P Mas Yudi ..!!!
Assalamu'alaikum ..... Selamat Datang di Blog Anak Desa ...

Beranda

Senin, 20 Mei 2013

PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM SOSIOLOGI PENDIDIKAN

Setidaknya terdapat beberapa pendekatan dari perspektif sosiologi yang dapat digunakan dalam menganalisis permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam bidang pendidikan. Di antaranya seperti yang disampaikan oleh Abu Ahmadi dalam bukunya ‘Sosiologi Pendidikan’ yaitu pendekatan individu, sosial, interaksi dan teori medan.

A.    Pendekatan Individu (The Individual Approach)
Dalam pendekatan individu titik penekanannya adalah tingkah laku individu. Setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhi pendekatan individu ini yakni faktor internal yang meliputi faktor-faktor biologis dan faktor eksternal yang meliputi faktor-faktor lingkungan fisik dan lingkungan sosial.
Dalam pendekatan individual ini titik tekannya adalah faktor-faktor biologis yang menguasai tingkah laku individu daripada faktor-faktor psikologis, namun kedua faktor ini tetaplah faktor primernya sedangkan faktor lingkungan sekitar fisik dan lingkungan sosial merupakan faktor sekunder. Hal ini dikarenakan pendekatan individu berasumsi bahwa individu adalah primer dan masyarakat adalah sekunder.[1]
1.      Faktor Biologis Pada Tingkah Laku Manusia
Perbedaan antara faktor biologis dan psikologis pada tingkah laku manusia adalah pada faktor biologis manusia dipandang sebagai organisme yang murni dan sederhana, sedangkan pada faktor psikologis manusia dipandang sebagai organisme yang cerdas dan mempunyai kecerdasan (inteligen). Kemudian yang menjadi problem terbesar pada biologi adalah usaha untuk menemukan elemen-elemen tingkah laku mana yang dapat diwariskan secara biologis dan elemen-elemen tingkah laku mana yang disebabkan oleh lingkungan sekitar dan apakah elemen tingkah laku inheritas (keturunan biologis/ hereditas) itu dapat diubah atau tidak?, kalau dapat diubah sejauh mana perubahan dapat terjadi?
2.      Faktor Psikologis Pada Tingkah Laku Manusia
Sebenarnya perbedaan antara faktor psikologis dan biologis tidak begitu ekstrim, tajam dan statis. Seiring dengan kemajuan-kemajuan penelitian ilmiah maka dapat diketahui bahwa sebenarnya hubungan psikologi dan biologi sifatnya timbal-balik, bahkan justru keduanya saling melengkapi di dalam mempelajari tingkah laku manusia. Bukti dari ini adalah munculnya penelitian-penelitian psikologi mengenai konsep insting (instinct).
Singkatnya dapat disimpulkan bahwa pendekatan individu belumlah lengkap untuk menerangkan semua gejala tingkah laku manusia mengingat bahwa individu-individu adalah hidup dengan dan dalam masyarakat. Jadi faktor masyarakat itupun harus diakui peranannya sebagai pembentuk tingkah laku anggota masyarakatnya.
B.     Pendekatan Sosial (The Societal Approach)
Titik tekan pendekatan ini adalah masyarakat dengan berbagai lembaga, kelompok, organisasi dan aktivitasnya. Secara kongkrit pendekatan sosial ini membahas aspek-aspek atau komponen dari kebudayaan manusia, seperti keluarga, tradisi, adat-istiadat, dan sebagainya. Jadi segala sesuatu yang dianggap produk bersama adalah milik bersama atau milik masyarakat. Jadi jelas di sini yang menjadi gejala primer adalah kelompok masyarakat, sedangkan individu merupakan gejala sekunder saja.
Secara ekstrim, pendekatan sosial ini berasumsi bahwa tingkah laku individu-individunya secara mutlak ditentukan oleh masyarakat dan kebudayaan masyarakat, sehingga individualitas tenggelam di dalam sosialtas manusia. Tingkah laku yang demikian ini dapat ditemukan dalam masyarakat yang benar-benar homogen yang kuat tradisi dan tata caranya. Sehingga inidividu-individu yang menyimpang dari pola tingkah laku masyarakat dianggap abnormal dan pasti dikeluarkan dari masyarakatnya.
Kalau diperhatikan secara seksama, prinsip dari pendekatan sosial ini tak dapat disangkal kebenarannya, tetapi secara ekstrem dan absolut, pendekatan sosial ini menunjukkan kelemahan-kelemahannya, sebab betapapun homogennya dan kuatnya tata cara hidup masyarakat di situ masih juga didapati perilaku individualitas pada anggota masyarakat. Mengapa demikian? Karena setiap individu mempunyai watak dan kepribadiannya masing-masing. Bahkan tidak jarang keseragaman tingkah laku pada masyarakat dianggap sebagai paksaan yang membelenggu kreatifitas individu tersebut. Karena pada dasarnya pola tingkah laku individu manusia selalu didapati sifat-sifat kreatif dan dinamis.
C.     Pendekatan Interaksi (The Interaction Approach)
Di dalam pendekatan interaksi ini perhatiannya adalah penggabungan dari pendekatan individu dan pendekatan sosial melalui interaksi. Sebab pada kenyataannya menurut pendekatan interaksi ini, individu dan masyarakat itu saling mempengaruhi dan memiliki hubungan timbal balik. Jadi antara individu dan masyarakat itu mempunyai daya kekuatan yang saling membentuk dan saling menyempurnakan.[7]
Kesimpulannya pendekatan ini ingin menjelaskan bahwa untuk mengetahui tingkah laku manusia harus dilihat dari individu dan masyarakat. Jadi sosiologi pendidikan tidak semata-mata hanya mempelajari individu atau masyarakat saja tetapi harus kedua-duanya.
D.    Teori Medan (field theory)
Teori medan adalah teori yang diperkenalkan oleh Dr. Kurt Lewin dari bidang psikologi yang kemudian dikembangkan oleh J.F Brown dalam psikologi sosial. Inti dari teori medan adalah meneliti struktur medan hidup (life space) beserta pribadi (Person) dan medan sosial (life space sosial) nya. Medan hidup ini merupakan kondisi-kondisi, syarat-syarat dan situasi-situasi kongkrit yang menyertai gerak individu pribadi tadi. Obyeknya adalah organisme manusia. Cara bekerjanya teori medan itu mempergunakan metode hipotetis- deduktif. Ciri khas lain dari teori medan adalah menggunakan bahasa genotype. Dan lagi bahwa dalam teori medan digunakanlah konsep-konsep dan gambar-gambar mathematis.
KESIMPULAN
Jadi dari apa yang sudah dipaparkan di atas dapat kita lihat bahwa setidaknya ada empat pendekatan sosiologis yang dapat digunakan dalam menganalisis masalah-masalah pendidikan yaitu, pendekatan individu, sosial, interaksi dan teori medan. Namun perlu kita sadari juga bahwa semua pendekatan ini tidak bisa berdiri sendiri sehingga dibutuhkan semua pendekatan untuk menghasilkan analisis yang lebih empiris dan sempurna.
REFERENSI
Ahmadi, Abu. Sosiologi Pendidikan, Jakarta, 2007.
sumb3r:
http://proletargameover.blogspot.com/2012/10/pendekatan-pendekatan-dalam-sosiologi.html

Sabtu, 18 Mei 2013

Beton Tidak Boleh Retak?


 Beton Tidak Boleh Retak?Beton retak cukup sering terjadi dalam pelaksanaan proyek konstruksi. Banyak yang menyikapinya secara buru-buru bahwa  beton tersebut harus diperbaiki karena struktur beton telah mengalami kegagalan. Contoh pada proyek Perkantoran dimana Pembeli membeli space kantor yang belum dipasang plafond gypsum. Lalu, ketika melihat balok ada yang retak, Pembeli komplain. Kontraktor diminta untuk memperbaikinya. Salah siapa?
Beton Bertulang
Beton sangat banyak dipakai dalam proyek konstruksi. Bahan beton diperoleh dengan cara mencampurkan semen, air, dan aggregat plus bahan aditif dalam perbandingan tertentu. Segera telah diaduk, beton segar mulai mengeras. Semakin lama semakin keras mendekati kekuatan batu. Pedoman kekuatan beton adalah kekuatan saat mencapai umur 28 hari. Berikut disajikan tampang beton setelah mengeras.
 Beton Tidak Boleh Retak?
Beton memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1. Memiliki kuat tekan sangat tinggi.
  2. Karakter beton memiliki kuat tarik rendah yang menyebabkan beton gampang mengalami retak pada daerah tarik.
  3. Beton mengerut saat pengeringan dan beton keras mengembang jika basah
  4. Beton mengalami kembang-susut bila terjadi perubahan suhu
  5. Beton bersifat getas
Kemampuan kuat tekan beton pada umur 28 hari berkisar fc’= 10 – 65 MPa. Di pasaran lebih sering dijumpai mutu beton fc’ = 10 – 45 MPa atau K125 – K500. Angka tersebut menunjukkan nilai kekuatan tekan beton. Sebagai gambaran untuk kekuatan tekan beton untuk K125 adalah kubus beton 15×15 cm sanggup menahan beban sekitar 28 Ton.
Kuat tarik beton berkorelasi dengan kuat tekannya atau dapat merupakan fungsi dari kuat tekannya. Maksudnya, jika kuat tekan beton tinggi, maka kuat tarik beton juga tinggi. Kuat tarik beton berada jauh di bawah kuat tekannya. Suatu rumus pendekatan untuk menentukan kuat tarik beton yaitu = 0.57 x √ fc’ (untuk beton normal).
Pada kenyataannya beton dalam struktur beton bangunan sipil, memikul tarik yang  cukup besar Sehingga diperlukan perkuatan / material lain agar beton mampu memikul beban terutama beban tarik tersebut. Besi tulangan merupakan material yang memiliki kuat tarik yang tinggi. Sifat ini kemudian dimanfaatkan untuk mengatasi rendahnya kekuatan tarik beton. Sehingga apabila digunakan bersama-sama, maka menjadi struktur beton bertulang ( reinforced concrete ) yang kemudian memiliki kemampuan tekan dan tarik yang tinggi.
Perkembangan Beban Bangunan vs Kondisi Struktur Beton Bertulang
Pada beban kecil dimana gaya tarik yang terjadi belum melewati batas tarik beton,  analisis gaya-gaya yang terjadi adalah seperti gambar berikut:
 Beton Tidak Boleh Retak?
Beton tarik (sisi bawah di tengah balok) masih mampu menahan beban tarik yang ada. Sehingga masih diperhitungkan dalam mendukung beban yang terjadi. Kondisi ini umumnya terjadi pada balok bentang pendek dan atau dengan tinggi balok cukup besar.
Beban yang dipikul oleh struktur beton mulai diterima sejak bekisting dilepas. Beban yang dipikul saat itu belum mencapai beban rencana karena beban yang dipikul hanya beban sendiri dan beban pelaksanaan di atasnya. Kecilnya beban pada saat bongkar bekisting berarti beban tarik yang dipikulpun masih relatif kecil. Walaupun beban yang dipikul masih kecil, tidak berarti masih dalam batas kekuatan tarik beton.
Dalam praktik perhitungan pembongkaran bekisting, acuan batas  kekuatan yang digunakan adalah kekuatan / kapasitas dukung beton bertulang bukan kekuatan batas tarik beton. Kadang diberikan faktor aman tertentu. Tidak mungkin untuk menjadikan batas kekuatan tarik beton dalam pembongkaran bekisting. Ini berarti kemungkinan beton sisi tarik  akan mengalami retak.
Pada saat struktur beton telah selesai secara keseluruhan dan pekerjaan finishing mulai dikerjakan bahkan bangunan telah mulai beroperasi, maka berarti beban struktur semakin besar bahkan mencapai beban yang direncanakan. Kondisi beton pada saat ini memiliki kemungkinan yang semakin besar untuk mengalami keretakan dibanding pada saat bongkar bekisting.
 Beton Tidak Boleh Retak?
Pada gambar di atas adalah kondisi struktur beton bertulang mengalami beban besar atau sudah mencapai beban rencana. Pada gambar paling kanan terlihat beton bawah (bagian tarik) sudah tak diperhitungkan lagi. Baja tulangan bawah yang diperhitungkan untuk menahan gaya tarik. Perhitungan kapasitas momennya adalah M=C x jd = T x Jd. Simpelnya perhitungan dilakukan dengan memperhitungkan kopel gaya tekan beton (C) dan tulangan bawah (T). Beton bagian bawah (sampai pada batas garis netral / garis putus-putus) tidak diperhitungkan lagi.
Keretakan Beton = Gagal Struktur?
Pada saat terjadi keretakan, besi tulangan pada daerah tarik tersebut mulai mengambil alih secara penuh beban tarik yang terjadi. Artinya beton daerah tarik sudah tidak memikul beban tarik. Beban tarik dialihkan ke besi tulangan. Secara struktural kondisi ini memang dirancang seperti itu dan kekuatan struktur masih dapat dipertanggung jawabkan. Beton yang retak saat beban mulai bertambah sama sekali tidak berarti ada kegagalan struktur.
Lokasi retakan yang terjadi saat beban mulai membesar adalah pada daerah tumpuan  / ujung balok sisi atas dan tengah bentang di sisi bawah. Pengalaman saya, retak yang terjadi hanya 1-2 retakan di satu tempat observasi. Dimana tebalnya juga tidak besar. Bahkan seringkali hanya retak rambut. Keretakan seperti ini mestinya tidak perlu diperbaiki sama sekali. Ini kondisi yang alamiah terjadi dan memang perhitungannya sudah memperhitungkan retak itu akan terjadi.
Lain soalnya jika retak yang terjadi cukup banyak untuk satu lokasi observasi dengan lebar retak yang cukup besar dan retak mulai merembet ke lokasi lain selain di tumpuan dan tengah bentang. Ini ciri-ciri struktur beton mulai tidak mampu memikul beban yang ada.
Siapa yang bertanggung jawab?
Jika retak beton yang terjadi masih wajar, maka tidak perlu diperbaiki. Tidak perlu ada yang bertanggung jawab. Tidak perlu juga untuk khawatir, karena perhitungan struktur beton memang sudah tidak memperhitungkan beton yang mengalami retak. Namun jika retak yang terjadi cukup parah, perlu dilakukan penelitian yang lebih rinci yang melingkupi perhitungan struktur sesuai kondisi lapangan. Di samping itu perlu pula untuk melihat kembali kronologis pelaksanaan struktur. Jangan buru-buru menyalahkan salah satu pihak. Lakukanlah kajian yang lebih teliti.

Jumat, 15 Maret 2013

Belajar untuk melakukan
T pertanyaannya terkait erat dengan isu pelatihan kerja: bagaimana kita beradaptasi pendidikan sehingga dapat membekali orang untuk melakukan jenis pekerjaan yang dibutuhkan di masa depan? Di sini kita harus membedakan antara ekonomi industri, di mana kebanyakan orang pencari nafkah, dan negara lain di mana wirausaha atau pekerjaan kasual masih norma.
Dalam masyarakat di mana kebanyakan orang dalam pekerjaan yang dibayar, yang telah dikembangkan sepanjang abad duapuluh berdasarkan pada model industri, otomatisasi membuat model ini semakin "intangible". Ini menekankan komponen pengetahuan dari tugas, bahkan dalam industri, serta pentingnya jasa dalam perekonomian. Masa depan ekonomi ini bergantung pada kemampuan mereka untuk mengubah kemajuan dalam pengetahuan menjadi inovasi yang akan menghasilkan bisnis baru dan pekerjaan baru. "Belajar untuk melakukan" tidak bisa lagi berarti apa yang dilakukannya ketika orang-orang dilatih untuk melakukan tugas fisik yang sangat spesifik dalam proses manufaktur. Pelatihan keterampilan sehingga harus berkembang dan menjadi lebih dari sekedar sarana menyampaikan pengetahuan yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan yang lebih atau kurang rutin.
Dari keterampilan bersertifikat kompetensi pribadi
T ia bagian utama dimainkan oleh pengetahuan dan informasi dalam industri manufaktur membuat usang gagasan ketrampilan khusus pada bagian dari angkatan kerja. Konsep utama sekarang adalah salah satu dari "kompetensi pribadi". Kemajuan teknologi pasti mengubah keterampilan kerja yang diperlukan oleh proses produksi baru. Tugas fisik yang murni digantikan oleh tugas-tugas dengan isi intelektual atau otak yang lebih besar, seperti operasi, pemeliharaan dan pemantauan mesin dan tugas desain dan organisasi, sebagai mesin sendiri menjadi lebih cerdas.
Ada beberapa alasan untuk ini peningkatan persyaratan keterampilan di semua tingkatan. Bukannya diselenggarakan untuk melakukan tugas-tugas yang ditentukan dalam penjajaran sesuai dengan prinsip Taylor organisasi buruh ilmiah, pekerja manufaktur sering dibagi menjadi tim kerja atau kelompok proyek pada model Jepang. Pendekatan ini merupakan keberangkatan dari ide membagi pekerjaan ke dalam tugas fisik yang sama yang pada dasarnya dipelajari oleh pengulangan. Selain itu, ide tugas pribadi yang mengambil alih dari yang pertukaran karyawan. Ada tren yang berkembang di kalangan pengusaha untuk mengevaluasi karyawan potensial dalam hal kompetensi pribadi mereka daripada keterampilan bersertifikat yang mereka lihat sebagai hanya menunjukkan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas fisik tertentu. Ini kompetensi pribadi dinilai dengan melihat campuran keterampilan dan bakat, menggabungkan keterampilan bersertifikat yang diperoleh melalui pelatihan teknis dan kejuruan, perilaku sosial, inisiatif pribadi dan kemauan untuk mengambil risiko.
Jika kita menambahkan permintaan untuk komitmen pribadi pada bagian dari karyawan dalam peran mereka sebagai agen perubahan, jelaslah bahwa jenis kompetensi pribadi melibatkan kualitas bawaan atau diperoleh sangat subjektif, sering disebut sebagai "keterampilan orang" atau "keahlian interpersonal" oleh majikan, dikombinasikan dengan pengetahuan dan keterampilan kerja lainnya. Kualitas ini, komunikasi, tim dan pemecahan masalah keterampilan mengasumsikan kepentingan yang lebih besar. Pertumbuhan industri jasa telah mengakibatkan peningkatan tren ini.
Pergeseran dari pekerjaan fisik - industri jasa
Aku n negara maju ada pergeseran dari pekerjaan fisik. Implikasi dari tren ini untuk pendidikan yang lebih jelas jika kita melihat perkembangan industri jasa baik secara kuantitatif dan kualitatif. Sebagian besar penduduk aktif (60 - 80 persen) dari negara-negara industri yang bekerja di sektor jasa. Mendefinisikan karakteristik utama dari kategori ini sangat luas adalah bahwa hal itu mencakup kegiatan yang tidak industri atau pertanian dan yang, meskipun keragaman mereka, tidak melibatkan produk nyata.
Banyak layanan didefinisikan terutama dalam hal hubungan interpersonal yang terlibat. Contoh ini ditemukan baik di sektor jasa berkembang pesat swasta yang mendapatkan manfaat dari kompleksitas pertumbuhan ekonomi (setiap jenis keahlian dinas keamanan dibayangkan, atau jasa konsultasi teknologi tinggi, jasa keuangan, akuntansi dan manajemen) dan di lebih tradisional sektor publik (pelayanan sosial, kesehatan dan pelayanan pendidikan, dll). Dalam kedua kasus ini, informasi dan komunikasi memainkan peran penting. Aspek kunci di sini adalah akuisisi pribadi dan pengolahan data yang spesifik untuk proyek yang jelas. Dalam layanan jenis ini, baik penyedia dan pengguna mempengaruhi kualitas hubungan antara mereka. Jelas, orang tidak dapat lagi dilatih untuk pekerjaan semacam ini dalam cara yang sama seperti mereka belajar bagaimana untuk membajak tanah atau membuat lembaran baja. Ini pekerjaan baru adalah tentang hubungan interpersonal, hubungan pekerja dengan bahan dan proses yang mereka gunakan adalah sekunder. Sektor jasa tumbuh membutuhkan orang-orang dengan keterampilan sosial dan komunikasi yang baik - keterampilan yang belum tentu diajarkan di sekolah atau universitas.
Terakhir, dalam teknologi tinggi organisasi ultra masa depan, di mana kekurangan dapat menyebabkan disfungsi relasional yang serius, jenis baru dari keterampilan akan diperlukan, dengan antarpribadi ketimbang secara intelektual. Hal ini dapat memberikan kesempatan bagi orang-orang dengan sedikit atau tanpa kualifikasi pendidikan formal. Intuisi, akal sehat, penilaian dan keterampilan kepemimpinan tidak terbatas pada orang-orang yang sangat berkualitas. Bagaimana dan di mana keterampilan bawaan lebih atau kurang untuk diajarkan? Masalahnya adalah mirip dengan yang diajukan oleh gagasan pelatihan kejuruan di negara-negara berkembang. Konten pendidikan tidak bisa disimpulkan dari pernyataan keterampilan atau kemampuan yang diperlukan untuk tugas-tugas tertentu.
Pekerjaan di sektor informal,
T ia sifat pekerjaan sangat berbeda dalam perekonomian negara-negara berkembang di mana kebanyakan orang bukanlah penghasil upah. Di banyak negara sub-Sahara Afrika dan beberapa negara Amerika Latin dan Asia, hanya sebagian kecil dari populasi adalah dalam pekerjaan dibayar. Sebagian besar bekerja dalam ekonomi subsisten tradisional, di mana kualifikasi pekerjaan tertentu yang tidak diperlukan dan mana pengetahuan adalah buah dari pengetahuan tacit. Untuk alasan ini, pendidikan tidak bisa hanya dimodelkan pada jenis pendidikan yang tampaknya sesuai dengan tagihan dalam masyarakat pasca-industri. Selain itu, fungsi pembelajaran tidak terbatas untuk bekerja, melainkan harus memenuhi tujuan yang lebih luas untuk mencapai partisipasi formal atau informal dalam pembangunan. Hal ini sering kali melibatkan keterampilan sosial sebanyak keterampilan kerja.
Di negara-negara berkembang lainnya, ekonomi modern yang berkembang tidak resmi berdasarkan perdagangan dan keuangan mungkin ada di samping sektor ekonomi kecil resmi dan pertanian. Ini ekonomi paralel menunjukkan adanya komunitas bisnis mampu memenuhi kebutuhan lokal.
Dalam kedua kasus ini, tidak ada gunanya dalam menyediakan penduduk dengan biaya tinggi pelatihan (karena guru dan sumber daya pendidikan harus datang dari luar negeri) baik dalam keterampilan industri konvensional atau teknologi canggih. Sebaliknya, pendidikan harus dibawa ke dalam pembangunan endogen dengan memperkuat potensi lokal dan semangat pemberdayaan.
Kami kemudian harus menjawab pertanyaan yang berlaku untuk negara maju dan berkembang: bagaimana orang belajar untuk bertindak secara tepat dalam situasi yang tidak pasti, bagaimana mereka terlibat dalam membentuk masa depan?
Bagaimana orang bisa siap untuk berinovasi?
T pertanyaannya sedang ditanyakan di negara-negara berkembang dan negara maju. Pada dasarnya turun untuk mengetahui bagaimana mengembangkan inisiatif pribadi. Paradoksnya, negara-negara terkaya terkadang menahan diri dalam hal ini dengan cara berlebihan kode dan formal mereka terorganisir, terutama dalam hal sistem pendidikan mereka, dan oleh ketakutan tertentu pengambilan risiko yang dapat ditimbulkan oleh rasionalisasi model ekonomi mereka. Tidak diragukan lagi, olahraga, keanggotaan klub dan kegiatan seni dan budaya yang lebih berhasil daripada sistem sekolah tradisional untuk memberikan pelatihan semacam ini. Penemuan masyarakat lain melalui studi dan perjalanan dapat mendorong perilaku tersebut. Dari sudut pandang ini pada khususnya, banyak dapat dipelajari dengan mengamati perekonomian negara-negara berkembang.
Di semua negara, terakhir, semakin pentingnya kelompok-kelompok kecil, jaringan dan kemitraan menyoroti kemungkinan bahwa keterampilan interpersonal yang sangat baik akan menjadi persyaratan pekerjaan yang penting dari sekarang. Terlebih lagi, pola kerja baru, baik dalam industri atau di sektor jasa, akan memanggil untuk aplikasi intensif informasi, pengetahuan dan kreativitas. Semua hal dipertimbangkan, bentuk-bentuk baru dari kompetensi pribadi didasarkan pada tubuh pengetahuan teoritis dan praktis dikombinasikan dengan dinamika pribadi dan baik pemecahan masalah, pengambilan keputusan, inovatif dan keterampilan tim.
All rights reserved. Informasi ini dapat secara bebas digunakan dan disalin untuk pendidikan dan lainnya tujuan non komersial, dengan ketentuan bahwa setiap reproduksi data harus disertai dengan pengakuan dari UNESCO sebagai sumber. Penggunaan lainnya dari informasi memerlukan izin dari UNESCO dan permintaan harus diarahkan kepada Satuan Tugas tentang Pendidikan untuk Abad Twenty-pertama.

Learning to be

Belajar untuk menjadi
Sebuah t pertemuan pertama, Komisi kuat kembali menegaskan prinsip dasar: pendidikan harus memberikan kontribusi terhadap pembangunan lengkap setiap orang - pikiran dan tubuh, kecerdasan, sensitivitas, apresiasi estetika dan spiritualitas. Semua orang harus menerima di masa kecil mereka dan remaja pendidikan yang melengkapi mereka untuk mengembangkan independen mereka sendiri, cara berpikir kritis dan penilaian sehingga mereka dapat membuat pikiran mereka sendiri pada kursus terbaik tindakan dalam situasi yang berbeda dalam hidup mereka.
Dalam hal ini, Komisi mencakup salah satu asumsi dasar dinyatakan dalam laporan Belajar Menjadi:. tujuan pembangunan adalah pemenuhan lengkap manusia, dalam semua kekayaan kepribadiannya, kompleksitas bentuk nya ekspresi dan beberapa komitmen nya - sebagai individu, anggota keluarga dan penemu masyarakat, warga dan produser, teknik dan kreatif pemimpi '.
Ini pembangunan manusia, yang dimulai saat lahir dan terus sepanjang hidup seseorang, adalah proses dialektika yang didasarkan baik pada pengetahuan diri dan hubungan dengan orang lain. Hal ini juga mengandaikan pengalaman pribadi sukses. Sebagai sarana pelatihan kepribadian, pendidikan harus menjadi proses yang sangat individual dan pada saat yang sama pengalaman sosial yang interaktif.
Aku n Pembukaan nya, laporan Belajar Menjadi (1972) mengungkapkan ketakutan dehumanisasi dunia, terkait dengan kemajuan teknis dan salah satu pesan utamanya adalah bahwa pendidikan harus memungkinkan setiap> orang untuk dapat memecahkan masalah sendiri, membuat keputusan sendiri dan memikul tanggung jawab sendiri. " Sejak itu, semua kemajuan dalam masyarakat yang berbeda, khususnya peningkatan mengejutkan dalam kekuasaan media, telah meningkatkan rasa takut dan membuat penting bahwa mereka mendukung bahkan lebih sah. Dehumanisasi ini bisa meningkat pada abad kedua puluh satu. Daripada mendidik anak untuk masyarakat tertentu, tantangan akan memastikan bahwa setiap orang selalu memiliki sumber daya pribadi dan alat-alat intelektual yang diperlukan untuk memahami dunia dan berperilaku sebagai makhluk berpikiran adil, manusia yang bertanggung jawab. Lebih dari sebelumnya, tugas penting pendidikan tampaknya untuk memastikan bahwa semua orang menikmati kebebasan berpikir, perasaan penghakiman, dan imajinasi untuk mengembangkan bakat mereka dan menjaga kontrol dari sebanyak hidup mereka karena mereka dapat.
Ini bukan hanya menangis untuk individualisme. Pengalaman baru-baru ini telah menunjukkan bahwa apa yang bisa muncul hanya sebagai mekanisme pertahanan pribadi terhadap sistem mengasingkan atau sistem dianggap bermusuhan, juga menawarkan kesempatan terbaik untuk membuat kemajuan sosial. Kepribadian perbedaan, kemandirian dan inisiatif pribadi atau bahkan tugas untuk mengacaukan tatanan mapan adalah jaminan terbaik dari kreativitas dan inovasi. Penolakan terhadap impor teknologi tinggi model, yang memanfaatkan bentuk tersirat tradisional pengetahuan dan pemberdayaan merupakan faktor yang efektif dalam pembangunan endogen. Metode baru telah berevolusi dari percobaan di tingkat masyarakat lokal. Efektivitas mereka dalam mengurangi kekerasan atau memerangi berbagai masalah sosial secara luas diakui.
Saya na dunia yang sangat tidak stabil di mana salah satu kekuatan pendorong utama tampaknya menjadi inovasi ekonomi dan sosial, imajinasi dan kreativitas pasti harus diberikan tempat khusus. Sebagai ungkapan paling jelas dari kebebasan manusia, mereka mungkin terancam oleh pembentukan tingkat tertentu keseragaman dalam perilaku individu. Abad kedua puluh satu akan membutuhkan berbagai variasi bakat dan kepribadian bahkan lebih daripada individu yang sangat berbakat, yang sama-sama penting dalam setiap masyarakat. Baik anak-anak dan orang muda harus ditawarkan setiap kesempatan untuk estetika, seni, penemuan ilmiah, budaya dan sosial dan eksperimentasi, yang akan melengkapi presentasi yang menarik dari prestasi generasi sebelumnya atau sezaman mereka di bidang ini. Di sekolah, seni dan puisi harus mengambil tempat yang jauh lebih penting daripada mereka diberikan di banyak negara dengan pendidikan yang telah menjadi lebih utilitarian dari budaya. Keprihatinan dengan mengembangkan imajinasi dan kreativitas juga harus mengembalikan nilai budaya lisan dan pengetahuan yang diambil dari anak-anak atau orang dewasa pengalaman '.
All rights reserved. Informasi ini dapat secara bebas digunakan dan disalin untuk pendidikan dan lainnya tujuan non komersial, dengan ketentuan bahwa setiap reproduksi data harus disertai dengan pengakuan dari UNESCO sebagai sumber. Penggunaan lainnya dari informasi memerlukan izin dari UNESCO dan permintaan harus diarahkan kepada Satuan Tugas tentang Pendidikan untuk Abad Twenty-pertama.

Pendidikan yang Membebaskan, Pendidikan Kaum Tertindas

Realitas Pendidikan di Indonesia & Penindasan

Keadaan banyak masyarakat di negeri kita masih berada pada masa kehidupan yang sulit, begitu pula kita sebagai bangsa meski sudah enam dekade kita merdeka. Pendidikan yang diharapkan mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat dan bangsa pun dalam banyak bentuk hanya menjadi wahana transfer of knowledge belaka, dan seperti kata Freire membelenggu, karena pendidikan disetting hanya untuk memenuhi aspek kepentingan pasar, sehingga gagal menghadapi dinamika perubahan sosial yang ada dan senantiasa dipecundangi oleh kepentingan penguasa pasar.
Pada situasi inilah kita benar-benar membutuhkan pendidikan yang mampu memerdekakan dengan idealisme dan semangat juang untuk tidak mau menjadi pecundang agar dapat menularkan paradigma itu pada siswanya, penerus negeri ini di masa depan dengan pembelajaran yang dia berikan agar negeri ini tidak lagi menjadi pecundang.
Sejatinya, pendidikan adalah pembebasan pembebasan dari belenggu kemiskinan,  penindasan, dan kebodohan sehingga manusia menjadi manusia yang seutuhnya bebas merdeka merdeka dalam berpikir, bersuara, dan bertindak pendidikan adalah upaya pengenalan diri mengenal potensi diri, jalan hidup, dan tujuan hidup untuk melayani dan mengabdikan diri bagi kehidupan supaya kehadirannya di dunia ini mempunyai makna pendidikan adalah fondasi dan simbol kekuatan benteng fondasi bangunan bangsa.
Karena itu, Pendidikan yang membebaskan harus dapat membongkar penindasan yang terjadi karena sistem pendidikan yang malah mendehumanisasi manusia. Proses pendidikan kita saat ini dalam kaca mata freirean secara tidak sadar menindas dan membelenggu karena pendidikan kita makin jauh dari realitas atau ani realitas. Pendidikan kita tidaklah berangkat dari satu realitas masyarakat didalamnya, bahkan dapat dikatakan jauh dari realitas. Sebagai contoh, realitas kehidupan kita sebagian besar ada di pedesaan dan bekerja di ladang pertanian. Tetapi, kenyataan tersebut tidak digarap dengan baik di setiap jenjang pendidikan kita, baik dalam proses pembelajaran maupun dalam kegiatan riset.
Realitas ekonomi masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih berada dalam kategori miskin dan terbelakang tidak dijadikan bahan pijakan untuk menentukan sistem pendidikan di Indonesia. Sekolah sekarang lebih mirip sebagai industri kapitalis daripada sebagai pengemban misi sosial kemanusiaan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, seperti yang tercantum dalam konstitusi bangsa
. Fungsi sekolah yang sejatinya mengemban misi agung sebagai pencerdas kehidupan bangsa, kini tak ubahnya lahan bisnis untuk memperoleh keuntungan. Akibatnya, hanya kelompok elit sosial-lah yang yang mendapatkan pendidikan cukup baik. Kaum miskin menjadi kaum marjinal secara terus-menerus. Merekalah yang disebut Paulo Freire sebagai “korban penindasan”.
Proses penindasan yang sudah mewabah dalam berbagai bidang kehidupan semakin mendapat legitimasi lewat sistem dan metode pendidikan yang paternalistik, murid sebagai obyek pendidikan, intruksisional dan anti dialog. Dengan demikian, pendidikan pada kenyataannya tidak lain daripada proses pembenaran dari praktek-praktek yang melembaga. Secara ekstrim Freire menyebutkan bahwa sekolah tidak lebih dari penjinakan. Digiring kearah ketaatan bisu, dipaksa diam dan keharusannya memahami realitas diri dan dunianya sebagai kaum yang tertindas. Bagi kelompok elit sosial, kesadaran golongan tertindas membahayakan keseimbangan struktur masyarakat hierarkis piramidal. (http://www.kawanusa.co.id/news-detail.php?id=27)

Pendidikan Gaya Bank
Menurut Paolo Freire, mengungkapkan bahwa proses pendidikan – dalam hal ini hubungan guru-murid – di semua tingkatan identik dengan watak bercerita. Murid lebih menyerupai bejana-bejana yang akan dituangkan air (ilmu) oleh gurunya. Karenanya, pendidikan seperti ini menjadi sebuah kegiatan menabung. Murid sebagai “celengan” dan guru sebagai “penabung”. Secara lebih spesifik, Freire menguraikan beberapa ciri dari pendidikan yang disebutnya model pendidikan “gaya bank” tersebut:
  1. Guru mengajar, murid diajar.
  2. Guru mengetahui segala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa.
  3. Guru berpikir, murid dipikirkan.
  4. Guru bercerita, murid mendengarkan.
  5. Guru menentukan peraturan, murid diatur.
  6. Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menyetujui.
  7. Guru berbuat, murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan gurunya.
  8. Guru memilih bahan dan ini pelajaran, murid (tanpa diminta pendapatnya) menyesuaikan diri dengan pelajaran itu.
  9. Guru mencampuradukan kewenangan ilmu pengetahuan dan kewenangan jabatannya, yang ia lakukan untuk menghalangi kebebasan murid.
  10. Guru adalah subyek dalam proses belajar, murid adalah obyek belaka.
(Najip, 2003)

Sistem Pendidikan
Proses pendidikan baik formal maupun nonformal pada dasarnya memiliki peran penting untuk melegitimasi bahkan melanggengkan sistem dan struktur sosial yang ada. Namun juga sebaliknya, dapat merupakan proses perubahan sosial menuju kehidupan yang lebih adil. Peran pendidikan terhadap sistem dan struktur sosial tersebut sangat bergantung pada paradigma pendidikan yang mendasarinya. Dalam Fakih (2001), dijelaskan paradigma tersebut:
  1. Paradigma Konservatif
Bagi kaum konservatif, ketidaksederajatan masyarakat merupakan suatu hukum keharusan alami, suatu hal yang mustahil dihindari (takdir), bahwa memang ada masalah di masyarakat, Tetapi bagi mereka, pendidikan tidak ada kaitannya dengan persoalan politik dan ekonomi masyarakat. Dengan keyakinan seperti itu, tugas pendidikan juga tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan politik dan ekonomi. Karena itu paradigma pendidikan yang lebih berorientasi pada pelestarian dan penerusan pola-pola kemapanan sosial serta tradisi. Paradigma pendidikan konservatif sangat mengidealkan masa silam sebagai hal yang ideal dalam pendidikan.
  1. Paradigma Liberal
Kaum liberal selalu berusaha untuk menyesuaikan pendidikan dengan keadaan ekonomi dan politik di luar dunia pendidikan, dengan jalan memecahkan berbagai masalah yang ada dalam pendidikan dengan usaha reformasi kosmetik. Konsep pendidikan dalam tradisi liberal berakar dari cita-cita Barat tentang individualisme. Karenanya pendidikan yang berorientasi mengarahkan peserta didik pada prilaku-prilaku personal yang efektif, dengan mengejar prestasi individual. Sehingga yang terjadi adalah persaingan individual yang akan mengarahkan peserta didik pada individualisme dan tidak melihat pendidikan sebagai proses pengembangan diri secara kolektif.
  1. Paradigma Kritis
Paradigma kritis menghendaki perubahan struktur secara fundamental dalam politik ekonomi masyarakat di mana pendidikan berada kritis dalam pendidikan melatih murid untuk mampu mengidentifikasi ‘ketidakadilan’ dalam sistem dan struktur yang ada, kemudian mampu melakukan analisis tentang proses kerja sistem dan struktur, serta bagaimana mentransformasikannya. Tugas pendidikan dalam paradigma kritis adalah menciptakan ruang dan kesempatan agar peserta pendidikan terlibat dalam suatu proses penciptaan struktur yang secara fundamental baru dan lebih baik.
Implikasi Pada Tingkat Kesadaran
Implikasi ketiga pandangan pendidikan tersebut terhadap metodologi pendekatan pendidikan dapat dilihat dari analisis Freire (1970) yang membagi ideologi pendidikan dalam tiga kerangka yang didasarkan pada kesadaran ideologi masyarakat. Proses dehumanisasi terbangun dalam kesadaran yang dibangun manusia  sendiri:
  1. Kesadaran Magis
Yaitu jenis kesadaran yang tak mampu mengkaitkan antara satu faktor dengan faktor lainnya sebagai hal yang berkaitan. Kesadaran magis lebih melihat faktor diluar kesadaran manusia sebagai penyebab dari segala kejadian. Hasil dari paradigma konservatif.
  1. Kesadaran Naif
Yaitu jenis kesadaran ini menganggap aspek manusia secara individulah yang menjadi penyebab dari akar permasalahan. Hasil dari paradigma liberal.
  1. Kesadaran Kritis
Yaitu jenis kesadaran yang melihat realitas sebagai satu kesatuan yang kompleks dan saling terkait satu sama lain. Hasil dari paradigma kritis.
(Sulaiman, 2010)

Pendidikan Hadap Masalah untuk Transformasi Sosial
Bagi penganut mazhab Freirean, hakekat pendidikan yang membebaskan dapat dicapai dengan dengan membangkitkan kesadaran kritis. Visi kritis pendidikan terhadap sistem yang dominan sebagai pemihakan terhadap rakyat kecil dan yang tertindas untuk mencipta sistem sosial baru dan lebih adil, selalu menjadi agenda pendidikan. Dalam perspektif kritis, pendidikan harus mampu menciptakan ruang untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas dan kritis untuk transformasi sosial. Dengan kata lain tugas utama pendidikan adalah ‘memanusiakan’ kembali manusia yang mengalami “dehumanisasi” karena sistem dan struktur yang tidak adil.
Dalam mentransformasikan gagasan tersebut menjadi metode praksis pembelajaran, khususnya secara pedagogis. Freire menawarkan bahwa sesungguhnya pendidikan semestinya dilakukan secara dialogis. Proses dialogis ini merupakan satu metode yang masuk dalam agenda besar pendidikan Paulo Freire yang disebutnya sebagai proses penyadaran (konsientisasi) atas realitas timpang yyang sedang terjadi di lingkungannya dalam hal ini disebiut pendidikan hadap masalah sebagai antitesis pendidikan gaya bank.
Pada pendidikan gaya bank, murid bisa menjadi objek yang ditentukan oleh guru, sehingga realitas menjadi jauh. Bagi Freire, guru dan murid sama-sama subjek sadar dari sebuah pendidikan, dan realitas adalah objeknya, guru hendaknya menjadi seorang fasilitator, motivator, teman, dan transformator dalam proses bersama murid secara dialogis menemukan kesadaran atas realitas dan masalah yang sebenarnya dihadapi tidak hanya menghafal materi yang sudah diciptakan, tapi memahami. Atas kesadaran bersama atas ketimpangan dan realitas itulah guru dan murid, dapat menjadi bagian dari sebuah transformasi sosial di lingkungannya.

Pemikiran & Praksis Pendidikan Kaum Tertindas di Indonesia
Semangat pendidikan yang membebaskan kaum tertindas tentunya memang diperlukan di negara dunia ketiga seperti Indonesia dimana ketimpangan sosial ekonomi dan pendidikan masih sangat tinggi, namun tentunya akan ada penyesuaian bagaimana konsep tersebut akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia. Pada kenyataannya, pemikiran mengenai pendidikan yang membebaskan juga telah jauh dikumandangakn banyak pemikir-pemikir Indonesia yang melihat kondisi masyarakat Indonesia khususnya pada masa perjuangan kemerdekaan, seperti pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara & Tan Malaka, pada masa kekinian pun dimana ketimpangan masih terjadi pendidikan-pendidikan alternatif juga bermunculan untuk membebaskan pendidikan dari belenggu penindasa.
  1. 1.      Ki Hajar Dewantara & Perguruan Taman Siswa
Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.
Tamansiswa adalah badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat yang menggunakan pendidikan dalam arti luas untuk mencapai cita-citanya. Bagi Tamansiswa, pendidikan bukanlah tujuan tetapi media untuk mencapai tujuan perjuangan, yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang merdeka lahir dan batinnya. Merdeka lahiriah artinya tidak dijajah secara fisik, ekonomi, politik, dsb; sedangkan merdeka secara batiniah adalah mampu mengendalikan keadaan.
Tamansiswa anti intelektualisme; artinya siapa pun tidak boleh hanya mengagungkan kecerdasan dengan mengabaikan faktor-faktor lainnya. Tamansiswa mengajarkan azas keseimbangan (balancing), yaitu antara intelektualitas di satu sisi dan personalitas di sisi yang lain. Maksudnya agar setiap anak didik itu berkembang kecerdasan dan kepribadiannya secara seimbang.
Tujuan pendidikan Tamansiswa adalah membangun anak didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, merdeka lahir batin, luhur akal budinya, cerdas dan berketerampilan, serta sehat jasmani dan rohaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air, serta manusia pada umumnya.
Pendidikan Tamansiswa dilaksanakan berdasar Sistem Among, yaitu suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan. Sistem Among tersebut berdasarkan cara berlakunya disebut Sistem Tutwuri Handayani. Dalam sistem ini orientasi pendidikan adalah pada anak didik, yang dalam terminologi baru disebut student centered. Di dalam sistem ini pelaksanaan pendidikan lebih didasarkan pada minat dan potensi apa yang perlu dikembangkan pada anak didik, bukan pada minat dan kemampuan apa yang dimiliki oleh pendidik.
Pendidikan Tamansiswa berciri khas Pancadarma, yaitu Kodrat Alam (memperhatikan sunatullah), Kebudayaan (menerapkan teori Trikon), Kemerdekaan (memperhatikan potensi dan minat maing-masing indi-vidu dan kelompok), Kebangsaan (berorientasi pada keutuhan bangsa dengan berbagai ragam suku), dan Kemanusiaan (menjunjung harkat dan martabat setiap orang).

  1. 2.      Tan Malaka & Sarekat Islam School
Sarekat Islam (SI) School didirikan Tan Malaka pada tahun 92. Berdirinya SI School pada masa menentang kolonial Belanda memiliki maksud memberikan pendidikan alternatif atas pendidikan Belanda di negeri ini atas dasar politik etis yang tidak sesuai realitas dan menindas. Landasan pemikiran Tan Malaka adalah: Kekuasaan Kaum Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan dan Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan. Tujuan Sekolah ini seperti tercantum dalam buku Tan Malaka SI Semarang dan Onderwijs (1921):
  1. Memberi senjata cukup, buat pencari penghidupan dalam dunia kemodalan (berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa Belanda, Jawa, Melayu, dsb).
  2. Memberi Haknya murid-murid, yakni kesukaan hidup, dengan jalan pergaulan (verenniging)/organisasi.
  3. Menunjukan kewajiban kelak, terhadap pada berjuta-juta Kaum Kromo. Bahwa, murid-murid kita kelak jangan hendaknya lupa pada berjuta-juta Kaum Kromo, yang hidup dalam kemelaratan dan kegelapan. Bukanlah seperti pemuda-pemuda yang keluar dari sekolah-sekolah biasa (Gouvernement) campur lupa dan menghina bangsa sendiri.
Metode yang digunakan:
  1. Di sekolah anak-anak SI mendirikan dan menguruskan sendiri pelbagai-bagai vereeniging, yang berguna buat lahir dan batin (kekuatan badan dan otak). Dalam urusan vereeniging-vereeniging tadi anak-anak itu sudah belajar membikin kerukunan dan tegasnya sudah mengerti dan merasa lezat pergaulan hidup.
  2. Di sekolah diceritakan nasibnya Kaum Melarat di Hindia dan dunia lain, dan juga sebab-sebab yang mendatangkan kemelaratan itu. Selainnya dari pada itu kita membangunkan hati belas kasihan pada kaum terhina itu, dan berhubung dengan hal ini, kita menunjukkan akan kewajiban kelak, kalau ia balik, ialah akan membela berjuta-juta kaum Proletar.
  3. Dalam vergadering SI dan Buruh, maka murid-murid yang sudah bisa mengerti, diajak menyaksikan dengan mata sendiri suaranya kaum Kromo, dan diajak mengeluarkan pikiran atau perasaan yang sepadan dengan usianya (umur), pendeknya diajak berpidato.
  4. Sehingga, kalau ia kelak menjadi besar, maka perhubungan pelajaran sekolah SI dengan ikhtiar hendak membela Rakyat tidak dalam buku atau kenang-kenangan saja, malah sudah menjadi watak dan kebiasannya masing-masing.
Singkatnya, Dalam praktek pendidikan di SI School, Tan Malaka mempraktekkan pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia. Murid yang bersekolah di sana diberikan hak-hak hidup “sebenarnya”, yakni kebebasan memilih dan mengeluarkan ekspresi minat dan bakatnya berupa lingkungan pendidikan yang sosial. Tan Malaka menolak adanya praktik diktator dari guru yang melarang murid untuk mengikuti kegiatan keorganisasian. Cara ini dilakukan agar murid mampu mengembangkan potensi dan menemukan kepercayaan dirinya.

  1. 3.      Romo Mangun & SD Mangunan
Sekolah Dasar Mangunan didirikan pada 1994 untuk menerapkan ide-ide mendiang Romo Mangunwijaya. Sekolah ini menampung anak-anak jalanan, gelandangan, dan anak petani atau buruh. Mereka dididik dengan metode pendidikan modern yang lebih interaktif dan jauh dari indoktrinasi dengan mengadopsi muatan-muatan lokal.
SD Mangunan tidak banyak membebani murid-muridnya. Siswa hanya ditarik uang bulanan sebesar Rp 500 hingga Rp 1.000 tanpa ada biaya lain. Itu pun hanya sebagai bentuk partisipasi agar orang tua dan siswa merasa memiliki sekolah tersebut.
Pemikiran Pendidikan Romo Mangun menegaskan pendidikan harus mampu mengasah daya eksplorasi, kreativitas, dan nalar integral anak. Ketiga kata itu;
  1. kata pertama, eksploratif. Kira-kira maksudnya membuat peserta didik senang mencari dan meneliti. Kaum periferi secara ekonomi sulit untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, oleh karena itu sejak usia muda mereka sudah harus dilatih untuk selalu mengasah rasa ingin tahu supaya dengan modal pendidikan dasar yang mereka miliki, rasa ingin tahunya bisa menuntun membantu mereka untuk,
  2. kata kedua, kreatif. Latih mereka menjadi manusia-manusia yang pintar mencipta. Kemampuan berkreasi mereka akan sangat membantu nantinya begitu “bersentuhan” langsung dengan kehidupan. Karena dengan jiwa kreator, sesorang akan tidak-akan pernah kehabisan ide untuk mencipta. Bagi anak yang lemah secara ekonomi jiwa kreator akan menjadi “modal” buat masa depannya, sedangkan bagi anak yang berbakat dan mampu secara ekonomi, jiwa kreator ini dimanfaatkan untuk kemajuan diri dan masyarakat.
  3. Kata ketiga, integral. Yang berkembang bukan hanya kemampuan kognitif intelektualitas perserta didik, tapi juga tidak boleh lupa untuk mengembangkan bakat-bakat lain seperti seni, olahraga, bahasa, budi pekerti, moral, citarasa, religiusitas, kesosialan, politik, dll.
(Batubara, 2003)

4. SMP Alternatif Qaryah Thayyibah
Sekolah Laernaif ini merupakan komunitas belajar yang awalnya didirikan oleh Serikat Petani Qaryah Thayyibah (SPQT) di Kalibening, Salatiga. Awalnya sekolah ini menjadi tempat belajar bagi anak petani di desa itu yang kekurangn biaya untuk sekolah. Metode yang digunakan sekolah alternatif ini bisa dibilang menakjubkan.
Hasil penelitian Susanto (2008) ini menunjukkan bahwa penerapan metode dialogis versi Paulo Freire dalam pembelajaran SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah terbagi menjadi 6 bagian, antara lain
(1) Perencanaan pembelajaran atau kurikulum yang digunakan SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah tidak berbeda dengan SLTP lain, karena sama-sama menggunakan kurikulum nasional (paket B). Kurikulum Paket B di SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah hanya dijadikan referensi dengan menekankannya pada model pendidikan alternatif yaitu: penekanan pemilihan persoalan yang bebas, penentuan kegiatan pembelajaran bersama, pemberian ijin kepada setiap individu menentukan pusat perhatian sendiri dalam belajar, dan setiap siswa memiliki kebebasan dalam menentukan sifat maupun isi apa yang dipelajarinya sendiri. Disini siswa mencari arti pengetahuan lewat dialog dengan fasilitator maupun dengan kawan-kawannya.
(2) Penentuan materi pembelajaran SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah dilakukan bersama-sama antara guru dan siswa diawal semester melalui dialog yang menjadi salah satu unsur yang sangat fundamental dalam pendidikan, sedangkan pokok bahasannya ditentukan sendiri oleh setiap siswa.
(3) Metode pembelajaran SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah menerapkan metode pendidikan hadap masalah, kegiatan pembelajaran selalu dimulai dengan dialog mengemukakan persoalan kepada siswa. Siswa dihadapkan langsung oleh guru pada masalah-masalah yang terjadi di lingkungan sekitar, sehingga siswa harus memberikan solusi dari masalah tersebut. (4) Kegiatan evaluasi pembelajaran di SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah bersumber pada diri siswa sendiri. Evaluasi murni dilihat dari hasil karya siswa, sedangkan sistem raportnya dibuat sendiri oleh siswa yang berisi pernyataan siswa tentang apa yang sudah dipelajari selama satu semester dan hasil karya yang dihasilkan selama satu semester. Hasil karya dan pernyataan siswa tersebut kemudian didiskusikan didepan guru dan teman-teman sekelasnya. (5) Interaksi antara guru dengan siswa di SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah berjalan dengan sangat harmonis. Semua guru di sekolah ini menempatkan dirinya sebagai sahabat, teman diskusi sekaligus fasilitator bagi siswa, sedangkan siswa menempatkan diri sebagai subyek yang harus aktif dalam proses pembelajarannya.
(6) Interaksi antara SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah dengan orang tua siswa dan masyarakat sekitar terjalin dalam suasana persahabatan. SLTP ini menggunakan kaidah lokalitas, dimana guru, siswa dan pengelola sekolah paham, mengetahui serta menyatu dengan persoalan sosial dimana pendidikan ini berada.

Kesimpulan
  1. Pendidikan yang membebaskan adalah pembebasan dari belenggu kemiskinan,  penindasan, dan kebodohan sehingga manusia menjadi manusia yang seutuhnya bebas merdeka merdeka dalam berpikir, bersuara, dan bertindak pendidikan adalah upaya pengenalan diri mengenal potensi diri, jalan hidup, dan tujuan hidup untuk melayani dan mengabdikan diri bagi kehidupan supaya kehadirannya di dunia ini mempunyai makna bagi transformasi masyarakatnya.
  2. Memahami pendidikan yang membebaskan harus dengan memahami realitas penindasan struktural yang terjadi melalui belenggu sistem pendidikan yang tidak adil.
  3. Pendidikan memiliki beberapa paradigma, paradigma konservatif dan liberal cenderung membelenggu dan mempertahankan proses penindasan yang terjadi, maka pendidikan secara kritis yang melihat hubungan struktural yang menyebabkan permasalahn sosial menjadi landasan pendidikan yang membebaskan.
  4. Semangat pendidikan yang membebaskan telah sejak lama hadir di negeri ini melalui para tokoh-tokoh pemikir bangsa yang berjuang memerdekakan bangsa Indonesia melalui pendidikan.
  5. Pendidikan yang membebaskan tentunya dalam penerapannya di negeri ini, berangkat dan menyesuaikan dengan nilai-nilai negeri ini.
Daftar Pustaka
Susanto, Arif. (2008). Penerapan metode dialogis versi Paulo Freire dalam pembelajaran (Studi kasus pada SLTP alternatif Qaryah Thayyibah Desa Kalibening Kotamadya Salatiga Jawa Tengah). Malang: Digilib UNM. Sumber: http://library.um.ac.id/free-contents/index.php/pub/detail/penerapan-metode-dialogis-versi-paulo-freire-dalam-pembelajaran-studi-kasus-pada-sltp-alternatif-qaryah-thayyibah-desa-kalibening-kotamadya-salatiga-jawa-tengah-arif-susanto-35480.html
Batubara, Bosman. (2003). PENDIDIKAN KITA: Sebuah Diagnosa Terhadap Romo Mangun, dan Romo Mangun Sebagai Sebuah Diagnosa Terhadap “busuk-busuk” Pendidikan Nusantara. LSM Insan: bahan diskusi. Sumber: http://pmiisleman.or.id/pendidikan-kita-sebuah-diagnosa-terhadap-romo-mangun-dan-romo-mangun-sebagai-sebuah-diagnosa-terhadap-%E2%80%9Cbusuk-busuk%E2%80%9D-pendidikan-nusantara/#_edn13
Malaka, Ibrahim Sutan. (1921). SI Semarang dan Onderwijs. Marxist.org. Sumber: http://marxists.org/indonesia/archive/malaka/1921-SISemarang.htm
Sujatmoko, Ivan. (2011). Sejarah Taman Siswa. Sumber: http://pendidikan4sejarah.blogspot.com/2011/05/sejarah-taman-siswa.html
Berita: Liputan6. (2005). SD Mangunan, Sekolah Rakyat Miskin. Sumber: http://news.liputan6.com/read/105799/sd-mangunan-sekolah-rakyat-miskin
Sulaiman, Syuaib. (2010). Paradigma Pendidikan dalam Persepektif Pendidikan Islam. Polewali Mandar: Data Studi. Sumber: http://datastudi.wordpress.com/2010/12/07/paradigma-pendidikan-dalam-perspektif-pendidikan-islam/
Najip, Ahmad. (2003). Nilai Pedagogis Paulo Freire Dan Masa Depan Pendidikan. Sumber: http://digoel.wordpress.com/2008/01/03/nilai-pedagogis-paulo-freire-dan-masa-depan-pendidikan/
Fakih, Mansour., dkk., (2001) Pendidikan Popular: Membangun Kesadaran Kritis.  ReaD Books: Yogyakarta

Jumat, 01 Maret 2013

Learning to do

Belajar untuk melakukan
T pertanyaannya terkait erat dengan isu pelatihan kerja: bagaimana kita beradaptasi pendidikan sehingga dapat membekali orang untuk melakukan jenis pekerjaan yang dibutuhkan di masa depan? Di sini kita harus membedakan antara ekonomi industri, di mana kebanyakan orang pencari nafkah, dan negara lain di mana wirausaha atau pekerjaan kasual masih norma.
Dalam masyarakat di mana kebanyakan orang dalam pekerjaan yang dibayar, yang telah dikembangkan sepanjang abad duapuluh berdasarkan pada model industri, otomatisasi membuat model ini semakin "intangible". Ini menekankan komponen pengetahuan dari tugas, bahkan dalam industri, serta pentingnya jasa dalam perekonomian. Masa depan ekonomi ini bergantung pada kemampuan mereka untuk mengubah kemajuan dalam pengetahuan menjadi inovasi yang akan menghasilkan bisnis baru dan pekerjaan baru. "Belajar untuk melakukan" tidak bisa lagi berarti apa yang dilakukannya ketika orang-orang dilatih untuk melakukan tugas fisik yang sangat spesifik dalam proses manufaktur. Pelatihan keterampilan sehingga harus berkembang dan menjadi lebih dari sekedar sarana menyampaikan pengetahuan yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan yang lebih atau kurang rutin.
Dari keterampilan bersertifikat kompetensi pribadi
T ia bagian utama dimainkan oleh pengetahuan dan informasi dalam industri manufaktur membuat usang gagasan ketrampilan khusus pada bagian dari angkatan kerja. Konsep utama sekarang adalah salah satu dari "kompetensi pribadi". Kemajuan teknologi pasti mengubah keterampilan kerja yang diperlukan oleh proses produksi baru. Tugas fisik yang murni digantikan oleh tugas-tugas dengan isi intelektual atau otak yang lebih besar, seperti operasi, pemeliharaan dan pemantauan mesin dan tugas desain dan organisasi, sebagai mesin sendiri menjadi lebih cerdas.
Ada beberapa alasan untuk ini peningkatan persyaratan keterampilan di semua tingkatan. Bukannya diselenggarakan untuk melakukan tugas-tugas yang ditentukan dalam penjajaran sesuai dengan prinsip Taylor organisasi buruh ilmiah, pekerja manufaktur sering dibagi menjadi tim kerja atau kelompok proyek pada model Jepang. Pendekatan ini merupakan keberangkatan dari ide membagi pekerjaan ke dalam tugas fisik yang sama yang pada dasarnya dipelajari oleh pengulangan. Selain itu, ide tugas pribadi yang mengambil alih dari yang pertukaran karyawan. Ada tren yang berkembang di kalangan pengusaha untuk mengevaluasi karyawan potensial dalam hal kompetensi pribadi mereka daripada keterampilan bersertifikat yang mereka lihat sebagai hanya menunjukkan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas fisik tertentu. Ini kompetensi pribadi dinilai dengan melihat campuran keterampilan dan bakat, menggabungkan keterampilan bersertifikat yang diperoleh melalui pelatihan teknis dan kejuruan, perilaku sosial, inisiatif pribadi dan kemauan untuk mengambil risiko.
Jika kita menambahkan permintaan untuk komitmen pribadi pada bagian dari karyawan dalam peran mereka sebagai agen perubahan, jelaslah bahwa jenis kompetensi pribadi melibatkan kualitas bawaan atau diperoleh sangat subjektif, sering disebut sebagai "keterampilan orang" atau "keahlian interpersonal" oleh majikan, dikombinasikan dengan pengetahuan dan keterampilan kerja lainnya. Kualitas ini, komunikasi, tim dan pemecahan masalah keterampilan mengasumsikan kepentingan yang lebih besar. Pertumbuhan industri jasa telah mengakibatkan peningkatan tren ini.
Pergeseran dari pekerjaan fisik - industri jasa
Aku n negara maju ada pergeseran dari pekerjaan fisik. Implikasi dari tren ini untuk pendidikan yang lebih jelas jika kita melihat perkembangan industri jasa baik secara kuantitatif dan kualitatif. Sebagian besar penduduk aktif (60 - 80 persen) dari negara-negara industri yang bekerja di sektor jasa. Mendefinisikan karakteristik utama dari kategori ini sangat luas adalah bahwa hal itu mencakup kegiatan yang tidak industri atau pertanian dan yang, meskipun keragaman mereka, tidak melibatkan produk nyata.
Banyak layanan didefinisikan terutama dalam hal hubungan interpersonal yang terlibat. Contoh ini ditemukan baik di sektor jasa berkembang pesat swasta yang mendapatkan manfaat dari kompleksitas pertumbuhan ekonomi (setiap jenis keahlian dinas keamanan dibayangkan, atau jasa konsultasi teknologi tinggi, jasa keuangan, akuntansi dan manajemen) dan di lebih tradisional sektor publik (pelayanan sosial, kesehatan dan pelayanan pendidikan, dll). Dalam kedua kasus ini, informasi dan komunikasi memainkan peran penting. Aspek kunci di sini adalah akuisisi pribadi dan pengolahan data yang spesifik untuk proyek yang jelas. Dalam layanan jenis ini, baik penyedia dan pengguna mempengaruhi kualitas hubungan antara mereka. Jelas, orang tidak dapat lagi dilatih untuk pekerjaan semacam ini dalam cara yang sama seperti mereka belajar bagaimana untuk membajak tanah atau membuat lembaran baja. Ini pekerjaan baru adalah tentang hubungan interpersonal, hubungan pekerja dengan bahan dan proses yang mereka gunakan adalah sekunder. Sektor jasa tumbuh membutuhkan orang-orang dengan keterampilan sosial dan komunikasi yang baik - keterampilan yang belum tentu diajarkan di sekolah atau universitas.
Terakhir, dalam teknologi tinggi organisasi ultra masa depan, di mana kekurangan dapat menyebabkan disfungsi relasional yang serius, jenis baru dari keterampilan akan diperlukan, dengan antarpribadi ketimbang secara intelektual. Hal ini dapat memberikan kesempatan bagi orang-orang dengan sedikit atau tanpa kualifikasi pendidikan formal. Intuisi, akal sehat, penilaian dan keterampilan kepemimpinan tidak terbatas pada orang-orang yang sangat berkualitas. Bagaimana dan di mana keterampilan bawaan lebih atau kurang untuk diajarkan? Masalahnya adalah mirip dengan yang diajukan oleh gagasan pelatihan kejuruan di negara-negara berkembang. Konten pendidikan tidak bisa disimpulkan dari pernyataan keterampilan atau kemampuan yang diperlukan untuk tugas-tugas tertentu.
Pekerjaan di sektor informal,
T ia sifat pekerjaan sangat berbeda dalam perekonomian negara-negara berkembang di mana kebanyakan orang bukanlah penghasil upah. Di banyak negara sub-Sahara Afrika dan beberapa negara Amerika Latin dan Asia, hanya sebagian kecil dari populasi adalah dalam pekerjaan dibayar. Sebagian besar bekerja dalam ekonomi subsisten tradisional, di mana kualifikasi pekerjaan tertentu yang tidak diperlukan dan mana pengetahuan adalah buah dari pengetahuan tacit. Untuk alasan ini, pendidikan tidak bisa hanya dimodelkan pada jenis pendidikan yang tampaknya sesuai dengan tagihan dalam masyarakat pasca-industri. Selain itu, fungsi pembelajaran tidak terbatas untuk bekerja, melainkan harus memenuhi tujuan yang lebih luas untuk mencapai partisipasi formal atau informal dalam pembangunan. Hal ini sering kali melibatkan keterampilan sosial sebanyak keterampilan kerja.
Di negara-negara berkembang lainnya, ekonomi modern yang berkembang tidak resmi berdasarkan perdagangan dan keuangan mungkin ada di samping sektor ekonomi kecil resmi dan pertanian. Ini ekonomi paralel menunjukkan adanya komunitas bisnis mampu memenuhi kebutuhan lokal.
Dalam kedua kasus ini, tidak ada gunanya dalam menyediakan penduduk dengan biaya tinggi pelatihan (karena guru dan sumber daya pendidikan harus datang dari luar negeri) baik dalam keterampilan industri konvensional atau teknologi canggih. Sebaliknya, pendidikan harus dibawa ke dalam pembangunan endogen dengan memperkuat potensi lokal dan semangat pemberdayaan.
Kami kemudian harus menjawab pertanyaan yang berlaku untuk negara maju dan berkembang: bagaimana orang belajar untuk bertindak secara tepat dalam situasi yang tidak pasti, bagaimana mereka terlibat dalam membentuk masa depan?
Bagaimana orang bisa siap untuk berinovasi?
T pertanyaannya sedang ditanyakan di negara-negara berkembang dan negara maju. Pada dasarnya turun untuk mengetahui bagaimana mengembangkan inisiatif pribadi. Paradoksnya, negara-negara terkaya terkadang menahan diri dalam hal ini dengan cara berlebihan kode dan formal mereka terorganisir, terutama dalam hal sistem pendidikan mereka, dan oleh ketakutan tertentu pengambilan risiko yang dapat ditimbulkan oleh rasionalisasi model ekonomi mereka. Tidak diragukan lagi, olahraga, keanggotaan klub dan kegiatan seni dan budaya yang lebih berhasil daripada sistem sekolah tradisional untuk memberikan pelatihan semacam ini. Penemuan masyarakat lain melalui studi dan perjalanan dapat mendorong perilaku tersebut. Dari sudut pandang ini pada khususnya, banyak dapat dipelajari dengan mengamati perekonomian negara-negara berkembang.
Di semua negara, terakhir, semakin pentingnya kelompok-kelompok kecil, jaringan dan kemitraan menyoroti kemungkinan bahwa keterampilan interpersonal yang sangat baik akan menjadi persyaratan pekerjaan yang penting dari sekarang. Terlebih lagi, pola kerja baru, baik dalam industri atau di sektor jasa, akan memanggil untuk aplikasi intensif informasi, pengetahuan dan kreativitas. Semua hal dipertimbangkan, bentuk-bentuk baru dari kompetensi pribadi didasarkan pada tubuh pengetahuan teoritis dan praktis dikombinasikan dengan dinamika pribadi dan baik pemecahan masalah, pengambilan keputusan, inovatif dan keterampilan tim.
All rights reserved. Informasi ini dapat secara bebas digunakan dan disalin untuk pendidikan dan lainnya tujuan non komersial, dengan ketentuan bahwa setiap reproduksi data harus disertai dengan pengakuan dari UNESCO sebagai sumber. Penggunaan lainnya dari informasi memerlukan izin dari UNESCO dan permintaan harus diarahkan kepada Satuan Tugas tentang Pendidikan untuk Abad Twenty-pertama.