P Mas Yudi ..!!!
Assalamu'alaikum ..... Selamat Datang di Blog Anak Desa ...

Beranda

Minggu, 01 Agustus 2021

MENGENAL NEGARA-NEGARA ASEAN

 INTERAKSI KERUANGAN DALAM KEHIDUPAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN

MENGENAL NEGARA-NEGARA ASEAN

ASEAN (Association of South East Asian Nations) merupakan organisasi yang beranggotakan negara-negara di Asia Tenggara. ASEAN berdiri pada 8 Agustus 1967 di Bangkok, Thailand. ASEAN diprakarsai lima negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Saat ini, ASEAN beranggotakan 10 negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Kamboja. Letak geografis dan letak koordinat negara-negara ASEAN tersebut ditunjukkan Gambar 1.1 berikut ini.

Gambar 1.1 Letak geografis negara-negara ASEAN.


1.  Letak Geografis Negara-negara ASEAN

Letak astronomis ASEAN adalah 28°LU 11°LS dan 93°BT 141°BT. Letak geografis ASEAN terletak diantara 2 benua yaitu Asia dan Australia dan 2 samudra yaitu Hindia dan Pasifik. Negara ASEAN memiliki wilayah laut dengan luas sekitar 5.060.100 km2 dan luas daratan ± 4.817.000 km2.

 ASEAN memiliki bentuk dengan ciri :

a.        Compact : hampir setengah lingkaran, contohnya Kamboja

b.       Fragmented : kepulauan yang terpisah, contohnya Indonesia

c.        Elongated : memanjang, contohnya Vietnam

d.       Protuded : lebih kompleks, seperti tangan memanjang, contohnya Thailand dan Myanmar.

 

2.  Letak Koordinat ASEAN

Letak koordinat adalah titik yang berpedoman pada garis latitude (garis lintang) dan longitude (garis bujur) suatu daerah pada peta. Letak koordinat sering disebut juga letak astronomis.

..…°LU sampai ..…°LS dan ..…°BT sampai ..…°BT

 


Asia Tenggara adalah kawasan yang kaya akan budaya, sejarah, dan keragaman alam. Negara-negara di kawasan ini telah bersatu dalam sebuah organisasi regional yang dikenal sebagai ASEAN (Association of Southeast Asian Nations). Dalam materi ini, kita akan menjelajahi dengan lebih mendalam tentang negara-negara anggota ASEAN, sejarah terbentuknya organisasi ini, tujuan, manfaat, serta tantangan yang dihadapi.

Sejarah Terbentuknya ASEAN

Pada tanggal 8 Agustus 1967, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand sepakat untuk membentuk ASEAN sebagai tanggapan terhadap permasalahan politik dan keamanan yang dihadapi oleh kawasan Asia Tenggara pada saat itu. ASEAN didirikan dengan tujuan untuk meningkatkan kerjasama regional, membangun perdamaian, dan memajukan pembangunan ekonomi di antara negara-negara anggotanya.

Anggota Negara-NegaraASEAN 


Indonesia: Merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan keanekaragaman budaya, bahasa, dan agama. Indonesia juga memiliki ekonomi yang berkembang pesat dan memiliki peran penting dalam diplomasi regional.

Malaysia: Negara yang kaya akan budaya, tradisi, dan alam. Kuala Lumpur adalah ibu kota dan pusat ekonomi utama.

Filipina: Terdiri dari lebih dari 7.000 pulau, Filipina memiliki sejarah budaya campuran antara budaya Asia dan Eropa.

Singapura: Negara kota yang sangat maju secara ekonomi dan teknologi. Terkenal sebagai pusat keuangan global.

Thailand: Memiliki budaya yang kaya, termasuk warisan seni, keagamaan, dan arsitektur. Bangkok adalah ibu kota yang semarak.

Brunei: Negara kecil dengan kekayaan minyak dan gas alam yang signifikan. Budaya Brunei sangat dipengaruhi oleh Islam.

Vietnam: Negara dengan sejarah panjang dan budaya yang kaya. Saigon (Ho Chi Minh City) dan Hanoi adalah kota utama.

Laos: Dikenal dengan keindahan alamnya, termasuk sungai Mekong dan pegunungan yang eksotis.

Myanmar: Memiliki warisan budaya yang kaya dengan kuil-kuil bersejarah dan keindahan alam yang menakjubkan.

Kamboja: Terkenal karena kompleks candi Angkor Wat, Kamboja memiliki warisan Khmer yang mendalam.

Tujuan dan Manfaat ASEAN

Pembangunan Ekonomi: Negara-negara anggota bekerja sama dalam perdagangan, investasi, dan pembangunan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Keamanan dan Stabilitas: ASEAN mempromosikan dialog dan diplomasi untuk memelihara perdamaian di kawasan, serta mengatasi konflik dan masalah keamanan.
Kerjasama Sosial dan Budaya: Anggota ASEAN berbagi pengetahuan budaya, seni, dan ilmu pengetahuan melalui pertukaran budaya dan kolaborasi akademik.
Kerjasama Lingkungan: Organisasi ini berupaya bersama-sama mengatasi isu lingkungan seperti perubahan iklim dan keanekaragaman hayati.
Penguatan Institusi Regional: ASEAN terus mengembangkan struktur dan mekanisme kerjasama untuk meningkatkan efektivitasnya dalam menghadapi berbagai tantangan.

Tantangan dan Upaya ASEAN

Perbedaan Budaya dan Bahasa: Meskipun memiliki keragaman yang kaya, perbedaan budaya dan bahasa kadang-kadang menjadi tantangan dalam mencapai tujuan bersama.
Isu Keamanan: Konflik dan ancaman terorisme masih menjadi perhatian utama yang memerlukan kerjasama yang lebih erat.
Kesenjangan Pembangunan: Ada kesenjangan dalam tingkat pembangunan ekonomi dan sosial antara negara-negara anggota.

Kesimpulan

ASEAN telah menjadi kekuatan penting dalam menjaga perdamaian dan memajukan kawasan Asia Tenggara. Dengan keragaman budaya, alam, dan ekonomi di negara-negara anggotanya, ASEAN terus berupaya untuk mencapai tujuannya melalui kerjasama yang erat dan dialog yang terbuka. Mengenal negara-negara anggota ASEAN memberi kita wawasan tentang keragaman dan potensi luar biasa di kawasan ini.










Rabu, 28 Juli 2021

Tindakan Sosial

Hal terpenting dari interaksi sosial adalah konsep tindakan atau perilaku manusia. Adanya hubungan antar manusia melahirkan tindakan-tindakan yang akan menunjukkan variasi hubungan dengan proses berpikir, tujuan yang akan dicapai,  dan cara bagaimana mencapai tujuan itu. Sebagai makhluk sosial, tindakan manusia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan sosial. Adanya pengaruh timbal balik itu dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga atau yang lebih luas lagi di masyarakat. Itulah sebabnya tindakan yang dilakukan oleh manusia disebut tindakan sosial.

 

Menurut Max Weber, tindakan sosial adalah tindakan yang mempunyai makna, tindakan yang dilakukan dengan memperhitungkan keberadaan orang lain atau tindakan individu yang dapat mempengaruhi individu lain dalam masyarakat. Hal itu perlu diperhatikan mengingat tindakan sosial menjadi perwujudan dari hubungan atau interaksi sosial. Jadi tindakan sosial adalah tindakan atau perilaku manusia yang mempunyai maksud subjektif bagi dirinya, untuk mencapai tujuan tertentu dan juga merupakan perwujudan dari pola pikir individu yang bersangkutan.

Tipe - tipe Tindakan Sosial 

1. Tindakan Rasional Instrumental


Tindakan rasional instrumental merupakan tindakan yang dilakukan dengan memperhitungkan kesesuaian antara cara yang digunakan dan tujuan yang akan dicapai. Artinya, tindakan ini didasari oleh tujuan yang telah matang .
Misalnya, Ketika seorang peserta didik akan mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi memutuskan untuk memilih jurusan tertentu pada perguruan tinggi tersebut. Keputusan yang diambil peserta didik tersebut tentu dilakukan dengan berbagai pertimbangan,seperti kemungkinan untuk diterima dengan kemampuan yang dimilikinya, persaingan yang mengambil jurusan itu, juga peminat pada perguruan tinggi tersebut.

2. Tindakan Rasional Berorientasi Nilai

Tindakan rasional berorientasi nilai dilakukan    dengan memperhitungkan manfaatnya, tetapi tujuan yang ingin dicapai tidak terlalu dipertimbangkan. Tindakan seperti ini menyangkut kriteria baik dan benar menurut penilaian masyarakat. Tercapai atau tidaknya tujuan bukan persoalan dalam tindakan sosial tipe ini. Yang penting adalah kesesuaian dengan nilai-nilai dasar yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.
Contoh tindakan ini adalah pelaksanaan kegiatan solidaritas atau pemberian bantuan secara sukarela terhadap korban bencana alam. Tujuan akhir dari kegiatan tersebut pada umumnya tidak terlalu dpikirkan karena tolong- menolong merupakan nilai yang baik di mata masyarakat.
 
Tindakan rasionalitas berorientasi nilai dapat mengarahkan seseorang menghargai dan menghormati orang lain. Dalam tindakan ini diharapkan muncul sikap yang berorientasi kepada kebersamaan dan penghargaan terhadap nila-nilai yang dianut orang lain. Hal ini dapat memunculkan pemahaman bahwa manusia terlahir sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang diciptkan sebagai mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri.

3. Tindakan Tradisional 

Tindakan tradisional adalah tindakan yang dilakukan semata-mata mengikuti tradisi atau kebiasaan yang sudah baku. Seandaianya kita bertanya kepada orang yang melakukan perbuatan tersebut pada umumnya mereka hanya akan menjawab sudah merupakan kebiasaan yang dilakukan dan diturunkan secara terus menerus dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Contoh dari tindakan tersebut adalah kebiasaan mudik orang-orang yang merantau pada saat -saat tertentu (hari raya,natal atau tahun baru)
Tindakan tradisional yang memiliki nilai baik tetap harus dipertahankan,seperti mudik. Mudik adalah fenomena masyarakat untuk tetap menjalin silaturahmi dengan kaum kerabatnya sehingga orang tetap mengenal lingkungan budaya sendiri dan dapat berperan untuk tetap melestarikannya.

4. Tindakan Afektif

Tindakan afektif adalah tindakan yang sebagian besar dikuasai oleh perasaan ataupun emosi, tanpa pertimbangan yang matang. Tindakan ini muncul karena luapan emosi,seperti adanya cinta, amarah, gembira, atau sedih muncul begitu saja sebagai ungkapan langsung terhadap keadaan tertentu. Itulah sebabnya tindakan sosial ini lebih berupa reaksi spontan. Tindakan ini sering muncul sebagai ungkapan yang memunculkan perasaan gembira, sedih, emosional dan sebagainya.

Misalnya, ungkapan kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya dengan memeluk atau menciumnya.

Rabu, 14 Juli 2021

PENYIMPANGAN SOSIAL

 


Penyimpangan Sosial (Pelajaran IPS SMP/ MTs Kelas VIII)

Di tengah-tengah masyarakat sering kali terjadi yang namanya kekerasan dan kriminalitas serta tindakan-tindakan yang lainnya yang merupakan bentuk penyimpangan sosial. Tindakan yang dilakukan dapat di lakukan secara sendiri-sendiri dan bisa juga dilakukan secara berkelompok. Terdapat berbagai macam yang merupakan penyebab penyimpangan sosial yang ada di masyarakat. Kesemuanya tersebut akan menimbulkan keresahan terhadap masyarakat. Dalam bahasan ini akan bahas mengenai penyakit sosial dan cara untuk mencegah terjadinya penyimpangan sosial.

Penyakit Sosial

Pengertian Penyakit Sosial

Definisi/ pengertian penyakit sosial adalah merupakan penyakit yang ditimbulkan seseorang atau sekelompok orang dengan melanggar norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat. Dengan demikian biasanya kita akan menghubungkan penyakit sosial dengan perbuatan suatu hal-hal yang bersifat negatif. Adapun yang dilakukan dapat secara pribadi maupun secara berkelompok.

Macam-macam Penyakit Sosial

Terdapat banyak penyakit sosial yang ada di masyarakat misalnya pelanggaran terhadap rambu-rambu lalu lintas, mengendarai motor atau mobil dengan tidak memiliki SIM, tawuran antar pelajar, dan lain sebagainya.

Akibat yang Ditimbulkan Penyakit Sosial

Akibat yang dapat ditimbulkan adanya pelangaran terhadap norma-norma atau aturan-aturan di dalam masyarakat antara lain sebagai berikut (akibat dari penyakit sosial):

1. Pelanggaran rambu-rambu lalu lintas

  • Bagi peanggar oleh pihak berwajib akan dikenakan sanksi hukum/denda.
  • Pelanggaran terhadap lalu lintas dapat menimbulkan terjadinya kecelakaan.

2. Akibat yang ditimbulkan adanya tawuran antar pelajar

  • Terjadinya hubungan antara sekolah dengan sekolah yng lainnya menjadi kurang harmonis.
  • Munculnya permusuhan antar pelajar.
  • Dapat menimblkan terjadinya disintegrasi antar sekolah yang bisa memecah belah permasalahan antarpelajar.

Cara Menanggulangi Penyakit Sosial

Tawuran yang terjadi antar pelajar bisa dilakukan oleh pihak sekolah/ perguruan tinggi dengan pihak yang berwajib.

a. Dari pihak sekolah

Pemberian bimbingan, arahan supaya tidak melakukan tawuran antar pelajar oleh misalnya guru BP.

b. Dari pihak berwajib

Adanya kerjasama antara pihak yang berwajib dengan sekolah/ perguruan tinggi misalnya mengenai masalah-masalah kenakalan remaja/pelajar, dengan demikian para peajar/ mahasiswa tahu akan akibat yang ditimbulkan adanya perkelahian.

Upaya Pencegahan Penyimpangan Sosial

Pengertian Penyimpangan Sosial

Tahukah teman-teman apakah pengertian penyimpangan sosial itu? Definisi penyimpangan sosial adalah merupakan suatu perilaku yang menyimpang atau tidak sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang berlaku atau yang dianut oleh masyarakat/ kelompok, baik yang dilakukan dengan sengaja atau tidak disengaja.

Macam-macam penyimpangan sosial yaitu terbagi menjadi dua jenis yaitu 

a. Penyimpangan individual

Pengertian penyimpangan individual adalah merupakan penyimpangan yang dilakukan oleh seseorang atau individu terhadap norma-norma yang berlaku atau dianut oleh masyarakat. Sebagai contoh penyimpangan sosial yang dilakukan individual adalah seseorang yang melakukan perbuatan mencuri, merampok, mendodong, memperkosa, menganiaya dan lain sebagainya tanpa adanya keterlibatan dari orang lain.

b. Penyimpangan kelompok

Pengertian penyimpangan kelompok adalah merupakan jenis penyimpangan yang dilakukan oleh sekelompok orang atas norma-norma masyarakat. Penyimpangan tersebut bisa terjadi oleh karena adanya sekelompok masyarakat yang tidak mau menerima adanya norma atau nilai masyarakat yang sudah ada, bahkan mereka membuat suatu aturan yang tersendiri atau norma yang berlaku atas anggota kelompoknya. Sebagai contoh adalah geng atau mafia, perampok, dan lain-lain.

Semua bentuk perilaku penyimpangan sosial dapat menyebabkan adanya pertentangan antar individu atau antar kelompok.


Bentuk-bentuk dari perilaku penyimpangan kepada norma atau nilai-nilai di dalam masyarakat, antara lain meliputi:

a. Pelanggaran terhadap norma agama. Sebagai contohnya adalah melakukan pencurian, perjudian, perzinaan, mabuk-mabukan, dan perbuatan lainnya yang melanggar norma agama.

b. Pelanggaran terhadap hukum. Sebagai contohnya adalah melakukan tindakan korupsi, pelanggaran lalu lintas, pengangguran norkoba dan perbuatan lainnya yang melanggar hukum.

c. Pelanggaran terhadap norma kesusilaan. Sebagai contohnya adalah Melakukan hubungan seks bebas, kencing di sembarang tempat, dan lain-lain.

d. Pelanggaran terhadap norma sosial. Sebagai contoh adalah melakukan coret-coret di dinding, tawuran antar warga, dan lain-lain.

Faktor-faktor Penyebab Penyimpangan Sosial

pa saja faktor-faktor yang menjadi penyebabnya penyimpangan sosial? Suatu perilaku dianggap menyimpang di dalam masyarakat apabila perilaku yang dilakukan tersebut tidak sesuai lagi dengan norma/ nilai-nilai yang berlaku umum atau dianut di masyarakat. Oleh karena setiap individu memiliki latar belakang  kehidupan dan lingkungan sosial yang berbeda-beda, kondisi ini akan menyebabkan terbentuknya suatu pola-pola perilaku yang berbeda. Adapun sebab-sebab timbulnya perilaku menyimpang antara lain meliputi:

A. Tidak sanggup untuk mengikuti terhadap peraturan yang berlaku di dalam masyarakat.

Penyebab dari hal tersebut adalah oleh karena kondisi fisik ataupun jiwa yang tidak normal. Sebagai contohnya adalah cacat tubuh, gila, gangguan moral, dan sosial budaya. Kelompok masyarakat tersebut dikategorikan ke dalam kelompok yang abnormal. Kelompok ini meliputi:

1) Penderita cacat fisik

Para penderita cacat fisik ini terkadang bisa menyebabkan penyimpangan sosial, misal saja untuk bersalaman harus memakai dengan tangan kiri sebab tangan yang kanannya putus; menulis dengan jari kaki, sebab kedua tangannya putus; berbicara dengan bahasa isyarat karena bisu.

2) Pengemis, pelacur, gelandangan

Pada kelompok masyarakat ini tidak sanggup untuk mengatasi struktur masyarakat dan sistem sosial ekonomi yang kurang menguntungkan. Dilihat secara perekonomian, kelompok masyarakat tersebut tidak mendapatkan bagian yang wajar dari penghasilan nasional. Sehingga dari kondisi tersebut tidak sedikit dari kelompok ini yang melakukan tindakan penyimpangan sosial dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebagai contohnya adalah pengamen yang melakukan tindakan pemerasan, dll.

3) Penderita gangguan jiwa

Penderita gangguan jiwa dikelompokkan ke dalam kategori yang melakukan penyimpangan sosial namun tidak bermaksud jahat. Tetapi apabila didiamkan saja di dalam masyarakat, kelompok tersebut sering menyebabkan terjadinya penyakit sosial. Pada kelompok tersebut tidak sedikit yang kemudian menempatkan dalam tempat-tempat yang khusus misalnya di rumah sakit jiwa. Contoh tindakan penyimpangan sosial adalah orang gila yang berpakaian tidak sopan, mengganggu orang lain, dll.

B). Pengaruh lingkungan pergaulan.

Lingkungan adalah merupakan salah satu faktor yang bisa mempengaruhi terhadap kepribadian seseorang atau terhadap kelompok. Lingkungan pergaulan mempunyai pengaruh yang sangat kuat bahkan bisa pengaruhnya bis melebihi dari ppengruh keluarga. Pada daarnya manusia mempunyai sifat yang baik, namun dengan adanya lingkungan dapat menyebabkan pada dirinya dengan melakukan penyimpangan sosial lama kelamaan akan terpengaruh melakukan penyimpangan sosial. Sebagai contoh adalah seseorang yang taat kepada orang tua pada saat di rumah, namun pada saat di luar rumah menjadi tidak taat lagi sama orang tuanya.

C. Pendidikan dalam keluarga yang terlalu keras. 

Ada beberapa keluarga yang orang tuanya bersikap terlalu keras dalam mendidik anak-anaknya. Apabila anak tidak taat pada aturan maka orang tua akan segera menghukumnya. Dapat kalian lihat dalam kehidupan sehari-hari, anak yang mendapat hukuman dari orang tua seperti dimarahi bahkan sampai dipukuli dan dianiaya.

Akibat dari tindakan tersebut, anak merasa tertekan dan tidak bebas. Dampak negatinya anak suka memberontak. Meskipun ketika di rumah anak menjadi pendiam, namun di luar rumah anak dapat melakukan penyimpangan sosial sebagai bentuk pelampiasan rasa kesal dan kecewanya di rumah. Contoh: anak yang dipukuli orang tuanya, di luar rumah dia menjadi anak yang suka berkelahi.

D. Pengaruh media massa.

Di media masa terutama televisi, seringkali terdapat adegan yang berbau kekerasan dan juga kriminalitas. Semua itu baik secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi psikologis para penonton yang heterogen (berbagai tingkat umur, pendidikan, dan lingkungannya). Ini bisa jadi menimbulkan hal-hal yang menyimpang di masyarakat, misalnya tawuran, perampokan dll. yang hanya disebabkan oleh hal kecil. Sehingga dengan demikian, dalam menonton sebaiknaya harus dapat memilih yang baik untuk diri masing-masing.

Berbagai upaya pencegahan penyimpangan sosial

Langkah/ cara pencegahan penyimpangan sosial yaitu perlu adanya suatu usaha yang sungguh-sungguh dari berbagai pihak antara lain dengan melakukan:

a. Teguran (peringatan) dan nasihat

Jika pada suatu masyarakat terjadi suatu ketegangan atau pelanggaran sosia maka pemerintah/ tokoh masyarakat, akan berusaha mengendalikan kejadian tersebut dengan memberi teguran atau nasehat. Teguran adalah sutu peringatan yang diberikan untuk kritik sosial/ atas terjadinya penyimpangan yang ada. Bentuk peringatan adalah bisa secara lisan ataupun secara tertulis oleh seseorang yang mempunyai kedudukannya lebih tinggi. Sedangkan nasihat adalah suatu anjuran ataupun saran dalam rangka untuk memperbaiki penyimpangan yang diberikan oleh orang yang pengetahuannya lebih banyak kepada para pelaku penyimpangan sosial.

b. Pendidikan

Proses pendidikan berlangsung dapat melalui pendidikan informal, formal maupun nonformal. Pada pendidikan terdapat adanya suatu pembelajaran mengenai nilai-nilai yang luhur, baik, dan juga nilai kebenaran.

c. Hukuman

Hukuman adalah merupakan suatu balasan sehingga bisa membuat seseorang akan takut untuk berbuat kejahatan. Tujuan hukuman adalah untuk menciptakan tata tertib terhadap masyarakat secara adil dan damai supaya di dalam masyaraat tercipta kondisi yang tertib dan teratur. Selain adanya hukuman, pada masyarakat juga mengembangkan adanya penghargaan supaya merangsang warganya untuk menyesuaikan diri dengan norma dan nilai yang berlaku.

d. Kaidah dan norma sebagai kontrol sosial

Pelanggaran kepada kaidah dan norma akan memunculkan adanya sanksi bagi para pelakunya/ pelanggarnya. Sehingga kaidah dan norma bisa dijadikan dasar hukum bagi perilaku penyimpangan. Selain itu, cara pencegahan penyimpangan sosial bersifat preventif, represif, dan bisa juga dalam bentuk gabungan antara preventif dan represif.

a. Preventif

Adalah usaha pencegahan terjadinya penyimpangan yang dilakukan sebelum pelanggaran benar-benar terjadi. Sebagai contoh adalah mengadakan siskamling, pemasangan rambu-rambu lalu lintas, himbauan pemakaian sabuk pengaman,  dan sebagainya.

b. Represif

Adalah usaha pencegahan terhadap penyimpangan sesudah terjadinya peristiwa dengan cara mengambil tindakan dan juga menjatuhi hukuman bagi para pelakunya supaya mereka menyadari terhadap kesalahannya. Sebagai contoh adalah menangkap pelakunya kemudian dberi sanksi/ hukuman yang benar-benar setimpal.

c. Gabungan

Sebagai contoh adalah memberikan nasihat supaya tidak melakukan pelanggaran dan pemberian hukuman setelah pelanggaran terjadi.

Berbagai macam cara dan upaya pencegahan penyimpangan sosial, baik itu yang bersifat preventif, represif dan gabungan antara keduanya bisa dilakukan dengan cara-cara berikut ini:

Preventif adalah mengajarkan dengan cara membimbing.

Kuratif adalah upaya pencegahan penyimpangan sosial yaitu dengan cara ancaman (kekerasan) atau hukum.

Compultion adalah usaha pencegahan terhadap penyimpangan sosial dengan cara menciptakan suatu situasi yang bisa mengubah sikap atau perilaku yang negatif.

Prevation adalah usaha pencegahan penyimpangan sosial dengan cara menyosialisasikan norma/ nilai secara terus menerus dan juga berulang-ulang, sehingga bisa terbentuk sikap yang diharapkan.

Dari keempat cara di atas intinya untuk cara pencegahan penyimpangan sosial adaah dengan mendidik, mengajak dan memaksa kepada warga masyarakat supaya mempunyai perilaku yang sesuai dengan norma-norma sosial.

Selain upaya yang bersifat resmi (formal), juga perlu ditempuh dengan cara yang lainnya yaitu dengan memanfaatkan potensi yang dipunyai masing-masing anggota masyarakat secara optimal. Sebagai upaya pencegahan penyimpangan sosial lewat bidang olahraga, musik, agama, dan bidang-bidang lainnya.

Rabu, 03 Maret 2021

Mengenal Sosiologi

Mengenal Sosiologi

(Pengertian, Sejarah, Ruang Lingkup, dan Ciri-cirinya)


Sumber : Koleksi foto pribadi Admin

Sosiologi adalah ilmu sosial yang mempelajari setiap kehidupan masyarakat. Objek kajian dari sosiologi tidak lain adalah kehidupan manusia.

Kata sosiologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari kata 'socius' yang artinya masyarakat, dan 'logos' yang artinya ilmu.

Istilah dari sosiologi pertama kali dikemukakan oleh seorang filsafat dari Prancis, bernama Auguste Comte pada tahun 1839. Oleh karena itu, Auguste Comte dikenal sebagai Bapak Sosiologi Dunia.

Mengutip dari e-Modul Kemendikbud Sosiologi Paket C Tingkatan V Setara SMA/MA karya Budi Rahayu, berikut adalah beberapa pengertian sosiologi yang dikemukakan oleh para ahli:

Mengutip dari e-Modul Kemendikbud Sosiologi Paket C Tingkatan V Setara SMA/MA karya Budi Rahayu, berikut adalah beberapa pengertian sosiologi yang dikemukakan oleh para ahli:

1. Max Weber

Sosiologi adalah ilmu yang berhubungan dengan pemahaman interorientasi, mengenai tindakan sosial yang berhubungan dengan suatu penjelasan sebab akibat mengenai arah dan konsekuensinya.

2. Pitirin A. Sorokin

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara macam-macam gejala sosial.

3. Emile Durkheim

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang fakta-fakta sosial, terkait cara bertindak, berpikir dan perasaan di luar individu yang mempunyai kekuatan untuk mengendalikan individu.

4. Sejarah Sosiologi

Pada awalnya, sosiologi lahir dan berkembang di Eropa. Sosiologi lahir didasari akibat adanya guncangan sosial, dari efek revolusi industri di Prancis. Efek tersebut mengakibatkan banyak terjadinya eksploitasi tenaga kerja dan urbanisasi dan kekhawatiran di tengah masyarakat.

Atas dasar tersebut, kemudian August Comte merancang sebuah penelitian sosial yang digunakan untuk mempelajari pola kehidupan perilaku masyarakat pada abad ke 19. Penelitian sosial tersebut dilakukan secara ilmiah, yang kemudian dikenal sebagai sosiologi, seperti dilansir e-Modul Sosiologi Kelas X yang disusun oleh Sri Uji Partiwi, S.Sos. M.Pd.


Ruang Lingkup Sosiologi

  1. Peran dan kedudukan sosial individu dalam keluarga, kelompok sosial, dan lingkungan masyarakat.
  2. Perilaku anggota masyarakat dalam melakukan interaksi sosial, yang didasari oleh nilai-nilai dan norma.
  3. Masyarakat dan kebudayaan daerahnya sebagai submasyarakat nasional Indonesia.
  4. Perubahan dan masalah-masalah sosial budaya yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari berlangsung secara terus-menerus. Hal tersebut dapat disebabkan oleh faktor faktor internal dan eksternal.


Ciri-ciri Sosiologi

Adapun ciri-ciri dan karakteristik sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, antara lain:

a. Sosiologi Bersifat Empiris

Sosiologi didapat dari sebuah penelitian dan observasi berdasarkan kenyataan, yang dapat diuji secara ilmiah. Artinya, sosiologi tidak bersifat spekulatif (mengira-ngira suatu kebenaran).

b. Sosiologi Bersifat Teoritis (Abstraksi)

Sosilogi adalah ilmu yang dibangun menjadi sebuah teori, kemudian disusun secara logis yang bertujuan untuk mencari sebab akibat dari suatu fenomena sosial di masyarakat.

c. Sosiologi Bersifat Kumulatif

Sosiologi disusun berdasarkan teori-teori yang sudah ada sebelumnya. Sosiologi bersifat dinamis, yang berkembang dari teori yang sudah ada. Teori tersebut kemudian akan dikritisi, diperbaiki, agar bisa lebih relevan sesuai dengan adanya perkembangan zaman.

d. Sosiologi Bersifat Nonetis

Sosiologi mempersoalkan sebuah fakta yang terjadi di masyarakat, bukan terkait tentang baik atau buruknya suatu fakta tersebut.


Kamis, 21 November 2013

Upaya Membantu Siswa/ Siswi Mengatasi Masalah Belajar

Upaya Membantu Siswa/ Siswi Mengatasi Masalah Belajar

Para  ahli  telah  mengajukan  langkah-langkah  yang ditempuh  untuk melaksanakan pemecahan  masalah  belajar. Ross  dan  Stanley  (dalam depdikbud,1985:38)  menyatakan bahwa  tahapan  dalam pemecahan  masalah  belajar sebagai berikut:  (1) who are the pupils  having  trouble?(2)where are  the errors located?(3) why do the errors  located?(4) what  remidies are suggested ?(5) how can errors  be  pre­vented? Sedangkan Burton (dalam Depdikbud, 1985:38) menya­takan langkah-langkah pemecahan masalah belajar  meliputi: (1) general diagnosis, (2)Analytic diagnosis,(3) Psycolog­ical diagnosis.
Setelah  ditemukan siswa  atau  individu  yang diduga  mengalami  kesulitan belajar,  maka   selanjutnya adalah  melakukan  diagnosa yaitu upaya  untuk menentukan letak  dan jenis kesulitan serta latar belakangnya.  Untuk itu  di bawah ini secara berturut-turut akan dibahas  per­tanyaan  sbb : (a) Dalam mata pelajaran manakah  kesulitan itu terjadi? (b) Pada kawasan tujuan belajar yang  manakan kesulitan itu terjadi?(3) Pada bagian ruang lingkup  bahan yang manakah kesulitan itu terjadi? Apa yang  melatarbela­kangi terjadinya kesulitan itu.
Sebenarnya  tidaklah terlalu sukar untuk menjawab  per­tanyaan,  apakah  kesulitan itu terjadi  pada  beberapa atau  hanya salah satu mata pelajaran tertentu.  Dengan jalan membandingkan angka nilai prestasi tiap  individu yang  bersangkutan  dari semua mata  pelajaran  dengan nilai rata-rata dari setiap mata pelajaran, maka dengan mudah dapat ditemukan pada mata pelajaran  manakah siswa mengalami kesulitan. sebagai berikut:
Penetapan  tehnik  yang  akan  ditempuh  disesuaikan dengan jenis, sifat dan latar belakang kesulitan, misalnya ;  a) Jika berlatarbelakang pada  masalah-masalah pribadi seperti konflik, rendah diri, kurang kepercayaan pada diri sendiri, maka diberi bantuan konseling, b) Jika berlatar   belakang karena gangguan mental atau  gangguan  kesehatan  fisik,  bantuannya  ialah  dengan   melimpahkan kepada petugas yang berwenang, c) Jika berlatar  belakang  sosial  dapat  diberi  pendekatan dengan  group  guidance (bimbingan kelompok) serta penempatan pada kelompok-kelom­pok  tertentu dan sebagainya, d) Jika masalah yang  timbul karena  proses belajar mengajar  maka diberi bantuan  bim­bingan belajar.
 Jika terdapat kasus kesulitan belajar seperti tersebut di atas, maka hendaknya (1) menarik kesimpulan umum; (2) membuat perkiraan, apakah masalah itu mungkin untuk diatasi, dan; (3) memberikan saran tentang kemungkinan cara mengatasinya.
Untuk Kasus Kelompok
Jika mayoritas siswa nilai prestasinya tidak dapat mencapai batas lulus (minimum acceptable performance), kita dapat menyimpulkan bahwa kelas yang bersangkutan patut diduga sebagai kelas yang mengalami kesulitan belajar. Begitu juga dengan kelas yang bernilai prestasi kelas di bawah kelas yang setaraf, kelas ini juga patut diduga sebagai kelas yang mengalami kesulitan belajar.
Jika fakta di atas ternyata terjadi pada banyak bidang studi, dapat diduga bahwa letak kelemahannya bersifat integral (menyeluruh) yang menyangkut keseluruhan aspek kurikulum dan system pengajaran di kelas atau sekolah yang bersangkutan, tetapi kalau kasus tersebut hanya terjadi pada bidang studi tertentu maka kelemahannya dapat dilokalisasikan pada sistem instruksional khusus yang digunakan oleh guru bidang studi.
Estimasi (perkiraan) dan saran kemungkinan cara mengatasi kasus di atas dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mendefinisikan jenis dan sumber penyebab masalahnya dan karakteristik berat atau ringannya masalah. Pada kasus kelompok penyebab masalah dapat dikatakan dari luar diri diri siswa karena yang mengalami kesulitan hampir semua siswa dalam satu kelas, sedangkan karakteristik masalahnya sangat mungkin diatasi, berdasarkan gejala-gejala khas yang berkaitan dengan kelompok.
Jika kelemahannya bersumber dari kurikulum, maka kemungkinan cara mengatasi adalah dengan program pengajaran khusus (pengayaan). Jika kelemahannya bersumber dari sistem evaluasi, maka kemungkinan cara mengatasinya dengan pengembangan sistem penilaian yang memotivasi siswa. Sedangkan jika kelemahan terdapat pada faktor kondisional, kemungkinan dapat diatasi dengan melengkapi buku, laboratorium, dan sarana-prasarana belajar lainnya.
Untuk Kasus Individu
Jika ternyata hanya sebagaian kecil dari siswa (sekitar 5-25%) yang angka prestasinya tidak mencukup batas lulus dan atau lebih kecil dari rata-rata nilai prestasi kelas, kita dapat menyimpulkan bahwa letak kelemahan bersifat individual. Permasalahan dapat disimpulkan lebih lanjut sebagai berikut.
  1. Bersifat menyeluruh, jika ternyata kelemahannya terjadi pada seluruh atau sebagaian besar bidang studi yang diikutinya.
  2. Bersifat segmental atau sektoral, jika ternyata kelemahannya terjadi pada sebagaian bidang studi yang diikutinya.
  3. Bersifat personal, jika ternyata kelemahan itu bukan dalam segi prestasi studi tetapi segi proses atau penyesuaian dirinya.
Sedangkan sumber dan faktor penyebabnya dapat berupa faktor individu siswa yang bersangkutan. Misalnya sifat sukar mengubah diri dengan pola-pola kebiasaan belajar yang lebih sesuai, sikap menyepelekan sistem penilaian partisipasi, dan belum menguasai pengetahuan dasar. Faktor dari luar diri siswa juga dapat berpengaruh pada hal ini, contohnya hampir sama pada kasus kelompok yang sebelumnya telah dijelaskan.
Untuk mengatasi kasus individu ini, sebelumnya harus kita bedakan dahulu, mana yang lebih muda diatasi dan mana yang lebih sulit. Jika faktor yang lebih berpengaruh adalah faktor hereditas atau genetik, maka usaha penyembuhan secara metodologis sangat kecil kemungkinannya untuk berhasil. Siswa semacam ini dapat dibantu dengan penyaluran atau penjurusan program pendidikan tertentu yang sesuai dengan kemampuannya. Jika kelemahan itu bersumber dari aspek individual lainnya, seperti kebiasaan belajar, minat dan lingkungan, maka penyembuhan secara metodologis dapat diterapkan meskipun hasilnya baru dapat dilihat dalam waktu yang relatif lama.
Beberapa alternatif yang dapat dilakukan dalam membantu masalah belajar  siswa yaitu : Remidial  teaching  atau pengajaran perbaikan, kegiatan pengayaan, peningkatan motivasi belajar, peningkatan ketrampilan belajar, pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik (Kartadinata, 1999; 75-79).
Di bawah ini diuraikan beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam membantu siswa yang mengalami masalah belajar.
Pengajaran Perbaikan
Pengajaran perbaikan merupakan bentuk khusus pengajaran yang bermaksud untuk menyembuhkan, membetulkan atau membuat menjadi baik. pengajaran perbaikan dapat dilakukan kepada seorang atau sekelompok siswa yang menghadapi masalah belajar dengan maksud untuk memperbaiki kesalahan dalam proses dan hasil belajar mereka. Pengajaran perbaikan sifatnya lebih khusus, karena bahan, metode, dan pelaksanaannya disesuaikan dengan jenis, sifat dan latar belakang masalah yang dihadapi siswa.   Wujud dari pengajaran perbaikan dapat berupa; pengajaran ulang baik sebagian maupun keseluruhan suatu unit, pemecahan masalah sosial, emosional maupun psikologis siswa.
Kegiatan pengayaan
Kegiatan pengayaan merupakan suatu bentuk layanan yang diberikan kepada seorang atau beberapa siswa yang sangat cepat dalam belajar. layanan ini dapat berupa tugas-tugas tambahan yang terencana untuk menambah atau memperluas pengetahuan dan ketrampilan yang telah dimiliki. Siswa yang cepat belajar hamper selalu dapat mengerjakan tugas-tugas lebih cepat dibandingkan dengan teman-temannya dalam waktu yang telah ditetapkan.
Peningkatan motivasi belajar
Prosedur yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar adalah sebagai berikut:
  1. Memperjelas tujuan-tujuan belajar. Melalui peneguhan tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang yang akan dicapai, akan mendorong siswa giat belajar.
  2. Menciptakan suasana pembelajaran yang menantang, merangsang dan menyenangkan.
  3. Memberi hadiah (penguatan) baik secara verbal dan non verbal.
  4. Memberikan hukuman (hukuman yang bersifat membimbing, yaitu yang menimbulkan efek peningkatan perilaku kearah yang lebih baik).
  5. Menciptakan interaksi yang hangat dan dinamis antara guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa.
  6. Menghindari suasana yang mengancam dan menimbulkan tekanan-tekanan seperti suasana yang menakutkan, mengecewakan, membingungkan dan menjengkelkan.
  7. Melengkapi sumber dan peralatan belajar.
  8. Peningkatan ketrampilan belajar
Ketrampilan belajar sangat dibutuhkan siswa untuk dapat mencapai hasil belajar yang optimal.  Untuk meningkatkan ketrampilan belajar siswa dapat dilakukan dengan cara memberikan informasi dan pelatihan ketrampilan belajar. Materi pelatihan ketrampilan belajar dapat  meliputi: cara membuat catatan yang baik, cara menhadapi ujian, cara membuat ringkasan, cara menghafal materi pelajaran dan sebagainya.
Pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik
Sikap dan kebiasaan yang baik tidak tumbuh secara kebetulan, melainkan perlu ditumbuhkan melalui bantuan yang terencana, terutama oleh guru-guru dan orang tua siswa. untuk itu siswa hendaknya dibantu dalam hal;
  1. menemukan motif-motif yang tepat dalam belajar
  2. memelihara kondisi kesehatan yang baik
  3. mengatur waktu belajar baik di sekolah maupun di luar sekolah
  4. memilih tempat belajar yang baik
  5. belajar dengan menggunakan berbagai sumber belajar
  6. membaca dengan cara yang baik
  7. tak segan-segan bertanya untuk hal-hal yang belum diketahui.

CARA MENENTUKAN SISWA YANG MENGALAMI MASALAH BELAJAR



CARA MENENTUKAN SISWA YANG MENGALAMI MASALAH BELAJAR


  1. Definisi Masalah Belajar
Masalah adalah ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan, ada yang melihat sebagai tidak terpenuhinya kebutuhan seseorang, dan adapula yang mengartikannya sebagai suatu hal yang tidak mengenakan. Prayitno (1985) mengemukakan bahwa masalah adalah sesuatu yang tidak disukai adanya, menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan atau orang lain, ingin atau perlu dihilangkan. Sedangkan menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengertian belajar dapat didefinisikan “Belajar ialah sesuatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
“Belajar adalah dengan mengalami; dan dalam mengalami itu si pelajar mempergunakan panca indranya.” ( Cronbach, 1954: 47 ).

Menurut ( Spears, Harold, 1955: 94 ) “Learning is to observe,to read, to imitate,to try something themselves, to listen, to follow direction”. Senada dengan apa yang dikemukakan Cronbach di atas itu ialah pendapat McGeoh yang menyatakan bahwa “Learning is a change in performance as a result of practice (dalam Skinner, 1958: 109).”
Dari definisi masalah dan belajar maka masalah belajar dapat diartikan atau didefinisikan sebagai berikut :
“Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan”.
Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa murid-murid yang pandai atau cerdas.
Dalam interaksi belajar mengajar siswa merupakan kunci utama keberhasilan belajar selama proses belajar yang dilakukan. Proses belajar merupakan aktivitas psikis berkenaan dengan bahan belajar.
 2.  Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Belajar
a. Faktor-faktor internal belajar
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan psikologis.
1) Faktor fisiologis
Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor-faktor ini dibedakan menjadi dua macam. Pertama, keadaan tonus jasmani. Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas belajar seseorang. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terha­dap kegiatan belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Oleh karena keadaan tonus jasmani sangat memengaruhi proses belajar, maka perlu ada usaha untuk menjaga kesehatan jasmani.
Kedua, keadaan fungsi jasmani/fisiologis. Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologi pada tubuh manusia sangat mempengaruhi hasil belajar, terutama panca indra. Panca indra yang berfungsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar dengan baik pula. Dalam proses belajar, pancaindra merupakan pintu masuk bagi segala informasi yang diterima dan ditangkap oleh manusia, sehingga manusia dapat mengenal dunia luar.
2)Faktor psikologis
Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat memengaruhi proses belajar. Bebera­pa faktor psikologis yang utama memengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap, dan bakat.
-        Kecerdasan/inteligensi siswa
Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemampu­an psiko-fisik dalam mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan demikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ-organ tubuh yang lain. Namun bila dikaitkan dengan kecerdasan, tentunya otak merupakan organ yang penting dibandingkan organ yang lain, karena fungsi otak itu sendiri sebagai pengendali tertinggi (executive control) dari hampir seluruh aktivitas manusia.
Kecerdasan merupakan faktor psikologis yang paling penting dalam proses belajar siswa, karena itu menenentukan kualitas belajar siswa. Semakin tinggi tingkat inteli­gensi seorang individu, semakin besar peluang individu tersebut meraih sukses dalam belajar. Sebaliknya, semakin rendah tingkat inteligensi individu, semakin sulit indivi­du itu mencapai kesuksesan belajar. Oleh karena itu, perlu bimbingan belajar dari orang lain, seperti guru, orangtua, dan lain sebagainya. Sebagai faktor psikologis yang penting dalam mencapai kesuksesan belajar, maka pengetahuan dan pemahaman tentang kecerdasan perlu dimiliki oleh setiap calon guru atau guru profesional, sehingga mereka dapat memahami tingkat kecerdasan siswanya.
Pemahaman tentang tingkat kecerdasan individu dapat diperoleh oleh orangtua dan guru atau pihak-pihak yang berkepentingan melalui konsultasi dengan psikolog atau psikiater. Sehingga dapat diketahui anak didik berada pada tingkat kecerdasan yang mana, amat superior, superior, rata­rata, atau mungkin lemah mental. Informasi tentang taraf kecerdasan seseorang merupakan hal yang sangat berhar­ga untuk memprediksi kemampuan belajar seseorang. ­Pemahaman terhadap tingkat kecerdasan peserta didik akan membantu mengarahkan dan merencanakan bantuan yang akan diberikan kepada siswa.
Motivasi
Motivasi adalah salah satu faktor yang memengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasilah yang mendo­rong siswa inginn melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat (Slavin, 1994). Motivasi juga diartikan sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan arah perilaku seseorang. Dari sudut sumbernya, motivasi dibagi menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motiva­si intrinsik adalah semua faktor yang berasal dari dalam diri individu dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. Seperti seorang siswa yang gemar membaca, maka ia tidak perlu disuruh-suruh untuk membaca, karena memba­ca tidak hanya menjadi aktivitas kesenangannya, tapi bisa jadi juga telah menjadi kebutuhannya. Dalam proses belajar, motivasi intrinsik memiliki pengaruh yang lebih efektif, karena motivasi intrinsik relatif lebih lama dan tidak tergan­tung pada motivasi dari luar (ekstrinsik).
Menurut Arden N. Frandsen (Hayinah, 1992), yang termasuk dalam motivasi intrinsik untuk belajar antara lain adalah:
  1. Dorongan ingin tahu dan ingin menyelediki dunia yang lebih luas;
  2. Adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk maju;
  3. Adanya keinginan untuk mencapai prestasi sehingga mendapat dukungan dari orang-orang penting, misal­kan orangtua, saudara, guru, atau teman-teman, dan lain sebagainya;
  4. Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau pengeta­huan yang berguna bagi dirinya, dan lain-lain.
Motivasi ekstrinsik adalah faktor yang datang dari luar diri individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan untuk belajar. Seperti pujian, peraturan, tata tertib, teladan guru dan orangtua, dan lain sebagainya. Kurangnya respons dari lingkungan secara positif akan memengaruhi semangat belajar siswa menjadi lemah.
Minat
Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Reber (Syah, 2003), minat bukanlah istilah yang populer dalam psikologi disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai faktor internal lainnya, seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.
Namun lepas dari kepopulerannya, minat sama halnya dengan kecerdasan dan motivasi, karena memberi penga­ruh terhadap aktivitas belajar. Karena jika seseorang tidak memiliki minat untuk belajar, ia akan tidak bersemangat atau bahkan tidak mau belajar. Oleh karena itu, dalam konteks belajar di kelas, seorang guru atau pendidik lainnya perlu membangkitkan minat siswa agar tertarik terhadap materi pelajaran yang akan dipelajarinya.
Untuk membangkitkan minat belajar siswa tersebut, banyak cara yang bisa digunakan. Antara lain, pertama, dengan membuat materi yang akan dipelajari semenarik mungkin dan tidak membosankan, baik dari bentuk buku materi, desain pembelajaran yang membebaskan siswa untuk mengeksplor apa yang dipelajari, melibatkan seluruh domain belajar siswa (kognitif, afektif, psikomotorik) sehingga siswa menjadi aktif, maupun performansi guru yang menarik saat mengajar. Kedua, pemilihan jurusan atau bidang studi. Dalam hal ini, alangkah baiknya jika jurusan atau bidang studi dipilih sendiri oleh siswa sesuai dengan minatnya.
Sikap
Dalam proses belajar, sikap individu dapat memeng­aruhi keberhasilan proses belajarnya. Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, peristiwa dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif (Syah, 2003). Sikap siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak senang pada performan guru, pelajaran, atau lingkungan sekitarnya. Dan untuk mengantisipasi munculnya sikap yang negatif dalam belajar, guru sebaiknya berusaha untuk menjadi guru yang profesional dan bertanggung jawab terhadap profesi yang dipilihnya. Dengan profesionalitas, seorang guru akan berusaha membe­rikan yang terbaik bagi siswanya; berusaha mengembangkan kepribadian sebagai seorang guru yang empatik, sabar, dan tulus kepada muridnya; berusaha untuk menyajikan pelajar­an yang diampunya dengan baik dan menarik sehingga membuat siswa dapat mengikuti pelajaran dengan senang dan tidak menjemukan; meyakinkan siswa bahwa bidang srudi yang dipelajari bermanfaat bagi diri siswa.
Bakat
Faktor psikologis lain yang memengaruhi proses belajar adalah bakat. Secara umum, bakat(aptitude) didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Syah, 2003). Berkaitan dengan belajar, Slavin (1994) mendefinisi­kan bakat sebagai kemampuan umum yang dimiliki seorang siswa untuk belajar. Dengan demikian, bakat adalah kemam­puan seseorang yang menjadi salah satu komponen yang diperlukan dalam proses belajar seseorang. Apabila bakat seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan mendukung proses belajarnya sehingga kemungkinan besar ia akan berhasil.
Pada dasarnya, setiap orang mempunyai bakat atau potensi untuk mencapai prestasi belajar sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Karena itu, bakat juga diartikan sebagai kemampuan dasar individu untuk melaku­kan tugas tertentu tanpa tergantung upaya pendidikan dan latihan. Individu yang telah memiliki bakat tertentu, akan lebih mudah menyerap segala informasi yang berhubung­an dengan bakat yang dimilikinya. Misalnya, siswa yang berbakat di bidang bahasa akan lebih mudah mempelajari bahasa-bahasa lain selain bahasanya sendiri.
b. Faktor faktor eksternal
Selain karakteristik siswa atau faktor-faktor internal, faktor-faktor eksternal juga dapat memengaruhi proses belajar siswa. Dalam hal ini, Syah (2003) menjelaskan bahwa faktor faktor eksternal yang memengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.
1) Lingkungan sosial
a.Lingkungan sosial masyarakat. 
Kondisi lingkungan masya­rakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengang­guran dan anak terlantar juga dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa, paling tidak siswa kesulitan ketika memer­lukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilikinya.
b.Lingkungan sosial keluarga. 
Orang tua yang memiliki keahlian dan keterampilan khusus dapat membantu mengajar seni, musik, atau computer. Orang tua juga dapat menjadi staf sukarela yang membantu dengan berperan sebagai tutor, mengusahakan transportasi untuk karya wisata dan mengawali anak pada kunjungan ke tempat-tempat khusus, dan dengan demikian meluaskan kesempatan yang dapat diberikan sekolah kepada anak berbakat (Munandar, Utami, 1999;97). Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaan keluarga, semuanya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa. Hubungan antara anggota keluarga, orangtua, anak, kakak, atau adik yang harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.
c.  Lingkungan sosial sekolah.
Seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang siswa. Hubungan yang harmonis antara ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baik di sekolah. maka para pendidik, orangtua, dan guru perlu memperhatikan dan memahami bakat yang dimili­ki oleh anaknya atau peserta didiknya, antara lain dengan mendukung, ikut mengembangkan, dan tidak memaksa anak untuk memilih jurusan yang tidak sesuai dengan bakat­nya.

2) Lingkungan nonsosial.
            Faktor faktor yang termasuk lingkung­an nonsosial adalah:
a.   Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang sejuk dan tenang. Lingkungan alamiah tersebut merupa­kan faktor-faktor yang dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa. Sebaliknya, bila kondisi lingkungan alam tidak mendukung, proses belajar siswa akan terhambat.
b.   Faktor instrumental, yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar, lapang­an olahraga dan lain sebagainya. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, buku panduan, silabi, dan lain sebagainya.
Faktor materi pelajaran (yang diajarkan ke siswa). Faktor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembang­an siswa, begitu juga dengan metode mengajar guru, disesuaikan dengan kondisi perkembangan siswa. Karena itu, agar guru dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap aktivitas belajar siswa, maka guru harus mengua­sai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi siswa.
3. Menentukan Siswa yang mengalami masalah belajar
Untuk menentukan atau melihat siswa yang mengalami masalah belajar menurut terminologi medis ada beberapa karakteristik sebagai berikut :
  1. Kurang perhatian, paling sedikit mencakup beberapa karakteristik
dibawah ini :
  1. Sering gagal menyelesaikan pekerjaan yang sudah dimulai
    1. Sering tampak seperti tidak mendengarkan
    2. Mudah bingung
    3. Masalah untuk memusatkan perhatian pada pekerjaan
sekolah atau tugas-tugas lain
2. Impulsif,  paling sedikit mencakup beberapa karakteristik dibawah
ini :
  1. masalah untuk mengikuti suatu aktifitas permainan
  2. sering bertindak sebelum berfikir
  3. mengubah-ubah aktifitas dari yang satu ke yang lain
  4. masalah untuk mengorganisasikan pekerjaan (bukan karena gangguan kognitif)
  5. memerlukan banyak pengawasan
  6. sering keluar kelas
  7. sulit menunggu giliran dalam permainan atau dalam situasi belajar kelompok3. Hiperaktifitas, paling sedikit mencakup beberapa karakteristik
dibawah ini :
  1. Berlari-lari dan memanjat-manjat secara berlebihan
  2. Gelisah secara berlebihan                                                                                                                   4. Menentukan dan Mengatasi Siswa yang mengalami masalah
Siswa yang mengalami masalh belajar biasanya menunjukan gejala-gejalayang mudah diamati oleh guru. Beberapa tanda adanya masalah belajar pada siswa, misalnya :
  1. Menunjukan prestasi yang rendah/ di bawah rata-rata prestasi yang      dicapai oleh kelompok kelas
  2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Ia berusaha belajar dengan keras tetapi nilainya selalu rendah
  3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dari kawan-kawannya dalam segala hal, misalnya dalam mengerjakan soal, mengerjakan pekerjaan rumah, dan tugas-tugas lainnya.
  4. Menunjukan sifat yang kurang wajar seperti acuh tak acuh, berpura-pura, dusta, dll.
  5. Menunjukan tingkah laku yang berlainan, seperti : mudah tersinggung, murung, pemarah, bingung, cemberut, kurang gembira, selalu sedih.
Dari gejala-gejala yang nampak tersebut dapat disimpulkan bahwa kemungkinan besar siswa tersebut mengalami maslah belajar.
Mengatasi Siswa yang Mengalami Masalah Belajar
Siswa yang mengalami masalah belajar perlu mendapatkan bantuan agar masalahnya tidak berlarut-larut yang nantinya dapat mempengaruhi proses perkembangan siswa. Beberapa upaya yang dapat dilakukan guru adalah (a) pengajaran perbaikan, (b) kegiatan pengayaan, (c) peningkatan motivasi belajar, dan (d) pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif.
  1. Pengajaran perbaikan
Pengajaran perbaikan merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada seorang atau sekelompok siswa yang menghadapi masalah belajar dengan maksud memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam proses dan hasil belajar mereka. Dalam hal ini bentuk kesalahan yang paling pokok berupa kesalahan pengertian, dan tidak menguasai konsep-konsep dasar. Guru harus berupaya memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut, sehingga siswa mempunyai kesempatan untuk mencapai hasil belajar yang optimal.
2. Kegiatan Pengayaan
Kegiatan pengayaan merupakan suatu bentuk layanan yang diberikan guru kepada seorang atau beberapa orang siswa yang sangat cepat dalam belajar. Mereka memerlukan tugas-tugas tambahan yang terencana untuk menambah, memperluas pengetahuan dan keterampilan yang telah dimilikinya dalam kegiatan belajar sebelumnya.
3. Peningkatan Motifasi Belajar
Salah satu bantuan yang dapat diberikan guru dalam mengatasi masalah belajar siswa adalah dengan memberikan motivasi belajar. Prosedur-prosedur yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1)   Memperjelas tujuan-tujuan belajar. Siswa .akan terdorong untuk lebih giat belajar apabila ia mengetahui tujuan–tujuan atau sasaran yang hendak dicapai
2)   Menyesuaikan pengajaran dengan bakat, kemampuan dan minat siswa
3)   Menciptakan suasana pembelajaran yang menantang, merangsang dan menyenangkan .
4)   Memberikan hadiah ( penguatan ) dan hukuman bila mana perlu.
5)   Menciptakan suasana hubungan yang hangat dan dinamis antara guru dan murid, serta antara murid dan murid.
6)   Melengkapi sumber dan peralatan belajar.
Guru memiliki tugas sebagai pemimpin dalam kegiatan belajar, ia berperan strategis dalam menghasilkan lulusan yang berprestasi, baik secara akademik maupun nonakademik. Dalam pelaksanaan tugas pembelajaran, guru tidak hanya berkewajiban menyajikan materi pelajaran dan mengevaluasi siswa, akan tetapi juga beranggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan belajar.
Sebagai pemimpin pembelajaran , guru harus memiliki fungsi sebagai motivator dan inovator, yakni seorang guru harus mampu membimbing dan memberi semangat kepada siswa agar dapat meraih sukses. ia harus mampu membesarkan hati peserta didik agar tidak mudah putus asa. Sebagai motivator berperan  menjadi pendorong agar peserta didik mau melakukan hal-hal baru (A.Z., Mulyana.2010: 201).
Oleh sebab itu, guru harus mengadakan pendekatan bukan saja melalui pendekatan intruksional, akan tetapi dibarengi dengan pendekatan yang bersifat pribadi (personal approach) dalam setiap proses belajar mengajar berlangsung. Dalam hal ini seorang guru yang kreatif yang memiliki sifat mudah bergaul, biasanya akan lebih mudah melakukan pendekatan kepada siswanya. Bukan hanya secara instruksional, akan tetapi juga secara pendekatan pribadi. Guru seakan menjadi teman bagi siswa sehingga fungsi guru bukan hanya sekedar pengajar di kelas, akan tetapi bisa bertukar pikiran atau mencurahakan kegelisahan (A.Z, Mulyono.2010:104).
Melalui pendekatan pribadi, guru akan secara langsung mengenal dan memahami siswa secara lebih mendalam sehingga dapat memperoleh hasil belajar yang optimal. Dengan demikian,dapat disimpulkan bahwa setiap guru adalah sebagai pengajar sekaligus berperan sebagai pembimbing (motivatir dan inovator) dalam proses belajar mengajar. Abdillah(2008), mengemukakan bahwa sebagai pembimbing dalm proses belajar mengajar, seorang guru diharapkan mampu :
  1. Memberikan informasi yang diperlukan dalam proses belajar mengajar
  2. Membantu setiap siswa dalam mengatasi setiap masalah pribadi yang dihadapinya
  3. Mengevaluasi hasil setiap langkah kegiatan yang telah dilakukannya
  4. Memberiakn setiap kesempatan yang memadai agar setiap murid dapat belajar sesuai dengan karakteristik pribadinya
  5. Mengenal dan memahami setiap murid baik secara individual maupun secara kelompok.
Sebagai seorang pendidik, guru diharapkan dapat membimbing dan mendorong siswa auntuk mengatasi berbagai masalah belajar yang dialami siswa. Agar bimbingan belajar lebih terarah dalam upaya membantu siswa dalam mengatasi masalah belajar, maka perlu diperhatikan langkah-langkah berikut :
  1. Identifikasi
Identifikasi adalah suatu kegiatan yang diarahkan untuk menemukan siswa yang mengalami kesulitan belajar, yaitu mencari informasi tentang siswa dengan melakukan kegiatan berikut :
1)     Data dokumen hasil belajar siswa
2)     Menganalisis absensi siswa di dalam kelas
3)     Mengadakan wawancara dengan siswa
4)     Menyebar angket untuk memperoleh data tentang permasalahn belajar
5)     Tes untuk memperoleh dat tentang kesulitan belajar atau permasalahan yang sedang dihadapi
2. Diagnosis
Diagnosis adalah keputusan atau penentuan mengenai hasil dari pengolahan data tentang siswa yang mengalami kesulitan belajar dan jenis kesuliatn yang dialami siswa. Diagnosis ini dapat berupa hal-hal sebagai berikut :
1)     Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar siswa
2)     Keputusan mengenai faktor-faktor yang menjadi sumber sebab-sebab kesulitan belajar.
3)     Keputusan mengenai jenis mata pelajaran apa yang mengalami kesulitan belajar
Kegiatan diagnosis dapat dilakukan dengan cara :
a)     Membandingkan nilai prestasi individu untuk setiap mata pelajaran dengan rata-rata nilai seluruh individu.
b)     Membandingkan prestasi dengan potensi yang dimiliki oleh siswa tersebut.
c)     Membandingkan nilai yang diperoleh dengan batas minimal tujuan yang diharapkan.
3. Prognosis
Prognosis merujuk pada aktivitas penyusunan rencana atau program yang diharapkan dapt membantu mengatasi masalah kesulitan belajar siswa . prognosis ini dapat berupa :
1)     Bentuk treatmen yang harus diberikan
2)     Bahan atau materi yang diperlukan
3)     Metode yang akan digunakan
4)     Alat bantu belajar mengajar yang diperlukan
5)     Waktu kegiatan dilaksanakan
4. Terapi atau pemberian bantuan
Terapi disini adalah pemeberian bantuan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telah disusun pada tahap prognosis . Bentuk terapi yang dapat diberikan antara lain melalui :
1)     Bimbingan belajar kelompok
2)     Bimbingan belajar individual
3)     Pengajaran remedial
4)     Pemberian bimbingan pribadi
5)     Alih tangan kasus
5. Tindak lanjut atau follow up
Tindak lanjut atau follow up adalah usaha untuk mengetahui keberhasilan batuna yang telah diberikan kepada siswa dan tindak lanjutnya yang didasari haisl evaluasi terhadap tindakan yang dilakukan dalam upaya pemeberian bimbingan .