P Mas Yudi ..!!!
Assalamu'alaikum ..... Selamat Datang di Blog Anak Desa ...

Beranda

Kamis, 14 November 2013

KONTEMPLASI SEORANG SANTRI

Santri adalah sebutan bagi pelajar yang mengikuti pendidikan di pondok pesantren. Sementara pondok pesantren itu sendiri adalah sebuah tempat belajar agama Islam yang memiliki asrama untuk para santrinya.

ARTI DAN MAKNA SANTRI
Santri sendiri sebenarnya memiliki makna. Bukan hanya plesetan dari kata “pesantren” menjadi “pesantri” yang kemudian pelakunya disebut “santri”.
20-279x300Menurut bahasa arti kata Santri adalah “Sastri” (sansekerta) yang berarti orang yang melek huruf. Kemudian arti kedua adalah “Cantrik” (jawa) yang berarti seseorang yang mengikuti Kiai kemanapun dia pergi dan menetap untuk menguasai suatu keahlian tertentu. Namun konon ada beberapa ‘Ulama yang memaknai kata Santri menjadi beberapa huruf arab yang dipilah. Santri terdiri dari empat huruf, yaitu SIN, NUN, TA, RO.
SIN. SIN bermakna Satrul ‘Auroh (Menutup Aurat). Makna ini menjelaskan bahwa Santri adalah orang yang senantiasa menutup auratnya. Aurat yang dimaksud disini ada dua macam, yaitu aurat lahiriah dan aurat batiniah. Seorang santri harus bisa menutup aurat lahiriah yang sudah ditentukan dalam syari’at. Kalau laki-laki dari pusar sampai lutut, dan perempuan seluruh tubuh kecuali telapak tangan. Begitupun seorang santri harus bisa menutup aurat batiniah. Hatinya terjaga dari hal-hal yang mengundang dosa. Bertakwa kepada Alloh dimanapun santri berada. Salah satunya adalah dengan memiliki rasa malu. Budaya malu ini kalau boleh saya bilang sangat kental sekali di lingkungan pesantren. Memang itulah yang seharusnya dijaga oleh seorang santri. Karena malu adalah sebagian dari iman.
NUN. NUN bermakna Naibul ‘Ulama (Wakil dari ‘Ulama). Makna ini menjelaskan bahwasanya santri harus memiliki pengetahuan yang luas. Baik dalam ilmu agama maupun dalam ilmu dunia. Kemudian dengan ilmu tersebut santri dapat mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari. Bagaimana berinteraksi dengan masyarakat, bagaimana bersikap bijak dalam menghadapai persoalan masyarakat, bagaimana terus mengikuti perkembangan masyarakat. Oleh itu, salah jika seandainya ada yang beranggapan bahwa santri adalah kaum yang termarjinalkan. Karena santri dituntut untuk terus berhubungan dengan masyarakat sebagai bagian dari misi sang ‘Ulama, yaitu berdakwah, karena ‘Ulama adalah pewaris para nabi.
TA. TA bermakna Tarkul Ma’siyah (Meninggalkan Maksiat). Makna ini menegaskan bahwa santri harus senantiasa menjaga perilakunya. Dengan ilmu agama yang dimilikinya, seorang santri harus bisa menjaga idealismenya dalam berislam. Tetap memegang teguh syari’at islam yang menjadi dasar dari setiap pengambilan keputusan dikehidupannya.
RO. RO bermakna Roisul Ummah (Pelayan Ummat). Makna ini menekankan bahwa santri harus peduli kepada urusan Ummat Islam. Seperti yang kita ketahui, Pelayan memiliki dua tugas, yaitu pertama bagaimana dia beribadah kepada Alloh baik secara individu maupun sosial dan kedua bagaimana dia mengelola kepentingan Ummat. Disini santri yang berlabel sebagai pelayan harus memiliki kecakapan pribadi dan kecakapan sosial. Kecakapan pribadi bisa berbentuk kemampuan untuk mentarbiyah dirinya sendiri agar tetap memiliki motivasi untuk beribadah. Kemudian kecakapan sosial bisa berbentuk kepiawaian dalam berpolitik, keramahan dalam berkomunikasi dengan lingkungan, dan bisa berlaku adil terhadap suatu perkara.
Betapa berat sekali makna santri bagi kehidupannya sendiri dan kehidupan masyarakat. Sama beratnya dengan tanggung jawab yang harus dipikul oleh santri. Seorang santri diharuskan memiliki perangai yang terpuji (Menutup Aurat, Meninggalkan Maksiat) dan mampu melayani Ummat (Wakil ‘Ulama, Pelayan Ummat). Melalui lembaga pesantrenlah santri ditempa dan dididik.
SEJARAH PESANTREN
Pesantren sebagai wadah yang menempa kehidupan santri agar tercapai apa yang yang menjadi makna dari kata santri itu sendiri, tentulah memiliki sejarahnya tersendiri. Berdirinya pesantren sebenarnya memiliki latar belakang yang beragam. Tapi jika ingin ditarik garis lurus, maka pesantren itu ada untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan ilmu pengetahuan. Masyarakat memiliki kepercayaan kepada Kiai setempat akan keluasan ilmu dan budi pekertinya yang baik. Pada ujungnya berakhir dengan datangnya masyarakat secara berbondong-bondong untuk menuntut ilmu kepada Kiai tersebut.
Biasanya, pesantren terkenal di pulau Jawa-Madura, karena awal berdirinya pesantren bermula di Pulau Jawa-Madura. Ada dua pendapat yang menyebutkan seputar berdirinya pesantren.
Pertama, pesantren muncul dari tarekat-tarekat. Pada zaman dulu, syiar Islam bergerak melalui tarekat-tarekat. Tarekat ini senantiasa mengamalkan dzikir dan wirid tertentu dengan panduan seorang Kiai. Biasanya tarekat ini bergerak dari masjid ke masjid dan berdiam diri di masjid tersebut dalam kurun waktu tertentu. Seperti ber ‘Itikaf. Saat berdiam diri di masjid tersebut, Kiai mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam disamping dzikir dan wiridan. Seiring dengan perkembangan zaman, tarekat ini membentuk sebuah lembaga pendidikan Islam yang dikenal dengan pesantren.
Pendapat kedua menyebutkan bahwa pesantren sudah ada sejak zaman kerajaan Hindu-Budha eksis di Nusantara. Kerajaan Hindu-Budha membentuk sebuah lembaga-lembaga syiar agama Hindu-Budha dan membina kader-kadernya untuk penyebaran ideologi. Sistemnya sama seperti pesantren yang dikenal saat ini. Fakta ini diperkuat dengan tidak ditemukannya lembaga pesantren di negeri Islam yang lain. Sementara ditemukan dalam masyarakat Hindu-Budha di Myanmar, Thailand. Nurcholis Madjid juga menyebutkan bahwa Islam masuk ke Nusantara dengan memanfaatkan sistem dari lembaga (pesantren) yang sudah ada. Islam datang tinggal hanya mengIslamkan. Sehingga pesantren ini tidak hanya diidentikkan dengan Islam, melainkan juga mengandung makna keaslian Indonesia.
SEDIKIT POTRET DARI DALAM PESANTREN
Saya mengambil sudut pandang dari pengalaman saya sendiri tentang kehidupan di pesantren. Walau cukup singkat saya berada di dalam sebuah wadah penempaan santri ini, tiga tahun, tetapi secara garis besar mungkin bisa merepresentasikan apa yang terjadi di pesantren-pesantren lain di seantero Pulau Jawa.
Pesantren yang terletak di kaki Gunung Gede-Pangrango, Jln. SPN Lido, Desa Srogol, Kecamatan Cigombong, Kab.Bogor, Jawa Barat, bisa dikatakan memiliki latar belakang budaya masyarakat yang unik, yaitu masyarakat Sunda. Kenapa saya bilang unik, karena saya berasal dari Kota Depok, Jawa Barat, yang masyarakatnya memiliki beragam latar belakang budaya. Saya tidak terbiasa dengan pengajaran berbahasa Sunda. Ini terasa aneh manakala ada pengejaan huruf “F” menjadi “P” di beberapa pengajar asli daerah sekitar pesantren. Atau mengartikan bahasa Arab kedalam bahasa sunda dengan logat-logat yang khas. Sangat menarik, walau sewaktu SD saya pernah belajar bahasa sunda di muatan lokal, tapi tetap saja saya tidak terlalu memahaminya.
Pesantren yang saya tempati bisa terbilang pesantren modern. Parameter modern bukan berarti fasilitasnya yang serba canggih, ada alat fitness, gedung asrama yang berlantaikan keramik dan berdindingkan semen. Tetapi parameter modern yang dimaksud adalah berupa pelajaran-pejaran ilmu dunia yang masuk ke dalam kurikulum pesantren. Jangan dikira di pesantren tidak ada pelajaran Biologi, Fisika, Matematika. Satu hal yang diingat, pesantren telah mengalami perubahan penyuguhan ilmu kepada santrinya. Kalau dulu terkenal istilah “Pesantren Tradisional” karena kurikulum yang ada di pesantren hanya memuat pelajaran ilmu agama dan ilmu tasawuf. Sedangkan sekarang, terjadi yang disebut Nurcholis Madjid sebagai “modernisasi”. Bagi Nurcholis Madjid, modernisasi identik dengan “rasionalisasi”, karena rasionalisasi adalah sebuah kemestian agar apa yang para santri sampaikan terkait Islam, bisa diterima oleh masyarakat secara rasional/logis.
Oleh karenanya, ilmu-ilmu dunia seperti Matematika, Fisika, Biologi itu sangat diperlukan oleh santri dalam merasionalisasikan hubungan agama dengan realita alam semesta. Dalam contoh kasus penciptaan alam semesta, bagaimana santri bisa menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan penciptaan alam semesta jika santri tidak memiliki pengetahuan Fisika yang cukup ? Atau pada proses penciptaan manusia, bagaimana santri bisa mengerti maksud ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang proses penciptaan manusia jika santri tidak menguasai ilmu Biologi ? Itulah bentuk modernisasi pesantren yang bisa kita lihat saat ini.
Dalam kondisi pesantren yang bisa dibilang “modern”, tentunya tidak melupakan begitu saja ilmu agama yang dari awal kemunculannya menjadi corak khas pesantren. Seperti misalnya Fiqh, Siroh Nabawiyah. Kemudian untuk meningkatkan keahlian dalam berbahasa Arab (salah satu ciri khas lain pesantren) santri juga belajar bahasa Arab. Kitab yang dipakai saya lupa, hanya saja dari informasi yang didapat kitab tersebut adalah kitab untuk masa ‘Idad (persiapan) untuk berkuliah di LIPIA, Jakarta. Selain itu, santri juga diharuskan menghafal mufrodat (kosa kata bahasa Arab), muhadatsah (percakapan) dengan menggunakan bahasa Arab, atau kegiatan besarnya yang dilaksanakan satu kali setiap seminggu adalah muhadhoroh. Pada momen ini, biasanya santri akan berpidato dalam tiga bahasa, yakni Inggris, Arab, dan Indonesia. Tak terlewatkan juga santri ditingkatkan kemampuannya dalam penguasaan gramatikal bahasa Arab. Kitab yang digunakan adalah kita Jurumiyah.
FIQH
Kitab Fiqh yang dikaji dan dipelajari adalah Fiqh Sunnah (Sayyid Sabiq). Kitab Fiqh ini kira-kira berukuran setengah kertas A4. Semua bertuliskan huruf Arab. Dengan dibimbing oleh Kiai, satu persatu kalimat-kalimat Arab diartikan kedalam bahasa Indonesia. Selain menambah wawasan keislaman, tentunya ini dimaksudkan agar kosa kata bahasa Arab yang diketahui santri akan bertambah.
SIROH NABAWIYAH
Kitab Siroh Nabawiyah yang menceritakan sejarah kehidupan Nabi Muhammad semenjak kelahiran sampai wafatnya beliau. Ukuran kitabnya sama dengan kitab Fiqh. Bahasa tulisannya pun sama, yaitu tulisan Arab. Metode yang dipakai sama dengan pengajaran pada kitab Fiqh. Pengejaan satu per satu kata bahasa Arab kemudian diartikan kedalam bahasa Indonesia.
MUFRODAT & MUHADATSAH
Biasanya agenda ini dilakukan selepas subuh sampai jam 6 pagi di lapangan. Tiap santri berpasang-pasangan dengan kawannya sambil menggenggam kertas yang berisi kosa kata dan percakapan berbahasa Arab. Itu semua dihafalkan, kemudian percakapan tersebut didemokan tanpa melihat kertas. Yang sudah hafal dan lancar bisa pulang duluan ke asrama.
MUHADHOROH
Agenda ini dilakukan satu kali dalam rentang waktu satu minggu. Isi agendanya berupa pidato bahasa Inggris, Arab, dan Indonesia. Setelah itu ada agenda tambahan berupa hiburan teatrikal persembahan santri. Dan digilir tiap kamar di dalam asrama.
KITAB JURUMIYAH
Ini adalah kitab yang digunakan untuk belajar gramatikal bahasa Arab. Ukurannya sama seperti kertas Folio. Berwarna kuning. Berisi tulisan Arab, hanya saja tulisan Arab yang tidak ada tanda bacanya alias Arab gundul. Kiai yang mengajari mengeja kata per kata kemudian diartikan kedalam bahasa Indonesia sekalian para santri belajar menambahkan tanda baca pada tulisan Arab yang ada. Sangat kental sekali istilah Na’at Man’ut, Jar Majrur, Itsim Mutsanna, Itsim Muannas, Itsim Mudzakkar.
HARI BERBAHASA ARAB & HARI BERBAHASA INGGRIS
Ada suatu hari yang ditentukan kepada semua santri untuk berbahasa Arab. Begitupun berbahasa Inggris. Sangat berguna sekali untuk memperlancar kemampuan santri dalam berkomunikasi menggunakan bahasa non-Indonesia.
RUTINITAS HARIAN
Untuk rutinitas harian, santri laki-laki (santriwan) dan santri perempuan (santriwati) selalu dipisah dalam segala aktifitasnya, begitupun asrama dan ruang kelas. Pagi-pagi berangkat sekolah untuk belajar ilmu agama dan ilmu dunia. Selepas dzuhur istirahat sampai ashar. Selepas ashar sampai maghrib baru kembali beraktifitas dengan segudang pilihan olah tubuh. Tak lupa pula sesaat menjelang maghrib diisi dengan wirid alma’tsurat. Dulunya memang terlihat seperti tidak mungkin alma’tsurat itu di hafalkan. Dan pada kenyataannya memang saya tidak pernah menghafalnya. Dengan sendirinya bacaan wirid itu melekat di kepala seiring dengan bertambahnya tingkat kerutnan dalam membacanya.
Ada hal yang sangat berkesan diantara waktu maghrib dan isya’. Begitupun selepas subuh jika tidak ada agenda Muhadatsah. Yaitu para santri menghafal Al-Qur’an. Tak terasa juz demi juz berhasil dihafal. Cita-cita yang terpatri di diri santri pada waktu itu adalah “Aku harus menjadi seorang hafidz”. Dengan cita-cita yang begitu mulia serta lingkungan yang sangat kondusif, santri terus termotivasi untuk mengembangkan dirinya. Walau memang ada sedikit penyimpangan-penyimpangan gejolak kaum muda, tapi itu bisa terkondisikan. Tidak terlalu berlarut-larut. Kadang saya berfikir, dengan lingkungan yang kondusif dan interaksi antara santriwan-santriwati yang minim, ternyata bisa meningkatkan ghiroh beramal. Setelah bertahun lamanya saya berpisah dari dunia kepesantrenan, mungkin hal inilah yang terlupakan. Bisa jadi berkurangnya ghiroh beramal kita dikarenakan terlalu banyak memikirkan tentang materil serta terlalu sibuk menata hati yang sedang diliputi syahwat sesaat hingga lupa terhadap tugas pokok sebagai seorang muslim.
SANTRI DAN GLOBALISASI
Globalisasi adalah sebuah masa dimana manusia terhubung tanpa melihat batas territorial Negara. Hubungan yang terjalin biasanya hubungan dagang antar Negara, hubungan karena adanya perjalanan melintasi benua, hubungan karena penyebaran budaya, dan bentuk hubungan lainnya yang membuat batas Negara seakan tidak terlihat.
Menurut Thomas L. Friedman, Globlisasi memiliki dimensi ideologi dan teknlogi. Dimensi ideologi yaitu kapitalisme dan pasar bebas, sedangkan dimensi teknologi adalah teknologi informasi yang telah menyatukan dunia. Seperti yang diketahui, pertengahan abad 20 menjadi momen penting dimana globalisasi sebagai proses bisa berkembang dengan cepat. Melirik definisi globalisasi yang diutarakan Thomas, bahwa telah terjadi ledakan dalam dimensi teknologi, ditandai dengan kemunculan internet sebagai suatu hal yang membuat arus informasi dari seluruh penjuru dunia mengalir sangat cepat, disamping dimensi ideologi kapitalis yang dibawa sehingga sangat menguntungkan para pemodal. Hal ini tentunya juga berpengaruh terhadap kehidupan santri.
Salah satu contohnya adalah kurikulum pesantren yang tentunya langsung berhubungan dengan proses belajar santri. Kalau ingin dikaitkan dengan bahasan sebelumnya, modernisasi pesantren dalam tataran kurikulum rupanya termasuk dari dampak globalisasi. Dimana ummat islam harus mencari cara agar anak mudanya tidak menjadi kuno di eranya. Maka dari itu ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu pasti mulai dimunculkan dan dimasukkan ke dalam satuan pembelajaran dengan tetap diiringi ilmu agama. Tujuan dan harapannya tak lain agar santri lebih mudah beradaptasi dan mampu menjalankan amanat huruf “RO” yang menyusunnya, yaitu Roisul Ummah.
Dilihat dari segi komunikasi, sudah mulai bertebaran alat komunikasi di genggaman santri era global ini. Dengan adanya alat komunikasi tentunya semakin mudah santri untuk berhubungan dengan orang lain, termasuk dengan lawan jenisnya. Karenanya, mungkin sekarang tak asing lagi jika komunikasi antara santriwan dan santriwati bisa terlihat sangat cair. Biasanya, suasana cair tersebut terlihat di media-media sosial, tapi gagap ketika bertemu tatap muka. Tapi hal tersebut cenderung terjadi kepada santriwan-santriwati di masa-masa awal proses globalisasi, menuju proses globalisasi yang lebih matang, bermunculanlah VCD/CD film yang mempertontonkan ketidak canggungan interaksi lawan jenis, wal hasil, santriwan dan santriwati pun semakin pintar dalam berkomunikasi. Seperti itulah santri di era global ini. Walau saya tidak menafikan bahwa masih ada santri yang menjaga imunitasnya dan terus memperkuat imunitasnya. Apakah itu semua terjadi hanya kepada santri ? Tentu tidak. Banyak kalangan muda yang non-santri mengalami hal serupa. Tetapi setidaknya dengan menjadi santri sudah terminimalisirlah resiko-resiko negatif yang ada.
MASIH ADAKAH SIN, NUN, TA, RO ?
Duhai kawan-kawan yang pernah merasakan nikmat dan indahnya kehidupan pesantren, bahwa sesungguhnya Alloh pasti menguji orang yang dicintainya. Saya teringat kepada sebuah syair yang ditulis oleh seorang Mujahidin Iraq, Abu Mush’ab Az-Zarqawi.
Bersabarlah dalam mengahadapi kengerian !
Karena kelak engkau akan memetik buahnya
Sabar hanyalah milik orang-orang yang mulia
Dan dari sabar itu Alloh tumbuhkan ketenangan
“Sungguh, kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka Alloh pasti menegetahui orang-orang yang jujur (benar) dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut : 3)
Memang sangat berat tantangan globalisasi yang menghampiri kita. Segalanya bisa berubah dengan cepat jika imunitas yang telah ditancapkan oleh para Asatidz semakin hari semakin melemah dan semakin diperlemah dengan kebodohan karena ketidaktahuan kita terhadap suatu perkara dunia dalam sudut pandang syari’at Islam.
Memang berat manakala diri kita menanggung keterasingan sebagai cap dari masyarakat sekitar dikala kita mengamalkan sikap kesantrian kita yang telah dibentuk oleh para Asatidz di pesantren. Ibnu Taimiyah pun berkata tentang keterasingan, “bisa jadi keterasingan itu terjadi pada sebagian syari’atNya, atau pada sebagian wilayah. Misalnya saja di sebuah wilayah, syariat-syariat Alloh tidak diketahui banyak orang, sehingga para pengamalnya pun merasa terasingdi tengah-tengah masyarakat tersebut. Tidak ada yang mengerti disyariatkannya amal tersebut kecuali satu atau dua orang saja.”
Duhai kawan-kawan ku sesama santri. Ternyata baru ku sadari bahwa sang penanggung keterasingan adalah sang penghidup zaman. Keterasingan, bahkan kesendirian, merupakan jalan hidup para nabi dan rosul sejak dulu kala. Sebagaimana sabda Rosul, “Islam datang dalam keadaan terasing dan akan kembali asing sebagaimana datangnya. Maka berbahagialah orang-orang yang terasing.” (HR. Muslim).
Duhai kawan-kawan ku sesama santri. Imun yang bisa kita gunakan di era ini dan saat ini juga adalah kesabaran. Sama seperti yang dulu nabi-nabi gunakan. Tanpa sabar, mustahil agama seseorang bisa selamat. Itulah kenapa Nabi SAW menyebut hari-hari keterasingan sebagai hari-hari kesabaran.
Setalah bersabar, maka perkuatlah kesabaran itu dengan keyakinan. Karena dengan sabar dan yakin, akan membuat hati kita menjadi tenang. Dengan kayakinan bahwa Alloh yang memerintahkan kita untuk mengerjakan amal-amal soleh, insya Alloh, akan ditambahkan olehNya keyakinan kita akan apa yang kita lakukan sehingga hati kita pun menjadi semakin tenang. Seperti yang Alloh sampaikan, “Dialah yang telah menurunkan ketenangan kedalam hati orang-orang mukmin, supaya keimanan mereka bertambah, disamping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Alloh lah tentara langit dan bumi, dan Alloh maha mengetahui lagi maha bijaksana.” (Al-Fath :4).
Terakhir, saya ingat kepada sebuah ayat yang sering dibacakan oleh Ustadz saya di sebuah bilik bambu yang berdiri tegak dipinggir empang dan ditengah rimbunnya pepohonan, “Hai ornag-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan solat sebagai penolong mu, sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqoroh : 153).
Harapan bagi santri untuk menjadi SIN, NUN, TA, RO tetap terbuka lebar, ketika santri menjadikan sabar sebagai tamengnya dan selalu memperkuat kesabarannya dalam menghadapi perubahan zaman dengan segala likunya.
Teringatkah kita dengan kisah perang Uhud, dimana tentara pemanah tidak sabar menahan dirinya untuk ikut membantu pasukan dalam mengumpulkan Ghanimah ?
Sabar dalam memulai, sabar dalam pelaksanaannya, dan sabar setelah semuanya usai dilaksanakan.

Daftar Pustaka . http://doupafia.wordpress.com/2013/04/04/kontemplasi-seorang-santri/

Jumat, 08 November 2013

Pengertian Evaluasi (Penilaian), Pengukuran, Tes, dan Asesmen

Pengertian Evaluasi (Penilaian), Pengukuran, Tes, dan  Asesmen

Kali ini blog mencoba menyajikan kembali mengangkat topik penilaian, setelah sebelum menulis tentang Prinsip-Prinsip Penilaian, kemudian tentang Penilaian Afektif, dan juga Penilaian Psikomotor. Topik kali ini bersifat mendasar sekali, yaitu tentang pengertian evaluasi, pengertian penilaian, pengertian pengukuran, pengertian tes, dan pengertian asesmen. Topik ini tampaknya sangat menarik dan perlu untuk dibahas karena begitu simpang siurnya definisi istilah-istilah tersebut di internet. Setelah melakukan kajian terhadap berbagai definisi tentang evaluasi, penilaian, tes, pengukuran, hingga asesmen, maka dapatlah dibuat artikel ini yang tujuannya untuk mendudukkan kembali semua istilah itu pada tempatnya yang tepat. Pada tulisan ini kami hanya mengambil definisi-definisi dari para ahli  yang telah diakui kredibilitasnya di bidang pendidikan dan psikologi pendidikan.

Pengertian Evaluasi (Penilaian) Menurut Para Ahli

  • Sudiono, Anas (2005) mengemukakan bahwa secara harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation, dalam bahasa Indonesia berarti penilaian. Akar katanya adalah value yang artinya nilai. Jadi istilah evaluasi menunjuk pada suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.
  • Frey, Barbara A., and Susan W. Alman. (2003): Evaluation The systematic process of collecting, analyzing, and interpreting information to determine the extent to which pupils are achieving instructional objectives. (Artinya: Evaluasi adalah proses sistematis pengumpulan, analisis, dan interpretasi informasi untuk menentukan sejauh mana siswa yang mencapai tujuan instruksional).
  • Mardapi, Djemari (2003), penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan hasil pengukuran.
  • Zainul, Asmawi dan Noehi Nasution (2001), mengartikan penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes.

Kesimpulan Tentang Pengertian Evaluasi:

  • Evaluasi berasal dari akar kata bahasa Inggris value yang berarti nilai, jadi istilah evaluasi sinonim dengan penilaian.
  • Evaluasi merupakan proses sistematis dari mengumpulkan, menganalisis, hingga interpretasi (menafsirkan) data atau informasi yang diperoleh.
  • Data atau informasi diperoleh melalui pengukuran (measurement) hasil belajar.melalui tes atau nontes.
  • Evaluasi bersifat kualitatif.

Pengertian Pengukuran (Measurement) Menurut Para Ahli

  • Alwasilah et al.(1996), measurement (pengukuran) merupakan proses yang mendeskripsikan performa siswa dengan menggunakan suatu skala kuantitatif (sistem angka) sedemikian rupa sehingga sifat kualitatif dari performa siswa tersebut dinyatakan dengan angka-angka
  • Arikunto dan Jabar (2004) menyatakan pengertian pengukuran (measurement) sebagai kegiatan membandingkan suatu hal dengan satuan ukuran tertentu sehingga sifatnya menjadi kuantitatif.
  • Cangelosi, James S. (1995), pengukuran adalah proses pengumpulan data secara empiris yang digunakan untuk mengumpulkan informasi yang relevan dengan tujuan yang telah ditentukan.
  • Sridadi (2007) pengukuran adalah suatu prose yang dilakukan secara sistematis untuk memperoleh besaran kuantitatif dari suatu obyek tertentu dengan menggunakan alat ukur yang baku.

Kesimpulan Tentang Pengertian Pengukuran:

  • Kegiatan pengukuran dilakukan dengan membandingkan hasil belajar dengan suatu ukuran tertentu. 
  • Dilakukan dengan proses sistematis. 
  • Hasil pengukuran berupa besaran kuantitatif (sistem angka). 
  • Pengukuran menggunakan alat ukur yang baku.

Pengertian Asesmen Menurut Para Ahli

  • Angelo T.A.(1991): Classroom Assessment is a simple method faculty can use to collect feedback, early and often, on how well their students are learning what they are being taught. (Artinya: asesmen Kelas adalah suatu metode yang sederhana dapat digunakan untuk mengumpulkan umpan balik, baik di awal maupun setelah pembelajaran tentang seberapa baik siswa mempelajari apa yang telah diajarkan kepada mereka.)
  • Kizlik, Bob (2009): Assessment is a process by which information is obtained relative to some known objective or goal. Assessment is a broad term that includes testing. A test is a special form of assessment. Tests are assessments made under contrived circumstances especially so that they may be administered. In other words, all tests are assessments, but not all assessments are tests. (Artinya : asesmen adalah suatu proses dimana informasi diperoleh berkaitan dengan tujuan pembelajaran. Asesmen adalah istilah yang luas yang mencakup tes (pengujian). Tes adalah bentuk khusus dari asesmen. Tes adalah salah satu bentuk asesmen. Dengan kata lain, semua tes merupakan asesmen, namun tidak semua asesmen berupa tes)
  • Overton, Terry (2008): Assesment is a process of gathering information to monitor progress and make educational decisions if necessary. As noted in my definition of test, an assesment may include a test, but also include methods such as observations, interview, behavior monitoring, etc. (Artinya: sesmen adalah suatu proses pengumpulan informasi untuk memonitor kemajuan dan bila diperlukan pengambilan keputusan dalam bidang pendidikan. Sebagaimana disebutkan dalam definisi saya tentang tes, suatu asesmen bisa saja terdiri dari tes, atau bisa juga terdiri dari berbagai metode seperti observasi, wawancara, monitoring tingkah laku, dan sebagainya).
  • Palomba and Banta(1999), Assessment is the systematic collection , review , and use of information about educational programs undertaken for the purpose of improving student learning and development (Artinya: asesmen adalah pengumpulan, reviu, dan penggunaan informasi secara sistematik tentang program pendidikan dengan tujuan meningkatkan belajar dan perkembangan siswa).

Kesimpulan Tentang Pengertian Asesmen:

  • Asesmen merupakan metode dan proses yang digunakan untuk mengumpulkan umpan balik tentang seberapa baik siswa belajar.
  • Dapat dilakukan di awal, di akhir (sesudah), maupun saat pembelajaran sedang berlangsung.
  • Asesmen dapat berupa tes atau nontes.
  • Asesmen berupa nontes misalnya penggunaan metode observasi, wawancara, monitoring tingkah laku, dsb.
  • Hasilnya dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.
  • Bertujuan meningkatkan belajar (pembelajaran) dan perkembangan siswa.

Pengertian Tes Menurut Para Ahli

  • Wayan Nurkencana (1993), tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas yang harus dikerjakan anak atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak tersebut yang kemudian dapat dibandingkan dengan nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau standar yang telah ditetapkan
  • Overton, Terry (2008): test is a method to determine a student’s ability to complete certain tasks or demontstrate mastery of a skill or knowledge of content. Some types would be multiple choice tests or a weekly spelling test. While it commonly used interchangeably with assesment, or even evaluation, it can be distinguished by the fact  that a test is one form of an assesment. (Tes adalah suatu metode untuk menentukan kemampuan siswa menyelesaikan sejumlah tugas tertentu atau mendemonstrasikan penguasaan suatu keterampilan atau pengetahuan pada suatu materi pelajaran. Beberapa tipe tes misalnya tes pilihan ganda atau tes mengeja mingguan. Seringkali penggunaannya tertukar dengan asesmen, atau bahkan evaluasi (penilaian), yang mana sebenarnya tes dapat dengan mudah dibedakan berdasarkan kenyataan bahwa tes adalah salah satu bentuk asesmen.)

Kesimpulan Tentang Pengertian Tes:

  • Tes adalah cara atau metode untuk menentukan kemampuan siswa menyelesaikan tugas tertentu atau mendemonstrasikan penguasaan suatu keterampilan atau pengetahuan.
  • Beberapa tipe tes misalnya tes pilihan ganda atau tes mengeja mingguan.
  • Tes adalah salah satu bentuk asesmen

Diagram Kedudukan Istilah Evaluasi, Penilaian, Pengukuran, Asesmen, dan Tes. 

Perhatikan Gambar berikut, yang merupakan diagram kedudukan istilah evaluasi, penilaian, pengukuran, asesmen, dan tes yang seringkali membingungkan. Diagram dibuat berdasarkan induksi dari pengertian evaluasi (penilaian), penegertian pengukuran, pengertian asesmen, dan pengertian tesmenurut para ahli di atas.
kedudukan istilah evaluasi di antara istilah sejenis
Diagram yang menunjukkan kedudukan istilah-istilah "Evaluasi", "Penilaian", "Pengukuran", "Asesmen", dan "Tes"

Referensi:

  • Alwasilah, et al. (1996). Glossary of educational Assessment Term. Jakarta: Ministry of Education and Culture.
  • Anas sudiono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta:PT.Grafindo persada, 2001.
  • Angelo, T.A., (1991). Ten easy pieces: Assessing higher learning in four dimensions. In Classroom research: Early lessons from success. New directions in teaching and learning (#46), Summer, 17-31.
  • Arikunto, S & Jabar. 2004. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
  • Calongesi, James S. 1995. Merancang Tes untuk Menilai Prestasi Siswa. Bandung : ITB
  • Frey, Barbara A., and Susan W. Alman. (2003). Formative Evaluation Through Online Focus Groups, in Developing Faculty to use Technology, David G. Brown (ed.), Anker Publishing Company: Bolton, MA.
  • Kizlik, Bob. (2009). Measurement, Assessment, and Evaluation in Education. Online : http://www.adprima.com/measurement.htm diakses tanggal 20-01-2013.
  • Mardapi, Djemari (2003). Desain Penilaian dan Pembelajaran Mahasiswa. Makalah Disajikan dalam Lokakarya Sistem Penjaminan Mutu Proses Pembelajaran tanggal 19 Juni 2003 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
  • Overton, Terry. (2008). Assessing Learners with Special Needs: An Applied Approach (7th Edition). University of Texas - Brownsville
  • Palomba, Catherine A. And Banta, Trudy W. (1999). Assessment Essentials: Planning, Implementing, Improving. San Francisco: Jossey-Bass
  • Sridadi. (2007). Diktat Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran Penjas. Yogyakarta: FIK UNY.
  • Wayan Nurkencana. (1993). Evaluasi Pendidikan. Surabaya : Usaha Nasional.
  • Zainul, Asmawi dan Noehi Nasution. 2001. Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Metode Pembelajaran IPS "Mendadak Kliping" (Masa Pra Aksara)

Penjelasan umum
Kliping adalah kumpulan artikel yang didapatkan dari media massa, misalnya : majalah, koran maupun tabloid. Dalam sebuah pembelajaran biasanya sebuah kliping dibuat oleh siswa di luar kelas atau biasanya manjadi tugas kelompok ataupun pekerjaan rumah. Dalam metode pembelajaran ini kliping dikerjakan di kelas dengan batas waktu tertentu  sehingga guru dapat langsung melihat kinerja siswanya. Makanya dinamakan metode "Mendadak kliping".
Persiapan
1. Pada minggu sebelumnya kepada siswa, guru menyampaikan agar siswa membawa peralatan berupa : gunting dan lem kertas. Tugas ini bisa dilakukan untuk tugas kelompok.
2. Guru mencari gambar atau materi di internet khusus lewat mesin pencari "google".
3. Pilih salah satu gambar tersebut yang kemudian dicopy ke program microsoft word yang terdiri atas gambar menhir, dolmen, sarkofagus, punden berundak dan kubur batu seperti gambar di bawah ini.
Pelaksanaan 
1. Print gambar yang kita buat di MS Word tadi. 
2. Sedia beberapa kertas HVS kosong yang nanti diberikan kepada tiap kelompok.
3. Siswa mengunting gambar yang tadi disediakan dan menempelnya ke lembar kertas yang kosong tadi.
 
4. Tugas untuk isi kliping adalah gambar, nama benda itu dan fungsi gambar tersebut.
5. Semua tugas dikerjakan dengan tulisan tangan deang menggunakan spidol warna-warni agar lebih menarik.
Penyelesaian
Penilaian didasarkan pada ketepatan informasi dalam kliping dan keindahan dari kliping tersebut.
Semoga ini bermanfaat terima kasih.

Selasa, 21 Mei 2013

10 Besar Kesalahan Yang Dibuat Para Pemimpin

10 Besar Kesalahan Yang Dibuat Para Pemimpin - Salah satu peran kepemimpinan Hans Finzel yang pertama kalinya ialah pada saat ia menjadi Boy Scout (Pramuka) dan sejak berumuran 15 tahun menjadi kepala koki di sebuah restoran yang bernama “Shoney’s”. dan kebiasaan buruk sebagai pemimpin melanda generasi baru dari para pemimpin yang tidak mampu atau kebiasaan-kebiasaan itu cukup menciptakan ketidaknyamanan sehingga para pemimpin berusaha mencari tahu bagaimana caranya melakukan dengan benar. Dari semua pengalamannya sebagai Pemimpin yang telah di cerikan dalam buku ini, Hans memberikan gambaran sepuluh kesalahan kepemimpinan :



1.    Sikap Top-Down (memerintah) - 10 Besar Kesalahan Yang Dibuat Para Pemimpin

Dikatakan dalam buku yang dituliskan oleh Hans ini, sikap top-down ini adalah ibarat ibu dari segala hambatan kepemimpinan lainnya. Kalau kita memilikinya, sikap ini akan menyebar ke segala yang kita sentuh sebagai pemimpin. Jadi, cara-cara memimpin yang hendaknya dilakukannya tidak digunakan. Di dalam sebuah konferensi Hans ditanyai oleh seorang pria yang datang kepadanya lalu ia bertanya : “yang mana sih nomor satu, dari sepuluh besar kesalahn pemimpin itu ? “kemudian Hans menjawab : “saya yakin dosa kepemimpinan nomor satu adalah kesombongan otokratis yang memerintah”

Pendekatan memrintah dalaam kepemimpinan didasarkan pada model militer memberikan perintah-perintahnya kepada para bawahannya yang lemah. Intinya seperti ini :”Sayalah yang memimpin di sini, dan semakin cepat kamu menyadarinya, semakin baik,,!! Dari kutipan di atas yang menggunakan model militer ini, seolah-olah yang lemah semakin tertindah dengan menggunakan sikap top-down ini.
Mengapa banyak orang yang jatuh ke dalam perangkap sikap kepemimpinan yang memerintah ini? Karena setidaknya ada lima alasan :
  • Sudah Tradisi. Secara historis kepemimpinan yang otokratis yang memerintah telah menjadi metode yang paling umum dipraktekkan.
  • Paling Umum. Sekalipun telah banyak ditulis tentang bentuk-bentuk kepemimpinan lainnya, kepemimpinan yang memerintah tetap paling umum.
  • Paling Mudah. Adalah jauh lebih mudah untuk sekedar memberitahu orang apa yang harus meraka perbuata ketimbang mencoba gaya-gaya kepemimpinan lain yang jauh lebih efektiff.
  • Alami. Diri yang alami memilih sikap dominan terhadap yang lain dan berusaha memupuk kekuasaan yang dapat diperlakukan atas orang lain.

Solusi yang baik dari Sikap Top-Down ini sebagai berikut :
  • Manjemen Partisipatif. Yaitu memberikan keisstimewaan kepada pekerja atau anggota tentang masukan sebelum kita mengambil tindakan. Ini memang lebih rumit serta memakan waktu yang lama, namun memotivasi serta menginspirasikan orang banyak.
  • Gaya Fasilitor. Pandanglah peran anda sebagai fasilitor yang memungkinkan mereka yang bekerja untuk anda meraih sukses. Keberadaan anda adalah untuk memberdayakan yang lain demi efektifnya kerja.
  • Kepemimpinan yang Demokratis. Bangunlah sebuah tim kepemimpinan dengan proses yang demokratis, yang memungkinkan kelompok memiliki peran penting dalam sifat serta arah organisasi.
  • Karateristik Organisasi yang Datar. Pandanglah diri anda sebagai bersebeahan atau memimpin, namun bukannya sebagai puncak dari piramida raksasa.
  • Kepemimpinan yang Melayani.
2.    Mendahulukan Pekerjaan Administratif Ketimbang Urusan SDM.

Di sini saya mengambil tiga poin yang paling utama dari kesalahan kepemimpinan seperti ini. Pertama, “ semakin besar peran kepemimpinannya, semakin kurang tampaknya waktu bagi orang lain”. Maksudnya adalah di saat dia sudah berkuasa dan jabatanya semakin tinggi, dia akan kurang bergaul atau berteman dengan orang disekitarnya, dan prioritas utamanya adalah jabatanya dan harta, sehingga tidaka menempatkan dirinya dengan orang terdekatnya. Kedua, “semakin besar peran kepemimpinannya, semakin penting tugas mengembangkan sumber daya manusianya”. Ketiga, “Sumber daya manusia adalah peluang dan bukan interupsi”.

Solusi dari kesalahan ini adalah memberikan pandangan yang sama kepada bawahan atau anggota yang membantu kita karena tanpa mereka kita sebagai pemimpin tidaklah bisa memimpin dengan baik. Jadi, seorang pemimpin tidak boleh terjerumus dari sebuah kenikmatan administratif.
3.    Tak adanya Penegasan- 10 Besar Kesalahan Yang Dibuat Para Pemimpin

Di dalam sebuah organisasi atau lembaga yang kita pimpin kesalahan yang seperti ini benar adanya yaitu Tak Ada Penegasan dari seorang pemimpin. Para priset organisasi bertahun-tahun mengatakan bahwa penegasan motivasi orang jauh lebih lebih dari pada insentif keuangan, namun kita juga tetap tidak memahaminya. Manusia membutuhkan pujian. Ketimbang keberuntungan serta ketenaran, pujian lebih memuaskan orang yang bekerja untuk anda dan bersama anda.

Di dalam bukunya Hans ia bertanya kepada kita  “Berapa banyak boss yang mengharapkan rekan-rekannya bekerja dengan sendirinya  ? Apakah anda bekerja untuk seseorang yang mengharapkan yang tidak mungkin namun tidak pernah memberikan dorongan kepada anda ? kalau ya, saya tahu anda mengalami masa sulit dalam pekerjaan anda. Apakah orang-orang yang bekerja untuk anda tidak pernah ada berikan dorongan dengan kata penghargaan atau memodorongan ? cobalah dan apa reaksi mereka !

Dalam kutipan di atas saya bisa mengambil kesimpulan makna yang dimaksudkan oleh si penulis yaitu Hans. Sebuah pujian adalah obat yang suatu saat memberikan semangat untuk bekerja dan memotivasi diri untuk menjadi yang terbaik. Pemimpin dengan anggotanya harus saling memberikan dorongan untuk maju dan semangat.

Bagaimana cara kita memberikan dorongan kepada orang lain? Dalam buku Hans terdapat cara untuk memberikan dorongan kepada orang lain sebagai berikut :
  • Mendengarkan
  • Berempati
  • Menghibur 
  • Memikul beban 
  • Memberikan dorongan


4.    Tak Ada Tempat bagi Orang yang Lain Daripada yang Lain ?
Hans menghimbaukan kepada kita agar kita berada dalam institusi-isntitusi yang lebih tua, agar mengupayakan respons yang lebih fleksibel di tengah-tengah kebijakan serta prosedur. Kalunanda duduk dalam dewan dan memgang kendali, ambilah resiko dan bawalah darah muda yang baru ke dalam persamaannya. Anda akan takjub melihat apa yang dapat dibawakan oleh bebrapa wajah baru terhadap sebuah kelompok yang telah mandek. Berilah meraka ruang untuk sukses.

Hans juga mengatakan dalam bukunya, jangan biarkan kebijakan serta prosedur Anda mencekik bintang-bintang anda yang cemerlang. Bersikaplah fleksibel. Bengkokanlah aturan-aturan kalu anda percaya seseorang membutuhkan ruang lebih besar. Janganlah diperbudak dengan kebijakan yang anda buat.jangan biarkan itu menjadi persoalan yang menyingkirkan darah-darah muda yang paling menjanjikan. Ambillah resiko dan biarlah orang-orang melambung tinggi.  Ambillah nasihat ini dengan sungguh-sungguh sasaran hendaknya tidak pernah diambil dari kebijakan perusahaan loyalitas atau tradisi semata.

Bagaimana caranya mengenali orang-orang yang lain daripada yang lain yang dapat membawa anda ke masa depan :
  • Mereka bukan saja mementingkan ide-ide mereka sendirimelainkan juga sasaran organisasi.
  • Mereka membuat perbedaan dalam posisi mereka yang sekarang 
  • Mereka bersedia berjuang untuk didengarkan
  • Yang lain mengikuti kepemimpinan mereka
Bagaimana caranya memberikan dorongan orang-orang yang lain daripada yang lain yang dapat membantu anda :
  • Beri mereka ruang untuk melambung tinggi
  • Tugaskan mereka sesatu yang sungguh dapat mereka rasakan memiliki
  • Dengarkan ide-ide mereka dan beri mereka waktu untuk tumbuh
  • Biarkan mereka bekerja sendiri kalau mereka mau
  • Biarkan mereka sendiri dan beri waktu untuk berkembang
5.    Kediktatoran dalam Pengambilan Keputusan
Kepemimpinan yang dictator adalah apa yang saya sebut pandangan “kerasulan” dalam pengambilan keputusan : “ saya tahu jawaba-jawabannya, karena saya telah diberikan wawasan khusus, pengetahuan dan posisi. Oleh karena sayalah yang akan menentukan arah kita, karena sayalah pemimpinnya dan sayalah yang tahu yang terbaik”. Seolah-olah kepemimpinan seperti ini lebih tahu mana kepeutusan yang baik buatnya karena ada keistimewaan dari Yang Maha Kuasa.
Hans telah merangkum Bagaimana Para Diktator suka bersikap, sebagai berikut :
  • Menumpuk keputusan
  • Mengambil keputusan sendiri, dalam kekosongan
  • Memandang kebenaran serta hikmat sebagai terutama dibidang mereka sebagai pemimpin
  • Membatasi keputusan pada sebuah kelompok
  • Mengejutkan para pekerja dengan ketetapan dari atas

6.    Pendelegasian yang disesali
Pendelegasian ini adalah soal sikap menghargai. Tanggung jawab harus disertai dengan kewenangan untuk mengerjakannya. Hans menuliskan Unsur-unsur kunci untuk pendelegasian yang baik sebagai berikut :
  • Kepercayaan kepada orang lain dan kepada siapa anda mendelegasikan
  • Kelepasan hasrat untuk mengerjakannya sendiri dengan lebih baik
  • Rileks dari obsesi bahwa itu harus dikerjakan menurut cara anda 
  • Kesabaran untuk tidak ingin mengerjakannya sendiri dengan lebih cepat
  • Visi untuk mengembangkan orang lain dengan kebebasan pendelegasian yang anda berikan
7.    Kekacauan Komunikasi- 10 Besar Kesalahan Yang Dibuat Para Pemimpin
Kesalahan yang ini termasuk kesalahan yang sangat di alami oleh para pemimpin kita. Dalam bukunya Hans mengatakan “ Janganlah pernah mengasumsikan bahwa semua orang mengetahui segalanya”. Inilah inti dari kepemimpinan. Kita takkan pernah cukup berkomunikasi dalam organisasi saja. Orang-orang sangat perlu tahu apa yang ada dalam pikiran mereka yang yang berada di pusat kepemimpinan, seandainya mereka diharapkan merasa nyaman, aman, serta tahu tentang pekerjaan mereka.

Kominikasi terutama sangat penting dalam hal-hal yang lebih besar dalam kehidupan perusahaan. Hans mengatakan “saya dorong pemimpin untuk mengutarakan maksud/tujuan mereka, sasaran-sasaran kuncinya, dan nilai-nilai intinya, serta mengkhotbahkan semuanya itu dari atap rumah. Sesungguhnya, mengkhotbahkan maksud/tujuan serta nilai-nilai inti dari sebuah organisasi adalah salah satu tugas penting seseorang pemimpin.

Membersihkan kekacauan organisasi dalam sebuah organisasi tidaklah mudah. Kalau kita membangun sebuah organisasi dari nol, itu jauh lebih mudah. Kita memulai dari nol atau berusaha lebih setia dalam membersihkan komunikasi yang kabur, ada empat bidang dasar di mana para anggota kita harus jelas, sebagai berikut :
  • Visi dan Nilai-nilai kelompok
  • Rantai Komando
  • Struktur Organisasi
  • Uraian Pekerjaan
Dan bagaiman cara mengetahui kalau organisasi anda sedang kacau ? Tanyakanlah pada diri kita sendiri seberapa banyak gejala ini terjadi :
  • Kekacauan serta kebingunan tengtang arah kelompok
  • Perdebatan atau ketidaksamaan tentang prioritas
  • Duplikasi kerja
  • Tersia-siakannya sumber daya akibat pekerjaan yang dibatalkan di tengah jalan
  • Konflik antar departemen 
  • Moral yang rendah
  • Produktivitas yang rendah
  • Sumber-sumber daya menganggur
  • Ketidaktentraman dalam bekerja
8.    Tidak Tahu Apa-apa tentang Budaya Perusahaan
Budaya perusahaan sebuah organisasi adalah cara orang-orang dalam berprilaku berdasarkan nilai-nilai serta tradisi kelompok yang mereka pegang. Sehingga, apabila ada orang asing yang masuk ke dalam organisasi yang belum pernah ia masuki, maka ia akan merasakan hal-hal yang berbeda, karena budaya yang ia masuki adalah budaya yang tidak sama dengan budaya yang pernah ia masuki.hans memberikan kita contoh dalam masalah ini, kalau anda menikah, anda akan rasakan dosis yang kuat dari budaya perusahaan ketika Anda sadari bahwa keluarga pasangan Anda tidaklah seperti keluarga. Masing-masing keluarga, seperti masing-masing organisasi memiliki nilai-nilanya sendiri yang menciptakan seperangkat pola perilaku yang unik.
Dan bagaimana cara mengarahkan budaya perusahaan anda sebagai berikut :
  • Tuliskan budaya Anda sendiri. Menuliskan nilai-nilai serta keyakinan anda sendiri dan gunakan satu halaman untuk menuliskan nilai dan keyakinan anda tersebut.
  • Buatlah daftar nilai perusahaan yang telah disepakati bersama. 
  • Kembangkanlah suatu pernyataan visi bagi kelompok anda
  • Komunikasikanlah budaya Anda secara jelas kepada orang dalam maupun orang luar.
9.    Sukses tanpa pengganti
Lyle Schaller mengatakan “Dari semua kesalahan menyangkut peralihan kepemimpinan, yang paling sering terjadi ada dua : pemimpin cendrung terlalu lama bertahan dalam posisinya dan pemimpin yang terlalu lama bertahan lebih banyak merusak”.

Pemimipin yang terlalu lama bertahan ia akan merasakan bahwasanya dialah seorang yang pantas memimpin kelompok tersebut dan ini akan menimbulkan kerusakan pada kepemimpinannya. Rasa menang sendiri akan timbul dan ingin memenangkan kepemimpinan tersebut. Banyak contoh pemimpin kita yang lama bertahan tetapi pada akhirnya tidak disenangi oleh rakyatnya.
Mengapa seorang pemimpin tidak rela diambil kursi kepemimpinan ini sebagai berikut :
  • Ketentraman kerja. Apa yang harus aku kerjakan dan kemana aku harus pergi nanti ? lagipula, aku suka sama pekerjaanku, mengapa aku harus mengundurkan diri ? dengan pertanyaan seperti ini secara tidak langsung ini adalah seorang pemimpin yang tidak rela akan diambil kepemimipinannya.
  • Takut pensiun.
  • Harga diri. Kehilangan peran kepemimpinan itu sama saja dengan kehilangan akan segala kepercayaan diri serta identitas diri. Ini terutama benar bagi orang-orang yang gila kerja.
  • Kurang yakin kepada pengganti.
  • Kecintaannya pada orang-orangnya serta pekerjaannya.
10.    Tidak Fokus ke Masa Depan. - 10 Besar Kesalahan Yang Dibuat Para Pemimpin
Menciptakan visi dan arah menuju masa depan adalah salah satu tugas utama pemimpin. Sang pemimpin bertanggung jawab untuk memimpin dalam perencanaan untuk masa depan. Ia harus memimpin timnya dalam mengembangkan sasaran-sasaran organisasi, rencana-rencana, dan strategi yang mengalir dari maksud/tujuan yang jelas atau pernyataan visi.

Hans mencantumkan “Tim” dalam hal ini. Seperti yang kita lihat, orang-orang di seluruh organisasi adalah pemegang saham dalam kelompok dan menginginkan hak suara dalam perencanaan untuk masa depan. Para pemimpin yang mengelilingi sang kepala hendaknya dijadikan bagian yang terpadu dalam membentuk visi serta membuat rencan-rencana.

Dalam hal ini Hans memberikan kita sebuah nasihat-nasihat konkrit untuk masa depan :
  • Luangkanlah waktu untuk merenungkan masa depan
  • Adakalah pemeriksaan misi. Langkah pertama dalam arah yang benar adalah pemahaman yang sehat akan posisi anda yang sekarang. Luangkanlah waktu anda untuk menanyakan kepada orang dalam maupun orang luar, bagaimana menurut mereka kekuatan maupun kelemahan organisaasi anda. 
  • Kembangkan pernyataan visi yang baru. 
  • Berkumpullah dan tetapkanlah sasaran-sasaran strategi jangka pendek maupun jangka panjang.
  • Berkonsentrasilah dan lenyapkanlah
  • Bacalah semua
  • Upayakan dan harapkanlah yang besar.

Tulisan diambil dari sebuah buku 10 Besar Kesalahan Yang Dibuat Para Pemimpin karya HANS FINZEL  , bukunya sangat bagus untuk dibaca silahkan beli ditoko buku terdekat

Senin, 20 Mei 2013

PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM SOSIOLOGI PENDIDIKAN

Setidaknya terdapat beberapa pendekatan dari perspektif sosiologi yang dapat digunakan dalam menganalisis permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam bidang pendidikan. Di antaranya seperti yang disampaikan oleh Abu Ahmadi dalam bukunya ‘Sosiologi Pendidikan’ yaitu pendekatan individu, sosial, interaksi dan teori medan.

A.    Pendekatan Individu (The Individual Approach)
Dalam pendekatan individu titik penekanannya adalah tingkah laku individu. Setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhi pendekatan individu ini yakni faktor internal yang meliputi faktor-faktor biologis dan faktor eksternal yang meliputi faktor-faktor lingkungan fisik dan lingkungan sosial.
Dalam pendekatan individual ini titik tekannya adalah faktor-faktor biologis yang menguasai tingkah laku individu daripada faktor-faktor psikologis, namun kedua faktor ini tetaplah faktor primernya sedangkan faktor lingkungan sekitar fisik dan lingkungan sosial merupakan faktor sekunder. Hal ini dikarenakan pendekatan individu berasumsi bahwa individu adalah primer dan masyarakat adalah sekunder.[1]
1.      Faktor Biologis Pada Tingkah Laku Manusia
Perbedaan antara faktor biologis dan psikologis pada tingkah laku manusia adalah pada faktor biologis manusia dipandang sebagai organisme yang murni dan sederhana, sedangkan pada faktor psikologis manusia dipandang sebagai organisme yang cerdas dan mempunyai kecerdasan (inteligen). Kemudian yang menjadi problem terbesar pada biologi adalah usaha untuk menemukan elemen-elemen tingkah laku mana yang dapat diwariskan secara biologis dan elemen-elemen tingkah laku mana yang disebabkan oleh lingkungan sekitar dan apakah elemen tingkah laku inheritas (keturunan biologis/ hereditas) itu dapat diubah atau tidak?, kalau dapat diubah sejauh mana perubahan dapat terjadi?
2.      Faktor Psikologis Pada Tingkah Laku Manusia
Sebenarnya perbedaan antara faktor psikologis dan biologis tidak begitu ekstrim, tajam dan statis. Seiring dengan kemajuan-kemajuan penelitian ilmiah maka dapat diketahui bahwa sebenarnya hubungan psikologi dan biologi sifatnya timbal-balik, bahkan justru keduanya saling melengkapi di dalam mempelajari tingkah laku manusia. Bukti dari ini adalah munculnya penelitian-penelitian psikologi mengenai konsep insting (instinct).
Singkatnya dapat disimpulkan bahwa pendekatan individu belumlah lengkap untuk menerangkan semua gejala tingkah laku manusia mengingat bahwa individu-individu adalah hidup dengan dan dalam masyarakat. Jadi faktor masyarakat itupun harus diakui peranannya sebagai pembentuk tingkah laku anggota masyarakatnya.
B.     Pendekatan Sosial (The Societal Approach)
Titik tekan pendekatan ini adalah masyarakat dengan berbagai lembaga, kelompok, organisasi dan aktivitasnya. Secara kongkrit pendekatan sosial ini membahas aspek-aspek atau komponen dari kebudayaan manusia, seperti keluarga, tradisi, adat-istiadat, dan sebagainya. Jadi segala sesuatu yang dianggap produk bersama adalah milik bersama atau milik masyarakat. Jadi jelas di sini yang menjadi gejala primer adalah kelompok masyarakat, sedangkan individu merupakan gejala sekunder saja.
Secara ekstrim, pendekatan sosial ini berasumsi bahwa tingkah laku individu-individunya secara mutlak ditentukan oleh masyarakat dan kebudayaan masyarakat, sehingga individualitas tenggelam di dalam sosialtas manusia. Tingkah laku yang demikian ini dapat ditemukan dalam masyarakat yang benar-benar homogen yang kuat tradisi dan tata caranya. Sehingga inidividu-individu yang menyimpang dari pola tingkah laku masyarakat dianggap abnormal dan pasti dikeluarkan dari masyarakatnya.
Kalau diperhatikan secara seksama, prinsip dari pendekatan sosial ini tak dapat disangkal kebenarannya, tetapi secara ekstrem dan absolut, pendekatan sosial ini menunjukkan kelemahan-kelemahannya, sebab betapapun homogennya dan kuatnya tata cara hidup masyarakat di situ masih juga didapati perilaku individualitas pada anggota masyarakat. Mengapa demikian? Karena setiap individu mempunyai watak dan kepribadiannya masing-masing. Bahkan tidak jarang keseragaman tingkah laku pada masyarakat dianggap sebagai paksaan yang membelenggu kreatifitas individu tersebut. Karena pada dasarnya pola tingkah laku individu manusia selalu didapati sifat-sifat kreatif dan dinamis.
C.     Pendekatan Interaksi (The Interaction Approach)
Di dalam pendekatan interaksi ini perhatiannya adalah penggabungan dari pendekatan individu dan pendekatan sosial melalui interaksi. Sebab pada kenyataannya menurut pendekatan interaksi ini, individu dan masyarakat itu saling mempengaruhi dan memiliki hubungan timbal balik. Jadi antara individu dan masyarakat itu mempunyai daya kekuatan yang saling membentuk dan saling menyempurnakan.[7]
Kesimpulannya pendekatan ini ingin menjelaskan bahwa untuk mengetahui tingkah laku manusia harus dilihat dari individu dan masyarakat. Jadi sosiologi pendidikan tidak semata-mata hanya mempelajari individu atau masyarakat saja tetapi harus kedua-duanya.
D.    Teori Medan (field theory)
Teori medan adalah teori yang diperkenalkan oleh Dr. Kurt Lewin dari bidang psikologi yang kemudian dikembangkan oleh J.F Brown dalam psikologi sosial. Inti dari teori medan adalah meneliti struktur medan hidup (life space) beserta pribadi (Person) dan medan sosial (life space sosial) nya. Medan hidup ini merupakan kondisi-kondisi, syarat-syarat dan situasi-situasi kongkrit yang menyertai gerak individu pribadi tadi. Obyeknya adalah organisme manusia. Cara bekerjanya teori medan itu mempergunakan metode hipotetis- deduktif. Ciri khas lain dari teori medan adalah menggunakan bahasa genotype. Dan lagi bahwa dalam teori medan digunakanlah konsep-konsep dan gambar-gambar mathematis.
KESIMPULAN
Jadi dari apa yang sudah dipaparkan di atas dapat kita lihat bahwa setidaknya ada empat pendekatan sosiologis yang dapat digunakan dalam menganalisis masalah-masalah pendidikan yaitu, pendekatan individu, sosial, interaksi dan teori medan. Namun perlu kita sadari juga bahwa semua pendekatan ini tidak bisa berdiri sendiri sehingga dibutuhkan semua pendekatan untuk menghasilkan analisis yang lebih empiris dan sempurna.
REFERENSI
Ahmadi, Abu. Sosiologi Pendidikan, Jakarta, 2007.
sumb3r:
http://proletargameover.blogspot.com/2012/10/pendekatan-pendekatan-dalam-sosiologi.html

Sabtu, 18 Mei 2013

Beton Tidak Boleh Retak?


 Beton Tidak Boleh Retak?Beton retak cukup sering terjadi dalam pelaksanaan proyek konstruksi. Banyak yang menyikapinya secara buru-buru bahwa  beton tersebut harus diperbaiki karena struktur beton telah mengalami kegagalan. Contoh pada proyek Perkantoran dimana Pembeli membeli space kantor yang belum dipasang plafond gypsum. Lalu, ketika melihat balok ada yang retak, Pembeli komplain. Kontraktor diminta untuk memperbaikinya. Salah siapa?
Beton Bertulang
Beton sangat banyak dipakai dalam proyek konstruksi. Bahan beton diperoleh dengan cara mencampurkan semen, air, dan aggregat plus bahan aditif dalam perbandingan tertentu. Segera telah diaduk, beton segar mulai mengeras. Semakin lama semakin keras mendekati kekuatan batu. Pedoman kekuatan beton adalah kekuatan saat mencapai umur 28 hari. Berikut disajikan tampang beton setelah mengeras.
 Beton Tidak Boleh Retak?
Beton memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1. Memiliki kuat tekan sangat tinggi.
  2. Karakter beton memiliki kuat tarik rendah yang menyebabkan beton gampang mengalami retak pada daerah tarik.
  3. Beton mengerut saat pengeringan dan beton keras mengembang jika basah
  4. Beton mengalami kembang-susut bila terjadi perubahan suhu
  5. Beton bersifat getas
Kemampuan kuat tekan beton pada umur 28 hari berkisar fc’= 10 – 65 MPa. Di pasaran lebih sering dijumpai mutu beton fc’ = 10 – 45 MPa atau K125 – K500. Angka tersebut menunjukkan nilai kekuatan tekan beton. Sebagai gambaran untuk kekuatan tekan beton untuk K125 adalah kubus beton 15×15 cm sanggup menahan beban sekitar 28 Ton.
Kuat tarik beton berkorelasi dengan kuat tekannya atau dapat merupakan fungsi dari kuat tekannya. Maksudnya, jika kuat tekan beton tinggi, maka kuat tarik beton juga tinggi. Kuat tarik beton berada jauh di bawah kuat tekannya. Suatu rumus pendekatan untuk menentukan kuat tarik beton yaitu = 0.57 x √ fc’ (untuk beton normal).
Pada kenyataannya beton dalam struktur beton bangunan sipil, memikul tarik yang  cukup besar Sehingga diperlukan perkuatan / material lain agar beton mampu memikul beban terutama beban tarik tersebut. Besi tulangan merupakan material yang memiliki kuat tarik yang tinggi. Sifat ini kemudian dimanfaatkan untuk mengatasi rendahnya kekuatan tarik beton. Sehingga apabila digunakan bersama-sama, maka menjadi struktur beton bertulang ( reinforced concrete ) yang kemudian memiliki kemampuan tekan dan tarik yang tinggi.
Perkembangan Beban Bangunan vs Kondisi Struktur Beton Bertulang
Pada beban kecil dimana gaya tarik yang terjadi belum melewati batas tarik beton,  analisis gaya-gaya yang terjadi adalah seperti gambar berikut:
 Beton Tidak Boleh Retak?
Beton tarik (sisi bawah di tengah balok) masih mampu menahan beban tarik yang ada. Sehingga masih diperhitungkan dalam mendukung beban yang terjadi. Kondisi ini umumnya terjadi pada balok bentang pendek dan atau dengan tinggi balok cukup besar.
Beban yang dipikul oleh struktur beton mulai diterima sejak bekisting dilepas. Beban yang dipikul saat itu belum mencapai beban rencana karena beban yang dipikul hanya beban sendiri dan beban pelaksanaan di atasnya. Kecilnya beban pada saat bongkar bekisting berarti beban tarik yang dipikulpun masih relatif kecil. Walaupun beban yang dipikul masih kecil, tidak berarti masih dalam batas kekuatan tarik beton.
Dalam praktik perhitungan pembongkaran bekisting, acuan batas  kekuatan yang digunakan adalah kekuatan / kapasitas dukung beton bertulang bukan kekuatan batas tarik beton. Kadang diberikan faktor aman tertentu. Tidak mungkin untuk menjadikan batas kekuatan tarik beton dalam pembongkaran bekisting. Ini berarti kemungkinan beton sisi tarik  akan mengalami retak.
Pada saat struktur beton telah selesai secara keseluruhan dan pekerjaan finishing mulai dikerjakan bahkan bangunan telah mulai beroperasi, maka berarti beban struktur semakin besar bahkan mencapai beban yang direncanakan. Kondisi beton pada saat ini memiliki kemungkinan yang semakin besar untuk mengalami keretakan dibanding pada saat bongkar bekisting.
 Beton Tidak Boleh Retak?
Pada gambar di atas adalah kondisi struktur beton bertulang mengalami beban besar atau sudah mencapai beban rencana. Pada gambar paling kanan terlihat beton bawah (bagian tarik) sudah tak diperhitungkan lagi. Baja tulangan bawah yang diperhitungkan untuk menahan gaya tarik. Perhitungan kapasitas momennya adalah M=C x jd = T x Jd. Simpelnya perhitungan dilakukan dengan memperhitungkan kopel gaya tekan beton (C) dan tulangan bawah (T). Beton bagian bawah (sampai pada batas garis netral / garis putus-putus) tidak diperhitungkan lagi.
Keretakan Beton = Gagal Struktur?
Pada saat terjadi keretakan, besi tulangan pada daerah tarik tersebut mulai mengambil alih secara penuh beban tarik yang terjadi. Artinya beton daerah tarik sudah tidak memikul beban tarik. Beban tarik dialihkan ke besi tulangan. Secara struktural kondisi ini memang dirancang seperti itu dan kekuatan struktur masih dapat dipertanggung jawabkan. Beton yang retak saat beban mulai bertambah sama sekali tidak berarti ada kegagalan struktur.
Lokasi retakan yang terjadi saat beban mulai membesar adalah pada daerah tumpuan  / ujung balok sisi atas dan tengah bentang di sisi bawah. Pengalaman saya, retak yang terjadi hanya 1-2 retakan di satu tempat observasi. Dimana tebalnya juga tidak besar. Bahkan seringkali hanya retak rambut. Keretakan seperti ini mestinya tidak perlu diperbaiki sama sekali. Ini kondisi yang alamiah terjadi dan memang perhitungannya sudah memperhitungkan retak itu akan terjadi.
Lain soalnya jika retak yang terjadi cukup banyak untuk satu lokasi observasi dengan lebar retak yang cukup besar dan retak mulai merembet ke lokasi lain selain di tumpuan dan tengah bentang. Ini ciri-ciri struktur beton mulai tidak mampu memikul beban yang ada.
Siapa yang bertanggung jawab?
Jika retak beton yang terjadi masih wajar, maka tidak perlu diperbaiki. Tidak perlu ada yang bertanggung jawab. Tidak perlu juga untuk khawatir, karena perhitungan struktur beton memang sudah tidak memperhitungkan beton yang mengalami retak. Namun jika retak yang terjadi cukup parah, perlu dilakukan penelitian yang lebih rinci yang melingkupi perhitungan struktur sesuai kondisi lapangan. Di samping itu perlu pula untuk melihat kembali kronologis pelaksanaan struktur. Jangan buru-buru menyalahkan salah satu pihak. Lakukanlah kajian yang lebih teliti.