sehubungan dengan keberadaan orang lain, meliputi lingkungan pergaulan, harga diri, hak, dan kewajiban.

Pada prinsipnya setiap individu dalam pergaulan hidupnya memiliki beberapa status sosial pokok (key status), yaitu sebagai berikut:

a. Status dalam lingkungan kerja atau pekerjaan seseorang
b. Status dalam sistem kekerabatan
c. Status religius dan status politik

Status menurut cara memperolehnya terbagi atas tiga macam, yaitu sebagai berikut :

a. Ascribed Status

Status atau Kedudukan tersebut diperoleh secara turun temurun, melalui kelahiran. Status ini diartikan sebagai kedudukan seseorang dalam masyarakat yang diberikan tanpa memandang kemampuan atau perbedaan antar individu. Contohnya adalah status sebagai keturunan bangsawan.

b. Achieved Status

Achieved status adalah kedudukan yang dicapai seseorang dengan usaha usaha yang sengaja dilakukan, bukan diperoleh melalui kelahiran. Kedudukan ini bersifa terbuka bagi siapa saja, tergantung kemampuan dari masing-masing individu dalam mengejar dan mencapai tujuannya. Contohnya adalah, seorang dokter spesialis, pilot dan akuntan.

c. Assigned Status

Assigned status adalah status yang diperoleh melalui penghargaan atau pemberian dari pihak lain atas jasa-jasa tertentu. Contohnya adalah para pahlawan dan peraih nobel.


2. PERAN (ROLE)

Peran (Role) merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status). Apabila seseorang telah menjalankan hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya, maka ia telah melaksanakan suatu peran. Suatu status pasti memiliki sejumlah peran yang melekat padanya, sedangkan peran tidak mungkin ada tanpa status. Jadi dapat disimpulkan bahwa status dan peran tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

3. MOBILITAS SOSIAL

Secara etimologis, mobilitas berasal dari kata mobilitas yang artinya mudah dipindahkan. Secara umum, mobilitas sosial berarti perpindahan posisi seseorang atu kelompok dari lapisan satu ke lapisan yang lainnya.

Masyarakat terbagi ke dalam lapisan-lapisan, baik secara vertikal maupun horizontal. Gerak masyarakat sangat bergantung pada struktur sosial masyarakat yang bersangkutan. Apabila masyarakat tersebut berada dalam struktur sosial yang kaku (misalnya, pada masyarakat kasta, kerajaan, atau suku pedalaman), maka gerak sosial masyarakat relatif lebih sempit karena terbatas oleh aturan serta nilai- nilai sosial yang tidak memungkinkan seseorang untuk berpindah lapisan.

Sebaliknya, pada masyarakat dengan struktur sosial terbuka, peluang untuk bermobilitas sangat terbuka karena masyarakat bebas untuk mengembangkan potensi dan kemampuannya untuk bisa berpindah dari lapisan satu ke lapisan yang lainnya, terutama perpindahan secara vertikal.

Ananda sekalian, Secara prinsip terdapat tiga jenis mobilitas yang utama, yaitu :

1. Mobilitas horizontal

Yaitu perpindahan seseorang atau kelompok dalam lapisan sosial yang sama. Ciri utama mobilitas horizontal adalah lapisan sosial yang ditempati orang tersebut tidak mengalami perubahan. Contoh: Seorang guru SMK yang berpindah menjadi guru SMA, seorang tukang batu berganti pekerjaan menjadi tukang kayu.

2. Mobilitas vertikal

Yaitu perpindahan status sosial seseorang atau kelompok pada lapisan sosial yang berbeda. Dalam mobilitas sosial vertikal terjadi perpindahan lapisan yang tidak sederajat, bisa berupa kenaikan lapisan dan bisa juga karena penurunan lapisan/kedudukan.

Mobilitas sosial tersebut terbagi menjadi dua:

a. Social climbing

Social climbing adalah peningkatan status/kedudukan seseorang ke dalam lapisan yang lebih tinggi.

Social climbing memiliki dua bentuk, yaitu:

  • Kenaikan pangkat seseorang ke golongan yang lebih tinggi Misalnya: seorang walikota yang kemudian menjadi gubernur.
  • Terbentuknya suatu kelompok baru yang lebih tinggi dari lapisan yang sudah ada Misalnya: dalam pemilihan pengurus kelas, Andre terpilih sebagai ketua kelas yang berhak mengatur seluruh siswa di kelas itu.

b. Social sinking

Social sinking merupakan penurunan status/kedudukan seseorang ke dalam lapisan sosial yang lebih rendah. Social sinking juga memiliki dua bentuk, yaitu:

  • Turunnya kedudukan seseorang ke golongan yang lebih rendah Misalnya: seorang karyawan yang di-PHK, seorang pejabat yang pensiun.
  • Tidak dihargainya lagi kedudukan sebagai lapisan sosial atas Misalnya: tidak berlakunya lagi gelar kebangsawanan seseorang.

3. Mobilitas intra-generasi, antar-generasi, dan antar-wilayah.

a. Mobilitas intra-generasi

Yaitu perpindahan kedudukan sosial seseorang/ anggota masyarakat yang terjadi dalam satu generasi yang sama. Misalnya: Alumni SMA Unggul angkatan 2020 ( ada yang menjadi pengusaha, sopir, mahasiswa, tentara, dll)

b. Mobilitas antar-generasi

Yaitu perpindahan kedudukan sosial seseorang/ anggota masyarakat yang terjadi di antara beberapa generasi dalam satu keturunan. Mobilitas sosial antar-generasi bisa berbentuk vertikal naik atau vertikal turun.

  • Mobilitas antar-generasi naik. Misalnya: Atep adalah seorang PNS, padahal ayahnya hanya seorang petani dan kakeknya seorang buruh tani.
  • Mobilitas antar-generasi turun. Misalnya: Unang adalah seorang kuli bangunan, padahal ayahnya seorang pedagang, dan kakeknya seorang kepala desa.

c. Mobilitas antar-wilayah

Yaitu perpindahan seseorang/ kelompok dari suatu tempat ke tempat lain. Bentuk-bentuk migrasi antar-wilayah adalah migrasi, urbanisasi, dan transmigrasi, mobilitas ini juga dissebut mobilitas gerak sosial geografis.


 Rangkuman

1. Status Sosial

Status sosial adalah kedudukan atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial atau masyarakat.

Status menurut cara memperolehnya terbagi atas tiga macam, yaitu sebagai berikut :

- Ascribed Status

- Achieved Status

- Assigned Status

2. Peran sosial

Peran (Role) merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status).

3. Mobilitas sosial

Ananda sekalian, Secara prinsip terdapat tiga jenis mobilitas yang utama, yaitu :

- Mobilitas horizontal

- Mobilitas vertikal

- Mobilitas intra-generasi, antar-generasi, dan antar-wilayah.

Sabtu, 04 September 2021

DAMPAK MASALAH SOSIAL & PEMECAHANNYA


DAMPAK MASALAH SOSIAL dan PEMECAHAN MASALAH SOSIAL

Tujuan Pembelajaran

Setelah kegiatan pembelajaran 3 ini, Ananda mampu mengidentifikasi dampak masalah sosial serta solusi pemecahan masalah sosial.

1. Dampak masalah sosial

Dalam lingkungan masyarakat pasti terdapat berbagai macam permasalahan sosial. Contoh masalah sosial di masyarakat, seperti kenakalan remaja, masalah kependudukan, masalah pencemaran lingkungan, masalah kesehatan masyarakat maupun masalah sosial lainnya. Adanya berbagai masalah sosial di lingkungan masyarakat dapat membawa dampak bagi masyarakat itu sendiri. Tidak hanya dampak yang bersifat negatif tetapi masalah sosial juga mempunyai dampak yang bersifat positif.

Adapun dampak yang bersifat negatif dari adanya permasalahan sosial di masyarakat, antara lain:

a. Meningkatnya tingkat kriminalitas.
b. Adanya kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin.
c. Adanya perpecahan kelompok.
d. Munculnya perilaku menyimpang.
e. Meningkatkan pengangguran.
f. Banyak terjadinya Bencana akibat kerusakan lingkungan, dll

Dampak positif adanya masalah sosial antara lain :

a. Potensi Munculnya Nilai dan Norma Baru

Gejala sosial bisa menjadi penanda bahwa ada nilai dan norma masyarakat yang sudah ketinggalan zaman. Sehingga munculnya gejala sosial diharapkan dapat memunculkan nilai dan norma baru yang sesuai dengan perkembangan zaman.

b. Adanya Upaya Mewujudkan Kesetaraan Gender

Perkembangan zaman di masyarakat akan meningkatkan kesadaran bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak asasi yang sama sebagai manusia. Ini jelas merupakan pertanda yang baik karena dengan adanya kesetaraan gender, tidak ada lagi ketimpangan atau judgement dari lingkungan terhadap suatu gender.

c. Adanya Diferensiasi Struktural

Diferensiasi struktural ini mengacu kepada berkembangnya lembaga- lembaga sosial baru. Berbagai macam kebutuhan di masyarakat yang semakin kompleks membutuhkan wadah dan lembaga baru untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

d. Tingkat Pendidikan Formal Semakin Tinggi dan Merata

Gejala sosial yang berhasil diatasi akan membawa pemahaman bahwa “pendidikan itu penting”. Akibatnya, masyarakat akan lebih aware terhadap pendidikan dan berusaha untuk mendapatkan akses pendidikan, khususnya pendidikan formal, yang lebih baik lagi.

e. Meningkatnya Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan pendidikan, munculnya berbagai penelitian ilmiah terkait gejala sosial yang telah terjadi semakin menyadarkan masyarakat terhadap pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan taraf hidup.

f. Berkembangnya Industrialisasi

Ketika masyarakat sudah mendapatkan pendidikan yang baik, produktivitas masyarakat pun akan meningkat dengan sendirinya. Hal ini mengakibatkan industri-industri semakin berkembang menjadi lebih baik.

g. Kesadaran Politik Semakin Tinggi

Masyarakat yang terdidik umumnya akan menyadari pentingnya kontribusi setiap individu dalam praktek politik. Tingginya kesadaran politik ini ditandai dengan meningkatnya partisipasi dalam politik praktis.

h. Perlindungan terhadap Kebebasan dalam Kehidupan Beragama

Gejala sosial memberi pelajaran pada masyarakat akan pentingnya hidup berdampingan dan menghormati keanekaragaman. Dengan begitu, diharapkan akan munculnya kerukunan antar umat beragama yang berujung pada terwujudnya kebebasan beragama secara hakiki.


2. Pemecahan Masalah Sosial

Dalam ilmu sosial pada umumnya pemecahan masalah sosial dilakukan dengan dua pendekatan yaitu dengan prefentif dan represif. Pendekatan represif lebih banyak digunakan yaitu setelah suatu gejala dapat dipastikan sebagai masalah sosial, barulah diambil tindakan-tindakan untuk mengatasi masalah tersebut.

Sedangkan pendekatan preventif merupakan tindakan-tindakan upaya pencegahan agar gejala dan penyebab masalah sosial tidak terjadi. Dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial tidak bisa hanya dilihat dari satu aspek saja tetapi harus juga melihat aspek lain yang mempengaruhinya.

a. Upaya mengatasi kenakalan Remaja

Usaha-usaha pencegahan kenakalan remaja dapat dilakukan dengan cara moralitas maupun abolisionalistis. Cara moralistis menekankan pada upaya pembentukan dan pembinaan moral dan mental remaja, yang dapat dilakukan melalui penyuluhan kesadaran hukum bagi anak dan remaja, penanaman rasa tanggungjawab sosial, penanaman kesadaran beragama dan penyuluhan tentang sebab-musabab kenakalan remaja. Cara abolisionalitis dalam pencegahan kenakalan remaja dilakukan dengan mengurangi sebab- sebab yang mendorong anak remaja melakukan perbuatan delinkuen. Selain itu upaya pencegahan kenakalan remaja juga dapat dilakukan dengan cara berusaha mengerti pribadi anak dan minatnya serta memberikan cinta kasih yang simpatik.

Langkah-langkah lain yang dapat dilakukan untuk mencegah atau mengatasi terjadinya kenakalan remaja adalah :

1) Mengedepankan Keteladanan

Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.

Untuk itu diperlukan perilaku-perilaku keteladanan dari orang dewasa atau para orang tua. Keteladanan dapat mendorong remaja untuk meniru atau mengadaptasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

2) Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya

Untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang positif dan membawa kepada kebaikan baik untuk saat sekarang maupun untuk menyongsong masa depannya.

3) Kemauan orangtua

Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.

4) Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik

Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.

5) Remaja membentuk ketahanan diri

Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.


b.  Upaya Dalam Mengatasi Kesenjangan Sosial

Kesenjangan sosial adalah suatu keadaan ketidakseimbangan sosial yang ada di masyarakat yang menjadikan suatu perbedaan yang sangat mencolok. Dalam hal kesenjangan sosial sangatlah mencolok dari berbagai aspek misalnya dalam aspek keadilanpun bisa terjadi. Antara orang kaya dan miskin sangatlah dibedakan dalam aspek apapun, orang desa yang merantau dikotapun ikut terkena dampak dari hal ini, memang benar kalau dikatakan bahwa “ Orang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin”. Adanya ketidak pedulian terhadap sesama ini dikarenakan adanya kesenjangan yang terlalu mencolok antara yang “kaya” dan yang “miskin”. Banyak orang kaya yang memandang rendah kepada golongan bawah, apalagi jika ia miskin dan juga kotor, jangankan menolong, sekedar melihatpun mereka tidak mau.

Solusi yang dapat ditempuh menitikberatkan kepada hal-hal berikut :

  • Kebijakan pemerintah harus menekankan kepada peningkatan/perbaikan infrastruktur desa terutama pada desa-desa yang kondisi geografisnya tidak menguntungkan.
  • Akses terhadap pendidikan, informasi dan kesehatan gratis harus menjadi prioritas bagi pemerintah sehingga akselerasi pembangunan dapat terwujud dengan efektif.
  • Pemerintah perlu memberikan bantuan modal bagi masyarakat.
  • Segregasi atau eksklusi terhadap masyarakat pedesaan baik dari aspek etnik, suku, agama, gender dan sejenisnya harus dihapuskan.

c. Upaya Mengurangi Pengangguran

Pengangguran bukan lagi masalah pribadi, namun menjadi masalah bersama yang harus diatasi baik pemerintah, perusahaan, organisasi, dan masyarakat sekitar. Menurunkan angka pengangguran menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama untuk meningkatkan kinerja ekonomi negara.

Karena pengangguran merupakan kondisi yang memprihatinkan dan dapat membahayakan perekonomian suatu negara, maka harus dilakukan pencegahan atau paling tidak mengurangi angka pengangguran yang ada. Hal ini dapat dilakukan dengan kerjasama pemerintah, lembaga terkait, pengusaha, instansi dan masyarakat.

Solusi yang dilakukan agar dapat mengurangi angka pengangguran ini setiap tahunnya akan semakin sulit seiring meningkatnya para pencari kerja, kebutuhan perusahaaan, munculnya sumber daya mesin yang semakin canggih dari tahun ke tahun, kebijakan pemerintah dan hal lain yang pasti akan mempengaruhi besarnya angka pengangguran. Setiap waktu harus diperbaharui agar selalu update dengan keadaan kenyataan yang ada.

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk permasalahan pengangguran yang ada, yaitu :

1) Membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya
2) Meningkatkan peredaran modal usaha
3) Menempatkan pencari kerja ke tempat yang sesuai kemampuan
4) Melatih para pencari kerja untuk memiliki jiwa entrepreneur atau membuka usaha sendiri
5) Penyuluhan di masyarakat tentang teknologi dan hubungannya dengan perekonomian
6) Training dan pelatihan sertifikasi untuk para calon pekerja.

Cara-cara tersebut dapat dilakukan dengan kerjasama dari berbagai pihak, tidak hanya pemerintah tetapi juga dari pengusaha, masyarakat.

d. Upaya Penanggulangan Virus (Covid-19)

Pemeritah secara resmi menetapkan wabah virus corona (Covid-19) sebagai Bencana Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020 Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Covid-19 Sebagai Bencana Nasional.

Untuk mencegah penyebaran COVID-19 :

1) Cuci tangan Anda secara rutin. Gunakan sabun dan air, atau cairan pembersih tangan berbahan alkohol.
2) Selalu jaga jarak aman dengan orang yang batuk atau bersin.
3) Kenakan masker jika pembatasan fisik tidak dimungkinkan.
4) Jangan sentuh mata, hidung, atau mulut Anda.
5) Saat batuk atau bersin, tutup mulut dan hidung Anda dengan lengan atautisu.
6) Jangan keluar rumah jika merasa tidak enak badan.
7) Jika demam, batuk, atau kesulitan bernapas, segera cari bantuan medis.

Guna memastikan apakah gejala-gejala tersebut merupakan gejala dari virus Corona, diperlukan rapid test atau PCR. Untuk dapat melakukan rapid test atau PCR, Ananda dapat pergi ke lab. Rumah Sakit atau laboratorium resmi di daerah Ananda.


Rangkuman

Dampak yang bersifat negatif dari adanya permasalahan sosial di masyarakat, antara lain:

1. Meningkatnya tingkat kriminalitas.
2. Adanya kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin.
3. Adanya perpecahan kelompok.
4. Munculnya perilaku menyimpang.
5. Meningkatkan pengangguran.
6. Banyak terjadinya bencana akibat kerusakan lingkungan.

Dampak positif adanya masalah sosial antara lain :

1. Potensi Munculnya Nilai dan Norma Baru
2. Adanya Upaya Mewujudkan Kesetaraan Gender
3. Adanya Diferensiasi Struktural
4. Tingkat Pendidikan Formal Semakin Tinggi dan Merata
5. Meningkatnya Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
6. Berkembangnya Industrialisasi
7. Kesadaran Politik Semakin Tinggi
8. Perlindungan terhadap Kebebasan dalam Kehidupan Beragama

PEMECAHAN MASALAH SOSIAL

Upaya mengatasi kenakalan Remaja. Usaha-usaha pencegahan kenakalan remaja dapat dilakukan dengan cara moralitas maupun abolisionalistis. Cara moralistis menekankan pada upaya pembentukan dan pembinaan moral dan mental remaja, yang dapat dilakukan melalui penyuluhan kesadaran hukum bagi anak dan remaja.

1. Upaya Dalam Mengatasi Kesenjangan Sosial

Kesenjangan sosial adalah suatu keadaan ketidakseimbangan sosial yang ada di masyarakat yang menjadikan suatu perbedaan yang sangat mencolok. Dalam hal kesenjangan sosial sangatlah mencolok dari berbagai aspek misalnya dalam aspek keadilanpun bisa terjadi.

2. Upaya Mengurangi Pengangguran

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk permasalahan pengangguran yang ada, yaitu :

a. Membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya.
b. Meningkatkan peredaran modal usaha,
c. Menempatkan pencari kerja ke tempat yang sesuai kemampuan .
d. Melatih para pencari kerja untuk memiliki jiwa entrepreneur atau membuka usaha sendiri.
e. Penyuluhan di masyarakat tentang teknologi dan hubungannya dengan perekonomian.
f. Training dan pelatihan sertifikasi untuk para calon pekerja.

3. Upaya Penanggulangan Virus (Covid-19)

Untuk mencegah penyebaran COVID-19 :

a. Cuci tangan Anda secara rutin. Gunakan sabun dan air, atau cairan pembersih tangan berbahan alkohol.
b. Selalu jaga jarak aman dengan orang yang batuk atau bersin.
c. Kenakan masker jika pembatasan fisik tidak dimungkinkan.
d. Jangan sentuh mata, hidung, atau mulut Anda.
e. Saat batuk atau bersin, tutup mulut dan hidung Anda dengan lengan atau tisu.
f. Jangan keluar rumah jika merasa tidak enak badan.
g. Jika demam, batuk, atau kesulitan bernapas, segera cari bantuan medis.


BENTUK-BENTUK MASALAH SOSIAL

 

BENTUK-BENTUK MASALAH SOSIAL

Tujuan Pembelajaran

Setelah kegiatan pembelajaran 2 ini, Ananda mampu menjelaskan berbagai bentuk masalah sosial yang ada di masyarakat.

Uraian Materi

Pada kegiatan pembelajaran 1, Ananda telah memahami tentang pengertian masalah sosial, eksklusi sosial dan faktor penyebab masalah sosial. Nah pada kegiatan pembelajaran 2 ini, akan membahas tentang berbagai bentuk masalah sosial yang ada di masyarakat. Anada dapat mencermati beberapa masalah sosial di bawah ini :

1. Kemiskinan

Kemiskinan merupakan kondisi dimana seseorang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sesuai dengan taraf atau standar kehidupan pada umumnya. Kondisi ketidakmampuan ini ditandai dengan rendahnya kemampuan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan pokok baik berupa pangan, sandang, maupun papan. Kemampuan pendapatan yang rendah ini juga akan berdampak berkurangnya kemampuan untuk memenuhi standar hidup rata-rata seperti standar kesehatan masyarakat dan standar pendidikan.

Bentuk-bentuk kemiskinan, yaitu sebagai berikut :

a. Kemiskinan absolut

Merupakan tahap dimana individu sulit atau bahkan tidak sanggup untuk memenuhi kebutuhan pokoknya sekaligus mendasar agar dapat menyambung hidup. Contohnya, apabila ada seorang yang mengalami disabilitas (lumpuh) maka ia tidak sanggup untuk mencari pekerjaan yang upahnya dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti makan dan minum, apalagi ia hidup sebatang kara sehingga ia terjebak dalam lingkaran kemiskinan (tidak dapat merubah nasib).

b. Kemiskinan relative

Merupakan kemiskinan yang melanda seseorang namun masih mampu untuk memenuhi kebutuhan mendasarnya. Misalnya, seorang buruh yang selalu berangkat ke pabrik menggunakan sepeda, tetapi ia menyadari bahwa teman-temannya telah mempunyai sepeda motor, ketika itu pun ia merasa kurang mampu dibandingkan rekan-rekannya.

Ketidakmampuan seseorang dalam hal ini kemiskinan relatif sebagian besar ditentukan oleh individu sendiri.

c. Kemiskinan Kultural

Merupakan bentuk kemiskinan yang terjadi akibat adanya sikap dan unsur budaya masyarakat yang cenderung santai dan tidak memiliki motivasi untuk memperbaiki taraf hidupnya menjadi lebih baik.


2. Pengangguran

Pengangguran adalah sebuah golongan angkatan kerja yang belum melaku kansuatu kegiatan yang menghasilkan uang. Pengangguran tidak terbatas padaorang yang belum bekerja. Orang yang sedang mencari pekerjaan dan orang yang bekerja namun perkerjaannya tidak produktif pun dapat dikategorikan sebagai pengangguran.

Jenis-jenis pengangguran :

a. Pengangguran Terbuka : Pengangguran yang tidak memiliki pekerjaan. Karena belum mendapat pekerjaan atau memang tidak mau bekerja. Pengangguran terbuka disebabkan oleh lapangan kerja yang tidak tersedia, atau tidak adanya kecocokan antara lowongan kerja dan latar belakang pendidikan.

b. Pengangguran Siklikal : Kondisi ini terjadi karena adanya perubahan dalam kegiatan perekonomian negara. Mundurnya perekonomian akan mengakibatkan daya beli masyarakat yang juga menurun, sehingga perusahaan akan mengurangi produksi dan memberhentikan karyawannya.

c. Pengangguran Musiman : Kondisi ini disebabkan oleh siklus ekonomi yang berfluktuasi karena adanya pergantian musim sehingga pekerja harus menghentikan aktivitas produksi untuk sementara. Biasanya terjadi pada bidang pertanian dan perikanan, seperti petani dan nelayan.

d. Setengah Pengangguran : Kondisi ini merupakan pekerja yang mempunyai pekerjaan, namum jam kerjanya sedikit, biasanya kurang dari 35 jam dalam seminggu.


3. Kriminalitas

Kriminalitas berasal dari kata crime yang artinya kejahatan. Kriminalitas adalah semua perilaku warga masyarakat yang bertentangan dengan norma-norma hukum pidana. Kriminalitas yang terjadi di lingkungan masyarakat dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik dari dalam maupun luar individu.

Tindakan kriminalitas yang ada di masyarakat sangat beragam bentuknya, seperti pencurian, perampokan, pembunuhan, dan lain sebagainya. Tindakan kriminalitas yang terjadi di masyarakat harus menjadi perhatian aparat polisi dan masyarakat sekitar.

Dampak tindakan kriminal seperti :

a. Merugikan pihak lain baik material maupun non material
b. Merugikan masyarakat secara keseluruhan
c. Merugikan Negara
d. Menggangu stabilitas keamanan masyarakat
e. Mangakibatkan trauma kepada para korban.

Dengan kata lain dampak dari fenomena tindakan kriminal dan kekerasan ini adalah mengakibatkan keresahan dimasyarakat dan peran penegak hukum seperti polisi akan sangat diandalkan untuk menanggulanginya, namun peran masyarakat juga akan sangat membantu para polisi dalam menangulangi seperti memberikan informasi dan pengamanan lingkungan sekitarnya dengan melakukan siskamling (sistem keamanan lingkungan) yang terintregasi dengan tokoh masyarakat dan polisi.

4. Kesenjangan Sosial

Kesenjangan sosial merupakan perbedaan jarak ekonomi antara kelompok satu dengan kelompok yang lain. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya kesenjangan sosial ekonomi di masyarakat, antara lain:

a. Menurunnya pendapatan per kapita.
b. Ketidakmerataan pembangunan di daerah-daerah.
c. Rendahnya mobilitas sosial.
d. Adanya pencemaran lingkungan alam.
e. Kesenjangan sosial ekonomi dapat menimbulkan masalah di masyarakat, seperti munculnya tindakan kriminal, adanya kecemburuan sosial, dan lain sebagainya


 5.  Penyakit Menular

Penyakit menular adalah adalah gangguan yang disebabkan oleh organisme seperti bakteri, virus, jamur, atau parasit. Disebabkan oleh agen biologi seperti mikroorganisme patogenik (virus, bakteri, dan fungi) serta parasit. Keberadaan mereka ada di dalam atau permukaan tubuh, sehingga dapat menyebabkan infeksi.

Terdapat tiga kelompok utama penyakit menular, yaitu:

  1. Penyakit sangat berbahaya karena angka kematian cukup tinggi.
  2. Penyakit menular tertentu yang menimbulkan kematian dan cacat, walaupun akibatnya lebih ringan dari yang pertama.
  3. Penyakit menular yang jarang menimbulkan kematian dan cacat tetapi dapat mewabah yang menimbulkan kerugian materi dan kesehatan.

Virus bukanlah organisme hidup, sebaliknya mereka adalah fragmen asam nukleat yang dikemas dalam mantel protein yang membutuhkan sel hidup untuk bereplikasi. Ada banyak virus lain yang ditransmisikan antara manusia dan yang secara signifikan menyebabkan penyakit dan kematian. Salah satunya yang baru- baru ini muncul menjadi masalah global yaitu virus corona atau COVID-19.

Coronavirus adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Beberapa jenis coronavirus diketahui menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius MERS atau SARS. Virus ini menyebabkan penyakit Covid-19.

Gejala-gejala COVID-19 yang paling umum adalah demam, batuk kering, dan rasa lelah. Gejala lainnya yang lebih jarang dan mungkin dialami beberapa pasien meliputi rasa nyeri dan sakit, hidung tersumbat, sakit kepala, konjungtivitis, sakit tenggorokan, diare, kehilangan indera rasa atau penciuman, ruam pada kulit, atau perubahan warna jari tangan atau kaki. Gejala-gejala yang dialami biasanya bersifat ringan dan muncul secara bertahap. Beberapa orang menjadi terinfeksi tetapi hanya memiliki gejala ringan.

Jika Anda mengalami gejala ringan, seperti batuk ringan atau demam ringan. secara umum tidak perlu mencari pertolongan medis. Tetap di rumah, isolasi diri, dan pantau gejala Anda. Ikuti panduan nasional tentang isolasi mandiri. Namun, jika Anda tinggal di daerah dengan malaria atau demam berdarah, Anda tidak boleh mengabaikan gejala demam. Segera cari pertolongan medis. Saat Anda pergi ke fasilitas kesehatan, kenakan masker jika memungkinkan, jaga jarak setidaknya satu meter dari orang lain, dan jangan menyentuh permukaan benda dengan tangan Anda. Jika yang sakit adalah anak, bantu anak untuk mematuhi nasihat ini.

Segera cari perawatan medis jika Anda mengalami kesulitan bernapas atau nyeri/tekanan di dada. Jika memungkinkan, hubungi penyedia layanan kesehatan Anda terlebih dahulu, sehingga Anda dapat diarahkan ke fasilitaskesehatan yang tepat.

6. Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja atau juvenile delinquency memiliki arti kejahatan yang dilakukan oleh anak remaja. Dengan demikian kenakalan remaja merupakan perbuatan yang melanggar hukum yang dapat dikenai sanksi pidana bagi yang melanggar larangan tersebut. Masa remaja dikenal dengan masa Storm dan Stres dimana terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik dan pertumbuhan psikis yang bervariasi. Masa remaja identik dengan lingkungan sosial tempat berinteraksi, membuat mereka dituntut untuk dapat menyesuaikan diri secara efektif. Secara garis besar kenakalan remaja dapat disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal.

a. Faktor Internal

1) Krisis identitas

Hal ini dapat terjadi sebab pada masa remaja kondisi kejiwaan yang labil remaja masih sangat menonjol. Remaja sedang dalam kondisi untuk mencari identitas diri, dimana kesulitan ini sering tanpa disadari oleh para remaja. Remaja tidak mau lagi dianggap sebagai anak kecil, tetapi pada sisi yang lain kematangan untuk menjadi dewasa juga belum terpenuhi. Dalam kondisi ini sering remaja juga terjerumus ke dalam hal – hal yang negatif, sebagai akibat dari ketidaktahuannya.

2) Kontrol diri yang lemah

Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya. Kontrol diri yang lemah ini menyebabkan remaja mudah terbawa arus kehidupan yang sering hanya untuk menunjukkan identitas dirinya agar diakui, tanpa berpikir lebih jauh apakah yang dia lakukan itu benar atau salah.

b. Faktor Eksternal

1) Keluarga dan perceraian orang tua

Keluarga merupakan lembaga yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian seorang anak. Dalam keluarga pertamakali seorang anak akan dikenalkan dengan nilai dan norma yang berlaku, baik dalam keluarga sendiri maupun dalam masyarakat yang lebih luas. Keluarga menjadi pusat komunikasi yang baik bagi seluruh anggotanya, sehingga jika tidak ada komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.

Perceraian keluarga seringkali membawa efek yang buruk terhadap perkembangan kepribadian seorang anak. Anak yang menjadi korban perceraian akan mencari sosoak panutan di luar keluarganya. Jika dia menemukan atau bergaul dengan orang dan lingkungan yang salah, tidak menutup kemungkinan bahwa hal tersebut akan mendorong perilaku yang nakal dari anak tersebut.

2) Teman dan lingkungan yang kurang baik

Dalam masa ini pola pergaulan harus menjadi perhatian semua pihak agar perilaku yang tidak baik dari remaja tidak muncul. Dalam tata pergaulan remaja seringkali menemukan situasi yang tidak baik dari teman-teman sebayanya. Pola pergaulan dengan teman sebaya sangat besar pengaruhnya, sebab di tengah-tengah teman sebaya eksistensi seorang remaja mendapat pengakuan. Jika para remaja menenmukan lingkungan pergaulan dengan perilaku yang salah maka hal ini akan membawa kepada mereka untuk berperilaku nakal.

3) Pengaruh budaya asing yang cenderung negatif

Seringkali remaja beranggapan bahwa semua yang berasal dari luar negeri itu baik, keren, dan kekinian. Tetapi tidak semua budaya barat meberikan manfaat yang baik dan bahkan tidak cocok dengan budaya masyarakat kita, remaja sebagai individu yang ingin diakui keberadaannya oleh orang lain seringkali terpengaruh dengan budaya asing yang hanya dirasa enak, mudah, glamor dll.

7. Aliran Sesat

Aliran sesat adalah pandangan atau doktrin teologis atau keagamaan yang dianggap berlawanan atau bertentangan dengan keyakinan, atau sistem keagamaan manapun. Dalam pengertian ini, ajaran sesat adalah pandangan atau doktrin dalam filsafat, politik, ilmu, seni, dll, yang berbeda dengan apa yang umumnya diakui sebagai yang berwibawa.

Beberapa aliran sesat atau manyimpang yang pernah ada di Indonesia adalah:

a. Komunitas Eden atau Salamullah

Ajaran ini didirikan oleh Lia Aminuddin atau Lia Eden dengan jemaat yang disebut Salamullah. Dia mengaku Imam Mahdi sebagai penyebar wahyu Tuhan. Dia juga menyatakan dirinya reinkarnasi Bunda Maria, sedangkan anaknya, Ahmad Mukti, adalah jelmaan Yesus Kristus.

b. Gafatar

Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) didirikan oleh Ahmad Musadeq, yang menyatakan dirinya sebagai nabi. Dia meneruskan ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang pernah dinyatakan sesat oleh MUI pada tahun 2007. Gerakan ini bersifat sinkretik, yang menggabungkan ajaran Islam, Kristen, dan Yahudi.

c. Dimas kanjeng Taat Pribadi

Pada tahun 2016, MUI Jawa Timur mengeluarkan fatwa sesat terhadap ajaran sesat Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Pria itu dianggap melakukan sejumlah kegiatan menyimpang, menyesatkan, dan melecehkan agama. Dimas Kanjeng, antara lain mendoktrin pengikutnya dapat menggandakan uang lewat praktik ‘kun fayakun’. Dimas Kanjeng turut mendoktrin keyakinan kufarat kepada pengikutnya bahwa ada bank gaib.

Munculnya kerajaan kerajaan palsu atau raja-raja palsu. Contohnya munculnya Raja dan Ratu Agung Sejagat dari Purworejo, yang mengaku raja dan ratu. Keduanya menjadi tersangka menyebar berita bohong yang menimbulkan keonaran dengan mengaku sebagai raja dan ratu Keraton Agung Sejagat (KAS) awal tahun 2020. Dan divonis 4 tahun dan 1,5 tahun penjara oleh Putusan Pengadilan Negeri (PN) Purworejo pada 15 September 2020.


Rangkuman

Berbagai bentuk masalah sosial yang ada di masyarakat :
1. Kemiskinan
Kemiskinan merupakan kondisi dimana seseorang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sesuai dengan taraf atau standar kehidupan pada umumnya.
Bentuk-bentuk kemiskinan, yaitu sebagai berikut :
a. Kemiskinan absolut
b. Kemiskinan relatif
c. Kemiskinan kultural
2. Pengangguran
Pengangguran adalah sebuah golongan angkatan kerja yang belum melakukan suatu kegiatan yang menghasilkan uang. Pengangguran tidak terbatas pada orang yang belum bekerja.

3. Kriminalitas
Tindakan kriminalitas yang ada di masyarakat sangat beragam bentuknya, seperti pencurian, perampokan, pembunuhan, dan lain sebagainya.

4. Kesenjangan sosial
Kesenjangan sosial merupakan perbedaan jarak ekonomi antara kelompok satu dengan kelompok yang lain.

5. Penyakit menular
Penyakit menular adalah adalah gangguan yang disebabkan oleh organisme seperti bakteri, virus, jamur, atau parasit. disebabkan oleh agen biologi seperti mikroorganisme pategonik (virus, bakteri, dan fungi) serta parasit.

6. Kenakalan remaja
Kenakalan remaja atau juvenile delinquency memiliki arti kejahatan yang dilakukan oleh anak remaja. Masa remaja dikenal dengan masa Strom dan Stres dimana terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik dan pertumbuhan psikis yang bervariasi. Masa remaja identik dengan lingkungan sosial tempat berinteraksi, membuat mereka dituntut untuk dapat menyesuaikan diri secara efektif.

7. Aliran sesat.
Aliran sesat adalah pandangan atau doktrin dalam filsafat, politik, ilmu, seni, dll, yang berbeda dengan apa yang umumnya diakui sebagai yang berwibawa.